Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Melepas Rindu



Setelah lama tidak bertemu, mereka malah bertemu dengan cara yang konyol. Kila dengan lantang mengatakan tentang pembalut karena mengira kalau Citra sudah pasti akan membuka pintunya.


"Kak Irsyad?" tanya Kila dengan nada terkejut karena mengetahui ada Irsyad di sini.


"Kila?" tanya Irsyad juga bersamaan, tak kalah heran.


Mereka diam sejenak karena berkata bersamaan. Setelah itu, mereka berkata lagi.


"Kak Irsyad udah pulang?" tanya Kila lebih normal nadanya. Mungkin lebih tepatnya, menormalkan suaranya karena berbagai gejolak melanda di dadanya.


"Kamu kemari malam-malam?" tanya Irsyad memberi perhatian. Yang ini, Irsyad agak kurang cepat dari Kila bicaranya, tapi tetap bersamaan.


"Kak Irsyad pulang? Sejak kapan? Tadi waktu Kila bantuin bunda buat kue, Kila nggak ada lihat Kak Irsyad. Sekarang, pulang---" ucap cepat Kila dengan nada bicara yang goyang. Ia tidak dapat melanjutkan perkataannya, jika tetap ia lanjutkan akan kentara kalau air matanya siap meluncur.


"Boleh saya peluk kamu?" tanya Irsyad duluan sebelum Kila melanjutkan ucapannya. Mendengar itu, Kila malah merespons dengan menggelengkan kepalanya dan menunduk.


"Kila... kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Irsyad lagi, dan Kila juga menggeleng sebagai jawaban.


"Saya izin memeluk kamu, ya?" pinta Irsyad. Lalu, dengan menggebu-gebu Irsyad memeluk Kila yang masih diam tertunduk. Air mata yang sempat ia tahan untuk berusaha tenang, kini mengalir. Irsyad menumpahkan air mata itu diam-diam dalam pelukan itu. Pria seperti Irsyad masih bisa mengontrol nada suaranya meski air matanya mengalir. Itu membuat Kila tak mengetahui ada Irsyad yang juga bisa menangis sangking rindunya dengan Kila.


Saat pelukan itu mengunci Kila, pertahanannya runtuh. Air mata yang siap meluncur tadi, benar-benar sudah meluncur bebas tanpa izin si pemilik. Kenapa Kila lemah sekali mempertahankan pertahanannya? Ia menitikkan air matanya lalu terduduk bersamaan dengan Irsyad yang juga kehabisan energi karena terlalu menggebu-gebu memeluk Kila dengan erat. Mereka terduduk di lantai, tepat di depan pintu rumah. Tak mempedulikan orang yang lewat di depan komplek, atau jika Citra dan Erwin menyaksikannya. Irsyad tetap memeluk Kila dengan erat, menuangkan perasaan rindunya melalui pelukan itu.


Irsyad tidak mempermasalahkan Kila yang tak kunjung membalas pelukan itu. Ia hanya ingin menyalurkan perasaan ini dulu.


"HUAAAA... hiks... hiks... hiks...," teriak Kila menangis histeris. Ia kemudian membalas pelukan Irsyad.


"Maafkan saya yang baru pulang sekarang ya, Kila," ucap Irsyad menenangkan. Irsyad sudah membendung air matanya karena ingin memberi kekuatan pada Kila yang begitu histeris menangis. Lagi-lagi Kila menggeleng menanggapi ucapan maaf Irsyad. Irsyad merasa sangat bersalah, memang pantas kalau Irsyad tidak bisa dimaafkan.


"Kamu tidak mau memaafkan saya?" tanya Irsyad pelan mencari kebenaran kalau memang dirinya tidak dapat dimaafkan. Dan, lagi-lagi Kila menggeleng. Irsyad mulai bingung bersikap. Ia melonggarkan pelukannya sedikit untuk mengimbangi respons Kila. Mendapat pelukan balasan dari Kila saja sudah membuat Irsyad merasa dimaafkan. Melonggarkan sedikit pelukan itu Irsyad pikir dapat membuat Kila yang sesak berkurang.


"Saya minta maaf, ya, Kila. Maaf sudah membuat kamu menunggu terlalu lama," ucap Irsyad seraya mengusap kepala Kila. Dalam usapan itu, air mata Kila semakin deras. Ia menggelengkan kepalanya, lagi-lagi.


