Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Ketua OSIS sekaligus Tetangga



Irsyad kembali dari rumah Kila dengan ketetapan hatinya. Jika neneknya Kila yang meminta untuk menjaga Kila, pasti akan Irsyad lakukan. Jika diminta untuk menjadi imamnya pun, Irsyad akan melakukan karena bagaimanapun juga pesan itu merupakan wasiat. Irsyad juga mulai memperhatikan Kila lebih dekat seperti yang nenek ucapkan. Sekarang Irsyad malah seperti mencari sebuah pembenaran dari perasaannya selama ini yang ia rasakan pada Kila dengan berlandaskan wasiat dari nenek. Irsyad bukan hanya laki-laki yang tidak peka dengan perasaan orang lain tapi ia juga laki-laki yang tidak peka dengan perasaannya sendiri.


Masalah pertemuan waktu itu, Irsyad hanya menjelaskan ke Kila kedatangannya hanya ingin mengetahui bagaimana orang tuanya Kila. Ia tidak memilih menyampaikan sebuah pesan nenek itu, dan lagi mana mungkin Irsyad memberitahunya sedangkan Irsyad sendiri belum menerima pendapat dari orang tuanya Kila ingin dibagaimanakan pesannya itu. Dari penjelasan Irsyad itu, Kila menyimpulkan bahwa yang dibilang Risa waktu itu benar Irsyad hanya datang untuk melakukan ta'aruf dalam kata harfiahnya yaitu ingin mengenal orang tuanya, bukan yang seperti Ira bilang ingin lebih dekat dengan tujuan yang lebih serius lagi sampai mencalonkan menjadi mantu segala.


"Ra, kamu hari ini ini nggak bisa pulang di jam biasa, pulang ekskul, ya? Soalnya kan, kamu bilang ada camping di sekolah." Kila menanyakan itu saat Ira sedang sibuk-sibuknya menata barangnya untuk persami (perkemahan Sabtu Minggu) nanti. Ira sudah menyiapkan dari rumah, dan ia juga baru dari rumahnya untuk mengambilnya tepat setelah bel pulang sekolah. Karena barang bawaan lainnya masih banyak, Ira tidak membawa Kila sekaligus karena Ira pasti akan kembali lagi untuk mengambil sisanya.


"Aman, kok, tenang aja, Akil. Aku tadi dapat izin untuk ke rumah lagi untuk ngambil sisa barang yang dibutuhkan. Akil nggak mau buru-buru pulang, kan? Nanti selesai latihan ekskul, di jam biasanya, baru kita sama-sama pulangnya, oke?" jawab Ira. Kila memang lebih baik menunggu Ira selesai saja, daripada harus pulang lebih cepat. Ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah di kelas, tidak harus menunggu sampai di kamar kos yang sekarang ia sebut rumahnya.


"Oke, deh kalau gitu. Semangat ya!" ucap Kila menyemangati.


"Siap!" jawab Ira dengan semangat. Ira kembali mengatur persiapannya sembari menunggu jam latihan ekskul tiba.


...****************...


Kila sudah duduk di bangku dekat lapangan, karena ia tidak ingin membuat Ira yang menunggunya sedangkan Kila yang membutuhkan Ira. Namun, sudah lewat setengah jam dari waktu yang biasa, Ira tidak kunjung kemari karena ekskulnya belum selesai juga. Risa sudah pamit duluan karena sudah dijemput. Kila tidak meminta ikut dengan Risa karena arah rumah mereka berlawanan.


"Kamu nggak pulang, Kil?" seorang pria mengajak Kila bicara. Ia tidak segan-segan duduk di bangku yang sama dengan Kila, meski berjarak.


"E-e Kak Farhan. Lagi nungguin teman saya, Kak. Kakak sendiri nggak pulang?" tanya Kila balik pada pria itu yang ternyata adalah Farhan. Ia sedikit menggeser posisi duduknya untuk lebih menjauhi Farhan.


"Saya biasanya mengawasi ekskul di sini setelah OSIS selesai rapat. Itu bagian dari tugas saja juga sebagai ketua OSIS," jawab Farhan.


