Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Mengumpulkan Semua Pihak



Hari ini begitu cerah, Kila dan Irsyad mulai beraktivitas seperti biasa. Memang benar, komunikasi adalah solusi tercepat untuk menyelesaikan permasalahan. Jarak mereka kembali normal, meskipun harus berjarak juga saat di kampus bersama.


"Papa bilang, besok ada dinas ke sini, Kak. Besok kita bisa ketemu Papa."


"Kamu bilang apa tentang ingin ketemu tiba-tiba begini?"


"Kila bilang, kangen sama Papa. Soalnya, pas main ke rumah, cuma ada Mama doang. Kila pengen ngobrol aja sama Papa."


"Bagus tuh alasannya. Tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada kebohongan di alasan itu. Semoga pembicaraan berjalan lancar, ya, Kila."


"Ya udah, Kak, Kila ke kelas dulu, ya."


Irsyad meninggalkan mobil juga setelah Kila pamit duluan. Hari ini Kila dan Irsyad memutuskan untuk pulang dulu sebelum melanjutkan aktivitas di kampus. Kila memasak cukup banyak, dan keduanya juga tidak sempat membuat bekal.


...****************...


Hari pertemuan tiba. Pembicaraan berjalan lancar karena Irsyad membawa santai alur pembicara. Gilang terlihat tidak menyesal sedikitpun dengan perilakuku yang telah diketahui oleh menantu, anak, dan istrinya.


"Bagaimana mungkin? Selingkuh aja udah buat semuanya berantakan. Mana bisa kamu menyuruh semua orang berkumpul di satu meja untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau kamu mau, Papa dan Mama kamu aja yang bicara, nggak usah bawa-bawa mereka segala."


Baru mendengar usulan penyelesaian masalah yang diperbuatnya, Gilang malah naik pitam. Orang yang melakukannya adalah Gilang, harusnya ia berterimakasih bahwa Kila dan Irsyad berusaha membantu untuk menyelesaikan masalahku yang diperbuatnya. Sungguh sikap tak tahu di untung!


"Kalau begitu, tidak akan efektif, Pa. Kita harus menyelesaikan masalah ini setelah mendengar penjelasan dari berbagai pihak," ucap Kila berusaha meladeni dengan sabar.


"Memang penyelesaian macam apa yang akan diambil kalau sudah mendengarkan penjelasan dari sudut pandang berbagai pihak? Ujung-ujungnya perceraian, kan? Saya bisa jamin, Riska tidak mungkin sudi lagi melihat saya, apalagi dengan orang yang merusak rumah tangganya, beserta anaknya," ucap Gilang kian meninggi suaranya.


"Papa bicara seperti itu, apa Papa ngerasain ada di posisi Mama? Apa Mama pernah selingkuh? Nggak, Pa! Yang ada di pikiran Mama cuma kerja keras untuk mempertahankan usaha yang udah di bangun dari nol, nggak ada pikiran sama sekali untuk melakukan percobaan selingkuh. Terus, Papa pikir, apa dengan menyelesaikan permasalahan dengan perceraian masalah akan benar-benar selesai?"


Emosi Kila tampak terpancing. Ia geram dengan sikap sang papa yang terlihat biasa saja, padahal telah melakukan perbuatan-perbuatan yang termaafkan. Disampingnya, Irsyad mengusap punggung Kila untuk meredakan emosi Kila.


Irsyad angkat bicara, "Begini saja, Pa. Saya bisa bantu untuk bilang ke Nabila kalau Papa tidak ingin memberitahu langsung ke beliau. Namun, penyelesaian ini tidak akan berhasil kalau salah satu pihak tidak dapat hadir, termasuk Papa. Jadi, kita akan segera mengabari Papa jika waktu yang pas sudah ditentukan. Saya harap, Papa bersikap jantan untuk hadir dan menyelesaikan masalah ini. Saya dan Kila izin pamit dulu, lebih baik kita tidak bicara banyak kalau lama kelamaan malah semakin emosi. Assalamu'alaykum."


Keputusan yang tepat menurut Irsyad adalah mengakhiri perdebatan. Ia belajar dari pertengkarannya waktu itu dengan Kila. Jika dibiarkan terus, perdebatan itu akan terus menjadi. Api akan semakin membesar. Lebih baik pergi untuk menghindari perdebatan. Sedangkan Kila, ada rasa tidak puas karena belum selesai meluapkan emosinya. Namun, ia mengerti kebaikan Irsyad. Akhirnya, ia pun menjadi lebih tenang dan terkontrol emosinya.


...****************...


