
Sudah dua pekan sejak Irsyad memberikan kalung kepada Kila, dan kini hubungan mereka kian mesra. Mulai hari itu Irsyad mengusahakan untuk mengimami shalat witir meski ia harus ekstra dalam pekerjaannya esok hari. Mereka juga tidur tanpa jarak, saling mendekap.
"Lanjut studi atau tidak, itu balik ke kamu. Saya juga ingin mengambil hak saya jika kamu sudah benar-benar siap," ucap Irsyad sebelum tidur. Keduanya saling mendekap, bercerita dulu sebelum benar-benar tidur untuk lebih mengakrabkan diri lagi.
"Hak?" tanya Kila.
"Kamu polos sekali, Kila. Sudah berapa tahun kita menikah?" Irsyad mentertawakan Kila. Setelah dibilang begitu, Kila akhirnya tahu maksud Irsyad.
"Ki-kita belum ada setahun tinggal bersama. Kila juga baru sebulan lebih nunjukin rambut Kila, dan itupun pas mau tidur aja. Wajar dong kalau Kila nggak tahu maksud Kak Irsyad!" sangkal Kila gagap, pipinya ikut merona.
"Iya, saya tahu. Lagian, kita tidak perlu terburu-buru juga. Saya belum pernah berpacaran, begitupun dengan kamu. Sebaiknya, kita menikmati waktu untuk berpacaran lebih dulu. Merasakan langkah-langkah yang biasanya dilakukan oleh pasangan. Dari yang simpel sampai kompleks. Mula-mula pegangan tangan, pelukan, cium tangan, cium kening, cium bi—"
"Bi-bisa aja sih kalau mau pacaran dulu," putus Kila sebelum Irsyad melanjutkan ucapan yang mengarah ke pembicaraan yang lebih intim lagi. Ucapan Irsyad harus gantung karena Kila memotongnya. Tentu saja pipi Kila kian merona saat ini.
Irsyad merasa puas membuat Kila memerah seperti kepiting rebus. Ingin rasanya ia menjahili Kila, tapi waktu tak bisa bersahabat sekarang. Sudah saatnya memejamkan mata, karena biasanya mereka sudah tidur di jam segini. Telat tiga puluh menit dari jam biasanya mereka tidur.
"Baiklah, lebih baik kita tidur sekarang. Saya begitu mengantuk hari ini. Pembicaraannya kita lanjut besok saja, ya?" ucap Irsyad mengakhiri. Lalu Kila mengangguk dan tidak terlalu ambil pusing topik pembicaraan tadi. Ia juga lelah seharian mengurusi online shop miliknya.
...****************...
Nabila dan Irsyad kini rutin bertemu di tiap Senin sampai Jumat di tempat yang ramai tentunya. Pertemuan biasanya hanya berlangsung satu jam atau kurang. Sisanya, Nabila mengirimkan hasil pekerjaannya yang sudah dibicarakan di pertemuan itu melalui email. Nabila memiliki kontak Irsyad, tapi ia dilarang Irsyad untuk menghubunginya via itu kalau tidak benar-benar penting. Isi pesan chat mereka pun hanya sekedar jam pertemuan saja yang sering berubah-ubah sesuai dengan kosongnya waktu di antara keduanya.
Sebulan ini Nabila melihat ada yang lain dari Irsyad. Dan itu cukup membuat Nabila kepikiran.
"Perasaan saya aja atau gimana, ya, Pak? Ada cincin di jari Bapak. Dan setiap kali kita bertemu, Bapak memakainya. Kayaknya, waktu itu nggak pakai cincin, deh. Tapi aneh banget, kenapa pasang cincinnya di jari kelingking?" tanya Nabila di sela pekerjaan yang sudah agak santai.
"Sudah jangan bahas tentang cincin. Mari selesaikan ini. Kamu juga ada urusan setelah ini, kan?" ucap Irsyad menolak untuk membahas soal itu.
"I-iya, Pak."
Menanyakan itu sudah menguras keberanian Nabila. Karena, selama ini ia selalu terganggu dengan cincin di jari Irsyad. Tapi Nabila meyakini bahwa itu bukan cincin pernikahan. Karena Irsyad memakai cincin itu di jari kelingking, bukan di jari manis. Tapi tetap saja itu mengganggu Nabila. Ingin menanyakan lebih lanjut akan terlalu segan buat Nabila karena Irsyad sudah mengelak sebelumnya. Lagian, Nabila tidak bisa seenaknya menanyakan hal privasi itu.
...****************...
Hari ini Irsyad melakukan dua pertemuan sekaligus di tempat yang sama, sebuah kafe&resto. Bertemu dengan mahasiswa yang ingin meminta saran tentang kepenulisan skripsi, dan akan bertemu Nabila setelah jeda satu jam.
