Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Waktu yang Ditunggu Semakin Dekat



Waktu berlalu, ujian akhir semester kini tiba. Tidak hanya ujiannya saja yang mendebarkan bagi Kila, tapi juga dengan kelulusannya dan pernikahannya. Siapa sangka, Riska dan Citra bekerjasama untuk membuat rencana pernikahan lebih dulu di belakang Kila. Persiapan sudah sangat matang, tinggal menunggu waktu saja.


"Gimana? Siap ngerjain ujian akhir, guys?" Risa berucap dengan semangat.


"Uh, pasti dong. Soalnya, habis ujian akhir, kan, kelulusan, terus sahabat kita yang satu ini nikah. Jadi nggak sabar menghadiri pernikahan kamu, Akil," sambut Ira dengan semangat pula. Ia kemudian merangkul Kila sebagai bentuk semangatnya.


"Ra, yang ditanya Risa itu tentang ujian akhir. Kamu kok malah semangatnya hadirin nikahan aku, sih?" balas Kila seraya melepaskan rangkulan Ira.


"Ya ampun, Kila. Kamu nggak ngerti, deh. Itu maksudnya secara tidak langsung aku juga semangat untuk ujian akhirnya juga, gitu," jawab Ira lalu mencubit pipi Kila pelan.


"Iya deh, iya. Jangan karena kita udah dapat jalur undangan jadi lengah di ujian akhir," balas Kila.


"Siap, Bu Irsyad," jawab Ira meledek Kila.


"Ih, Ira, awas aja kamu ya." Kila semakin kesal dengan Ira. Kila berusaha membalas Ira dengan cubitan, tapi Ira dengan sigap menghindari Kila dengan memanfaatkan tubuh Risa. Risa hanya bisa pasrah tubuhnya dijadikan tameng oleh Ira.


Mereka memang sudah mendapatkan kabar tentang keputusan sekolah menentukan empat puluh persen siswanya yang berhak mencoba jalur undangan untuk masuk perguruan tinggi negeri. Kila, Ira dan Risa menjadi salah satu murid dari empat puluh persen murid itu. Tapi yang menentukan akan lulus di perguruan tinggi itu kembali ke bagaimana murid memanfaatkan peluang dan melakukan pemilihan perguruan tinggi negeri secara realistis melihat nilainya di rapor. Melihat ketiga trio itu, meski mereka peringkat tiga di kelas, mereka tidak bisa lengah dan asal pilih jika benar-benar ingin lulus jalur undangan di perguruan tinggi negeri yang dipilih.


...****************...


Ujian akhir sudah berlalu. Hari ini saatnya siswa yang berkesempatan mencoba jalur undangan menentukan pilihannya. Kila kali ini memilih jurusan kuliah yang ia mau, bukan usulan dari orangtuanya. Untuk pilihan keduanya, ia memilih jurusan yang sama namun di perguruan tinggi yang berbeda. Ia berharap lulus di pilihan pertama, karena pilihan kedua itu kampus yang sama dengan Farhan. Ia tidak ingin satu kampus dengan Farhan.


"Kila, kamu ketahuan, ya! Kamu kenapa prioritaskan PTN yang beda sama kita? Kamu jahat, ih. Cuma segini aja hubungan persahabatan kita?" ujar Risa dengan nada agak tinggi dari biasanya.


"Iya, nih, Akil. Lagian lebih bagus kalau kita satu kampus lagi, biar bisa sama-sama lagi. Kalau gitu, aku doain kamu nggak lulus di pilihan pertama, dan bakal lulus di pilihan kedua barengan sama aku dan Risa," ucap Ira ikut-ikutan.


Mereka memang menaruh pilihan pertama dan kedua di perguruan tinggi negeri yang sama, berbeda dengan Kila yang pilihan satu dan duanya berbeda.


"Ih, jangan doain yang kayak gitu, dong. Aku, kan, milihnya udah sesuai prosedur. Aku letakkan PTN yang susah untuk masuknya di pilihan 1, terus yang kedua yang lebih besar peluangnya. Jadi, kalau nggak lulus di pilihan satu, ada peluang di pilihan dua. Kalau kalian kan, memilih jurusan yang beda tapi PTN nya sama. Aku nggak bisa gitu, soalnya aku memang sangat ingin di jurusan yang ini. Aku harap kalian ngerti." Alasan yang jujur, tapi kurang. Ia tidak mungkin memberitahu dua sahabatnya itu kalau ia tidak ingin satu kampus dengan Farhan.