"Kamu mending balik, deh. Soalnya ekskul Pramuka kalau udah persami repot. Oiya, tadi saya juga lihat, teman kamu Ira izin ke pembinaannya untuk mengambil sisa barang waktu isoma ashar tadi. Kayaknya cuma dia aja yang belum membawa semua perlengkapan, sedangkan sebentar lagi acara formal mereka udah di gelar. Kayaknya dia nggak punya waktu lagi buat balik ke rumah, makanya dia curi waktu pas isoma ashar, disaat teman yang lainnya sholat disitulah Ira pergi dengan buru-buru. Dia juga nggak punya waktu untuk ngabarin kamu, soalnya handphone udah diserahkan semua ke pembina." Farhan memberitahu Kila apa yang ia tahu. Lagian, sejak kapan Farhan tahu teman yang ditunggu Kila itu Ira?


"Berarti, Ira nggak bisa izin untuk pulang lagi, lagian udah nggak ada barangnya lagi yang perlu di ambil. Kalau gitu, saya langsung pulang aja, deh. Makasih banyak ya, atas infonya, Kak," ucap Kila kemudian beranjak pergi meninggalkan Farhan. Ia juga mengabari Ira lewat pesan chat kalau dirinya sudah pulang duluan, jadi Ira tidak akan kecarian.


Kila berjalan menuju gerbang sekolah, belum sempat ia sampai di gerbang Farhan sedikit berteriak memanggil Kila.


"Iya, ada apa, Kak?" sahut Kila.


"Yuk, bareng saya aja. Rumah kita searah, daripada kamu pulang sendiri udah mau Maghrib juga dan gratis pula," tawar Farhan. Kila cukup terkejut dengan tawaran itu. Apalagi, berboncengan di motor dengan seorang pria.


"Kamu bisa lebih mundur sedikit ke belakang kalau nggak mau terlalu dekat sama saya. Lagian, kan, sama aja kayak Pak Irsyad yang nawarin tumpangan ke kamu. Kamunya tetap naik, meski duduk di belakang." Farhan mencoba menawarkan lagi.


"Kila, tidak usah sungkan. Saya lagi mau buat kebaikan, dan kamu perantaranya. Jangan menolak, ya. Ayo segera, nanti keburu adzan Maghrib." Farhan menawarkan lebih keras lagi karena melihat Kila masih ragu.


Akhirnya Kila memutuskan untuk menerima tawaran Farhan. Ia duduk sangat dekat dengan ujung motor Farhan karena tidak ingin bersentuhan. Ia memegangi besi belakang motor dengan erat agar dirinya tidak bergerak maju dari jarak yang ia buat itu. Farhan tidak mempermasalahkannya, tapi ia tertawa kecil melihat tingkah Kila.


"Kamu satu kompleks tahu sama saya. Makanya saya tahu teman yang kamu tunggu itu Ira. Saya juga sering melihat kalian juga soalnya," ucap Farhan saat sudah dekat dengan kosan Kila. Lalu mereka berhenti, dan Kila mengucapkan terimakasih kepada Farhan.


"Kamu nggak tahu kosan ini punya siapa?" tanya Farhan sebelum berangkat dari rumahnya.


"Tentu saja tahu, Kak. Ibu pemilik kosan sangat baik. Sampai menyediakan berbagai fasilitas komplit untuk anak kosnya. Saya jadi bisa lebih berhemat karena sudah disediakan bahan pokok juga di sini. Kalau nggak salah nama Ibu kos saya Bu Citra. Dan rumahnya di samping, Kak," jawab Kila sangat lancar.


"Ooh, baguslah kalau gitu. Beliau memang sangat baik, bahkan semua anggota keluarganya juga. Oke kalau gitu, kamu masuk gih, udah mau adzan juga. Saya pamit dulu, ya, Assalamu'alaykum," pamit Farhan.


"Wa'alaykumussalam, hati-hati di jalan, Kak," ujar Kila.


"Kenapa harus bilang hati-hati? Rumah saya hanya berbeda sepuluh nomor dari kosan kamu. Itu, rumah dengan pagar warna hijau," balas Farhan lagi sebelum benar-benar beranjak dari situ.


"Sekarang kita tetanggaan. Kalau ada apa-apa, datang aja ketuk pintu rumah saya. Orang tua saya juga baik, kok. Oke, deh. Sampai jumpa lagi, tetangga," lanjut Farhan. Kemudian ia benar-benar beranjak dari kosan Kila.


Farhan sempat melambaikan tangan ke Kila dari pagar rumahnya. Kila yang sudah ingin memasuki pintu kosannya itu tertawa kecil melihat tingkah si ketua OSIS itu.


...****************...