Sekarang Irsyad sedang menemui mahasiswanya. Sekilas Irsyad melihat ada Nabila yang baru memasuki tempat ini. Namun, ia tidak sendirian. Ia bersama dua orang yang Irsyad pikir adalah kedua orang tua Nabila. Kemungkinannya, Nabila melakukan hal yang sama dengan Irsyad, mengharuskan bertemu di dua agenda sekaligus.
Jarak tempat duduk mereka tidak jauh dari tempat Irsyad. Ketiganya tidak menyadari keberadaan Irsyad mungkin karena mereka duduk membelakangi Irsyad. Jika memiliki niat untuk mendengar pembicara tiga orang itu, obrolan mereka sudah pasti terdengar jelas dari jarak yang dekat seperti itu.
"Ini uang untuk bulan ini. Nabila, kalau kamu mau uang lebih untuk bangun bisnis, kamu bisa bilang ke saya. Saya akan berikan uangnya.
"Terimakasih banyak, Pak Gilang. Anda begitu baik. Untuk saat ini sepertinya tidak perlu. Saya bekerja sebagai karyawan paruh waktu dan upahnya juga lumayan. Apalagi, Anda telah memberikan uang yang tidak sedikit, saya juga sudah mulai membeli investasi alat untuk pekerjaan freelance saya yang lain. Mungkin, tidak ada waktu lagi untuk membangun bisnis. Hehe."
"Pak Gilang? Apa kebetulan? Suaranya juga, seperti kenal," batin Irsyad. Ia tidak berniat menguping, tapi memang obrolan mereka terdengar jelas sampai ke telinga Irsyad.
Selanjutnya mereka memilih untuk memesan makanan terlebih dahulu. Tidak ada percakapan yang terjadi selama mereka makan.
Nabila sering bercerita kesibukannya yang lain selain bekerja paruh waktu membantu Irsyad. Ia juga sesekali menceritakan tentang keluarganya. Tentang ia yang selalu menyisihkan waktu untuk bertemu seseorang di hari libur bersama mamanya juga ia ceritakan kepada Irsyad. Kadangkala juga harus menemui orang itu di hari kerja, sehingga Nabila sering izin untuk menggeser waktu pertemuan dengan Irsyad seperti sekarang ini.
"Mas Gilang, saya tahu kamu bosan mendengar ini. Lagi-lagi terima kasih banyak, ya."
"Tidak apa-apa. Sudah kewajiban saya. Bagaimanapun juga, kalian adalah keluarga saya."
Dua orang yang dikira Irsyad orangtuanya Nabila itu menghadapi ke samping. Betapa terkejutnya Irsyad, Gilang itu ternyata adalah mertuanya sedangkan perempuan itu adalah orang yang pernah ia curigai bersama Kila waktu itu sekaligus juga mamanya Nabila. Irsyad melihat mereka begitu dekat dengan memperlihatkan senyum dan dengan santai mamanya Nabila menempelkan kepalanya ke pundak Gilang.
"Astaghfirullah..., Apa-apaan ini? Mas? Keluarga? Uang bulanan? Dan tadi, kenapa dekat sekali dua orang itu? Ya Rabbi, jangan buat hamba berprasangka buruk," batin Irsyad resah. Selanjutnya ia berusaha beristighfar sesering yang ia bisa.
Tak lama setelah mereka menghabiskan makanan, dua orang itu pergi meninggalkan Nabila. Terlihat tangan Gilang di gandeng oleh wanita itu. Kemungkinan besar, Gilang akan satu mobil dengan wanita itu.
Irsyad mulai tak terkontrol emosinya, padahal sudah berkali-kali istighfar. Ia refleks mengepal kuat tangannya sebagai bentuk kemarahannya.
"Terimakasih banyak, Pak Irsyad. Saya sangat terbantu." Pertemuan dengan mahasiswanya telah selesai. Setelah dua orang itu pergi, tak lama pula mahasiswa yang bersama Irsyad pamit pergi.
Karena kemarahannya kian memuncak, Irsyad memutuskan untuk mendinginkan kepalanya dengan air wudhu. Saat ingin ke toilet mushalla, ia harus melewati kursi tempat Nabila duduk. Ya, Nabila menunggu di tempat sembari waktu pertemuannya dengan Irsyad tiba. Masih ada tiga puluh menit lagi, jadi Nabila memilih untuk menunggu di tempat pertemuan saja tanpa ikut dengan kedua orangtuanya itu pulang.
"Pak Irsyad?" ucap Nabila pelan saat melihat Irsyad melewatinya.
Nabila heran, Irsyad ia temui dari dalam, bukan dari luar resto. Itu artinya, Irsyad sudah ada di sini sejak tadi sebelum dirinya tiba.
...****************...