
Hari-hari berlalu dengan biasa saja. Komunikasi antara Kila dan Irsyad juga kembali intens setelah satu bulan tanpa komunikasi. Irsyad yang memutuskan untuk membuat hubungan mereka menjadi lebih intens lagi untuk membayar waktu yang hilang itu. Tapi, tidak ada yang spesial dari komunikasi itu. Semakin terbiasa dengan suatu hal, semakin menjadikan hal itu biasa saja. Awalnya komunikasi antara mereka adalah hal yang spesial karena sebelumnya tidak berkomunikasi selama satu bulan, karena telah terbiasa dengan itu komunikasi antara mereka menjadi tidak terlalu spesial lagi. Tapi, hal yang biasa saja yang sudah menjadi kebiasaan ini menjadi hal yang berharga. Karena, sekali saja kebiasaan ini tidak dilakukan, pasti ada sesuatu yang hilang untuk menjalani hari.
Saat ini, Kila sangat-sangat sibuk. Lagi, komunikasi yang baru saja intens kembali kini harus di batasi. Selesai Irsyad meminta izin untuk belum bisa berkomunikasi dengan Kila, giliran Kila yang meminta izin itu. Bahkan tidak satu atau dua bulan. Hanya saja tiga bulan. Mereka tidak menyempatkan untuk melakukan video call, hanya pesan singkat yang sangat singkat saja komunikasi yang mereka lakukan. Memang bukan seperti saat itu yang benar-benar tidak dapat melakukan komunikasi. Kali ini, lebih ke komunikasi yang super singkat melalui pesan chat, tanpa bertelepon ataupun video call.
"Kila, hari ini memang tidak bisa melakukan video call, ya? Sudah lama kita tidak bertemu, tidak juga ada video call dalam tiga bulan ini." Irsyad memberikan sebuah pesan chat ke Kila. Ia mengirimkan itu saat subuh di Indonesia. Berharap, jika Kila membacanya telat karena tidak memegang ponsel, setidaknya masih bisa di baca di hari yang sama--Hari Minggu.
Benar saja, pesan itu sudah sangat lama di kirim Irsyad, tapi Kila baru membaca sesaat setelah ia selesai menunaikan Isyanya.
"Maaf, Kak. Kila baru baca," balas Kila untuk pesan chat itu.
"Tidak apa-apa. Kalau sekarang, kamu luang atau tidak? Supaya kita video call. Jika sangat sibuk, telponan saja sebentar. Atau, sudah mau tidur, ya?" balas Irsyad cepat. Ia sedang istirahat sebentar dari pengerjaan penelitiannya. Kebetulan sekali Kila membalas dengan cepat chat yang ia kirim itu.
"Aa, maaf, Kak. Belum bisa. Rasanya hari ini sangat melelahkan," balas Kila.
"Ooh, ya sudah tidak apa-apa. Kamu istirahat yang cukup, ya. Jangan sampai sakit lagi."
"Iya, Kak."
"Oke, selamat istirahat, Kila."
"Iya, Kak."
"Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Kak."
Obrolan berakhir seperti itu, lagi. Karena selama tiga bulan ini memang Kila selalu berkata terlalu lelah, atau alasan banyak tugas. Jadinya, mereka tidak pernah video call selama tiga bulan belakangan.
"Kila, kamu seandainya tahu. Tadi saya mau bilang kalau sebentar lagi saya akan pulang. Tapi, saya tidak bisa menyampaikannya melalui chat. Saya ingin bilang langsung. Kenapa saya juga tidak bisa bilang kalau saya benar-benar merindukan kamu, Kila?" ucap Irsyad sendiri seraya membaringkan badan dan kepalanya di sandaran kursi. Entah sejak kapan Irsyad mulai sulit mengungkapkan perasaannya pada Kila. Padahal selama ini ia sangat lancar mengungkapkan perasaannya.
...****************...
"Assalamu'alaykum, Kila. Semangat menjalani hari ini, ya." Irsyad mengirim pesan yang biasa ia kirim saat Kila memulai harinya.
Dengan biasa pula Kila menjawab pesan chat itu, "wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Kak. Iya, terimakasih. Kakak juga yang semangat menjalani hari."
Percakapan yang biasa itulah yang menjadi rutinitas komunikasi mereka akhir-akhir ini. Kila yang semakin sibuk dengan tugas akhir mendekati UAS memang tidak pernah sempat untuk menyisihkan waktu bervideo call dengan Irsyad. Saat UAS nanti, ia ingin menjawab dengan baik. Makanya, setiap saat adalah waktu belajar bagi Kila. Tidak ada waktu yang lain, sama sekali. Urusan makan, belakangan Irsyad selalu mengingatkan Kila melalui chat saat sudah jamnya, jadi urusan makan Kila aman dan ia makan dengan teratur berkat Irsyad.
"Kamu mau tidur, ya? Jangan lupa makan jika belum. Ingat, makan yang teratur!" Begitulah isi pesannya saat Irsyad mengingatkan Kila untuk makan. Kila hampir saja ingin langsung tidur setelah lelah berkutat dengan banyak tugas. Untung Irsyad langsung mengingatkan.
"Aaa, kakak tahu aja. Makasih banyak udah ingatin Kila terus-terusan. Jangan bosan, ya, Kak. Hehehe. Kakak juga jangan lupa makan. Jangan penelitian aja yang di urusin. Diri sendiri juga," balas Kila untuk pesan chat Irsyad yang masuk barusan.
"Haha, iya, Kila. Terimakasih banyak. Kamu istirahat yang cukup, ya. Jangan terlalu sering begadang, tidak baik untuk kesehatan."
"Siap, Kak. Kila izin makan dulu, ya. Setelah itu mau langsung tidur. Kila izin duluan ya, Kak. Assalamu'alaykum."
"Iya, selamat malam dan mimpi indah, Kila. Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Rutinitas ini memang singkat, namanya juga pesan chat pasti singkat--bagi keduanya. Sebenarnya, masalah penelitian yang sempat disinggung oleh Kila hari ini, ada hal yang perlu Irsyad bicarakan tentang itu. Ia sudah selesai dengan seluruh tugasnya termasuk penelitian yang ia jalani. Pendidikannya sudah selesai, lebih cepat setengah bulan dari perkiraan. Tinggal menunggu momentum yang tepat saja untuk memberitahu ke Kila tentang ini.
"Kalau saya pulang diam-diam, apakah kamu akan terkejut? Apa kamu dapat menyisihkan waktu untuk kita berduaan nanti? Atau, apakah kamu punya waktu untuk menemui saya? Bisakah kamu menjemput saya di bandara? Bisakah kita berdekap sebentar saat pertama jumpa setelah sekian lama? Aaa, saya tidak sabar menunggu waktu kelulusan saya tiba dan kembali ke sisi kamu untuk mengabdikan diri sebagai imam kamu seutuhnya. Saya juga ingin mengimami kamu saat sholat nanti. Kita tidak pernah sholat bersama, kan? Haha, saya sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri tentang sesuatu yang belum terjadi. Sudahlah, akhiri saja khayalan aneh ini," ucap Irsyad yang berbicara pada diri sendiri.
Irsyad yang sebentar lagi akan mendapat toga dan gelar doktoralnya mempersiapkan segala hal untuk itu. Hari wisuda nanti bertepatan saat UAS Kila nanti. Ia tidak akan meminta keluarga di Indonesia untuk datang ke Turki melihatnya wisuda. Hal itu akan merepotkan semua orang. Ia cukup mengerti tentang itu. Jadi, biarlah wisuda ini tidak ada orang yang menemaninya merayakan hari paling bersejarahnya itu.
...****************...