Kila menceritakan kebenaran tentang yang ia lihat ke Riska. Ia juga mengatakan telah bertemu Gilang untuk bicara. Reaksi Riska sangat tak karuan, mendengar sang suami bersikap biasa saja tanpa rasa sesal sedikitpun ketika berita perselingkuhannya terbongkar oleh anaknya sendiri.


Maksud Kila tentang bagaimana menyelesaikan masalah hubungan antara orang tuanya itu pun juga ia utarakan. Kila sampai heran sang mama malah menyambut baik niatnya itu.


"Lha, kamu sendiri yang bilang kalau masalah nggak akan terselesaikan kalau ada pihak yang nggak datang, kan? Gimana sih?"


"Tapi, emangnya Mama nggak masalah? Mama masih mau lihat wajah mereka?"


"Ya ampun, Kila. Sudahlah, ini malah keputusan bagus, karena Mama sudah bersedia dengan sukarela."


"Tapi, Kak...,"


"Saya juga sudah hubungi pihak mereka untuk datang besok. Dan mereka bersedia. Masalah Papa, juga sudah saya kabari. Kita berdoa saja semoga pembicaraan berjalan lancar besok."


Cukup sulit sebenarnya untuk meyakinkan Nabila pasca sakit hatinya dengan kejujuran yang baru saja Kila ungkapkan. Namun, Irsyad memberikan penjelasan yang bagus, sehingga membuat Nabila tersadar bahwa perilaku mamanya juga salah. Sebagai anak yang baik, ia lebih menyukai rencana Irsyad dan Kila ketimbang tidak melakukan apapun dan membiarkan sang mama melakukan perbuatan yang tidak baik terus-menerus.


...****************...


Pembicaraan dilakukan di rumah Irsyad. Ruang tamu di sana cukup untuk menampung mereka semua yang berjumlah enam orang.


Semua pihak datang telat serempak setengah jam. Entah itu disengaja untuk memperlambat pertemuan, atau memang benar-benar terhambat dengan urusan yang lain. Meski begitu, sesampainya semua pihak pun ruangan masih diisi dengan kekosongan. Tidak ada yang berani buka suara. Tatapan panas dari masing-masing terlihat karena menahan amarah. Sementara sang tuan rumah yakni Irsyad dan Kila sibuk di dapur untuk menyiapkan jamuan untuk para tamu. Berharap dengan jamuan yang disediakan nantinya akan membuat suasana lebih santai.


"Silahkan diminum. Camilannya juga, silahkan dimakan. Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri. Semua yang hadir di sini hari ini baru pertama kali mengunjungi rumah ini, kan? Anggap saja rumah sendiri. Monggo dinikmati."


Semua tamu tak berkutik. Kila memutar otak agar suasana lebih santai. Minuman diisi pada gelas kosong, lalu menaruhnya di depan tamu masing-masing. Lalu sedikit memaksa, "Ayo diminum. Buat es ini butuh waktu dan tenaga, lho. Sayang banget kalau udah dituang, tapi nggak langsung diminum," katanya.


Seketika semuanya menyesapnya. Daripada terbilang ramah dan mempersilahkan, nada bicara Kila terdengar benar-benar memaksa di telinga mereka.


"Nah, kalau boleh, diselingi juga dengan memakan camilan yang sudah disediakan. Saya juga ikut membantu istri saya, padahal saya sedang sibuk-sibuknya mengurusi pekerjaan. Namun, tamu harus diistimewakan, kan? Jadi, meskipun lelah, saya tetap ikhlas membantu."


Irsyad malah ikut-ikutan memaksa walaupun nada bicaranya tergolong lebih lembut ketimbang Kila. Sebuah senyuman tersungging di bibir Kila, tak ia sangka bahwa kali ini Irsyad peka.


Kemudian, ragu-ragu para tamu itu memakan camilan yang sudah dihidangkan. Memakannya sepelan mungkin karena masih tersisa rasa canggung.


"Gimana?" tanya Kila. Ia ingin menanyakan pendapat mereka tentang minuman dan camilan yang sudah ia buat. Setidaknya, basa-basi dulu sebelum melanjutkan pokok topik bahasan.


"Sebaiknya jangan menunda-nunda. Banyak hal lain yang harus dikerjakan, bukan hanya masalah ini saja! Segera saja bicarakan apa yang harus dibicarakan," sambut Gilang tidak ramah.


Belum apa-apa, Kila sudah diharuskan menahan amarah karena tingkah Gilang. Untung Irsyad langsung menggenggam tangan Kila untuk mendinginkan.


...****************...