Kila tidak bisa memaafkan Irsyad, kah? Ia terus-menerus menggeleng, menolak semua ucapan Irsyad. Tapi, kali ini Kila merespons dibarengi dengan kembali membawa Irsyad dalam pelukan erat tadi. Kila mengeratkan pelukannya tiba-tiba. Dan tentu saja perilaku tiba-tiba ini sangat mengejutkan Irsyad.


"Kenapa, Bun?" tanya Erwin yang juga ikut menyusul karena penasaran.


"Nggak ada, Yah. Yang datang ternyata Kila, lihat itu! Bunda jadi ikut terharu melihat mereka berdua," jawab Citra yang menyaksikan agak jauh dari tempat Irsyad. Melihat Kila yang menitikkan air mata, ikut membuat Citra menitikkan air mata juga. Citra dapat mengerti bagaimana rasanya menahan rindu, sekarang perasaan yang ditahan itu meluap-luap saat dilepaskan. Drama yang lebih dulu terjadi saat Irsyad sampai tadi, tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.


"Ya udah, lebih baik kita masuk, Bun. Biarkan mereka puas melepas rindu," ujar Erwin yang kemudian mengajak Citra ke dalam kamar. Erwin juga pengertian, ia tidak ingin mengganggu dua anak itu.


Irsyad tidak mengerti ini. Ia ingin melepaskan pelukannya sejenak untuk melihat ekspresi Kila. Tapi, kini giliran Kila yang mengeratkan pelukan itu, lebih erat dari sebelumnya yang ia lakukan. Irsyad tidak diberi celah untuk melihat apa yang terjadi pada Kila.


"Kila, saya sangat merindukan kamu," ucap Irsyad untuk mengimbangi pelukan Kila yang semakin erat barusan.


"Apa kamu merindukan saya juga?" tanya Irsyad memastikan. Kini Kila tidak lagi menggeleng merespon ucapan Irsyad. Artinya, Kila tidak menolak fakta kalau dirinya juga sangat merindukan Irsyad.


"Boleh saya hapus air mata kamu? Saya merasa seperti seorang pria jahat yang menelantarkan istrinya, lalu membuatnya menangis. Setidaknya, buat saya menebus itu. Izinkan saya menghapus air mata itu," pinta Irsyad. Kila kembali menggeleng tidak memberikan izinnya.


Kila menjadi bisu sejak terkunci dalam pelukan Irsyad. Ia hanya bisa menangis dan menggeleng, tidak bisa melakukan hal lain sepertinya.


"Saya tidak ingin memaksa. Biarlah kita seperti ini dulu, biarkan saya memeluk kamu lebih lama dulu. Rindu ini sangat memuncak. Boleh saya peluk sambil mengusap kepala kamu?" tanya Irsyad, namun tidak ada jawaban dari Kila.


"Izinkan saya mengusap kepala kamu, ya," pinta Irsyad.


Setelah lama berpelukan dalam posisi duduk seperti itu, membuat keduanya merasa pegal dan kesemutan. Irsyad yang mengerti hal itu, mengambil sikap lebih dulu untuk mengakhirinya secara perlahan. Kila juga mengimbangi dengan melepas secara perlahan juga.


Setelah pelukan itu benar-benar lepas, Kila tunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sembab. Irsyad menyentuh wajah Kila tanpa izin kali ini. Dan tidak ada penolakan dari Kila. Irsyad mulai menelusuri wajah Kila dengan matanya. Masih tertinggal air mata di pipi Kila. Tanpa izin lagi, Irsyad mengusap lembut air mata itu menyingkirkannya dari wajah sendu Kila.


Irsyad mengusap air mata itu sangat lembut seraya menatap mata Kila dalam. Kila awalnya tidak bisa menatap balik mata Irsyad, tapi magnet di mata Irsyad membuat Kila tidak bisa menolak untuk menatap balik dalam-dalam. Baru kali ini mereka menatap mata masing-masing lebih lama. Membuat suasana menjadi lebih hening. Waktu terasa terhenti saat keduanya saling tatap.


Cup


Irsyad mengakhiri tatapan itu dengan mengecup kening Kila. Ia tidak ingin lebih lama lagi melakukan kontak mata dengan Kila. Bagaimanapun ia juga seorang pria, ia bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar mengecup kening Kila. Makanya ia mengakhiri itu, hanya dengan sebuah kecupan, tidak lebih. Tapi, hanya dengan satu kecupan itu, seluruh tubuh Kila seperti dialiri arus listrik yang menyambar ke seluruh tubuh. Irsyad mengultimatum Kila hanya dengan sebuah kecupan.


...****************...