"Ah, Kila nggak asik nih. Aku juga doain, semoga kamu lulus di pilihan kedua kamu bukan di pilihan pertama. Aamiin. Karena ada dua orang yang doain, biasanya doanya bakalan diijabah," Risa ikut-ikutan mendoakan.


"Akil, mau di manapun kamu di terima, jangan lupa kalau kami ini sahabat kamu," ucap Ira ingin menghibur.


"Hooh, Kil. Mau kamu nyusul Pak Irsyad dan kuliah ke Turki juga nggak masalah," susul Risa dengan sedikit meledek.


"Tuh, kan, mulai nih lagi. Aku nggak akan kuliah ke luar negeri untuk jenjang sarjana, apalagi sampai nyusul Pak Irsyad ke Turki. Rentang kuliahnya bakal lama karena ada sekolah bahasa dulu, terus Pak Irsyad akan tamat duluan sebelum aku tamat. Aku sih, pengennya lulus kuliah barengan sama Pak Irsyad. Jadi, pengen nargetin lulus tiga tahun atau tiga tahun setengah, gitu," tutur Kila.


"Biar bisa fokus jadi istri yang baik, kan, Akil?" ucap Ira menimpali sebelum Kila menyelesaikan ucapannya. Kila jadi malu sendiri, karena yang dikatakan oleh Ira tidaklah salah.


"Ciee, merah, tuh, mukanya. Ya udah, apapun itu, kami akan tetap dukung kamu Kila," sambung Risa. Mereka berpelukan sebagai bentuk support terhadap Kila.


...****************...


Definisi lulus sekolah berbeda tiap orang. Ada yang menunggu surat kelulusan dikeluarkan oleh sekolah baru dinyatakan lulus, adapula yang menganggap ujian akhir adalah momen terakhirnya menjadi siswa dan dinyatakan lulus. Tapi, jika sudah memegang ijazah sudah dipastikan benar-benar lulus.


Dengan perasaan bahagia, Kila sudah dapat mengambil ijazahnya. Yang tandanya ia benar-benar telah lulus sekolah. Umurnya juga sudah mau jalan dua puluh tahun. Ia sudah siap menikah.


Sebelumnya, Kila cukup disibukan dengan daftar ulang karena diterima di jalur undangan, bersama dengan dua sahabatnya. Sayang, doa mereka terkabul dan Kila diluluskan di pilihan kedua. Daripada mengkhawatirkan dirinya yang harus satu kampus dengan Farhan, ia harus bersyukur karena dapat satu kampus dengan dua sahabatnya.


Kila sangat ingin menghindar dari Farhan. Sampai-sampai, ia sudah membeli motor dan sudah membuat SIM juga. Jadi, jika ia berpapasan lagi dengan Farhan, ada alasan untuk menolak tumpangan dari Farhan.


"Kila, mulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus, kan? Kapan kita akan melangsungkan pernikahannya? Saya mumpung masih di sini karena liburan musim panas."


Tubuh Kila panas seketika mendengar perkataan yang tepat sasaran menuju hati Kila, bahkan tanpa aba-aba ia mengucapkannya. Kila yang sedang membantu Citra di dapur itu disusul oleh Irsyad. Cukup lama Kila diam tak menjawab. Ia takut suaranya bergetar karena jantungnya sedang tidak stabil di dalam.


"Pak Irsyad? Sejak kapan pulang dari Turki? Saya tidak tahu kalau ternyata ada Pak Irsyad di rumah Bunda Citra," jawab Kila mengalihkan pembicaraan sekaligus pandangannya. Ini hari Minggu, makanya ia mengunjungi rumah Citra sebagai rutinitasnya. Ia tidak tahu kalau Irsyad sudah pulang dari Turki. Kalau tahu, ia tidak akan ke rumah Citra karena pasti akan gugup bila bertemu Irsyad. Dan benar, ia sangat gugup bertemu dan diajak bicara dengan Irsyad. Apalagi, tiba-tiba Irsyad mengucapkan pembicaraan yang topiknya tentang pernikahan mereka. Irsyad, pria yang sulit ditebak. Tidak tahukah Irsyad kalau jantung Kila jadi berolahraga jika membahas topik itu?


...****************...