
"Eh, ngomong-ngomong, Kil, kamu emangnya dibolehin bawa motor ke kampus?" ucap Risa. Mereka sudah banyak mengobrolkan tentang masa lalu. Ada jeda saat Kila mengunyah makanannya, makanya Risa teringat akan topik yang harusnya dibahas lebih dulu daripada mengobrolkan tentang masa lalu.
"Boleh-boleh aja, dong. Emang ada fakultas yang ngelarang untuk bawa motor?" balas Kila santai.
"Bukan gitu maksudnya, Kil. Emang kamu dibolehkan sama Pak Irsyad?" ujar Risa mempertegas.
"Iya, Akil. Soalnya dari cerita kamu, Pak Irsyad kayaknya mau pulang bareng kamu meski kalian nggak ke kampus berbarengan," ucap Ira menimpali.
"Belum, sih," jawab Kila ragu.
"Lho, kamu berani banget, Akil," tegur Ira.
"Tapi, aku tadi udah izin kalau kalian bakal ke rumah hari ini, dan nggak ke kampus bareng beliau. Beliau ngizinin, kok. Berarti, kalau nanti aku pulang dari kampus bareng kalian juga, beliau pasti ngizinin," celetuk Kila berkesimpulan.
"Tapi lain cerita kalau kamu bawa motor, Akil," ucap Ira geram.
"Kesimpulan apaan itu, Kila? Duh..., kamu chat deh sekarang beliaumu itu. Ntar kalau dianya murka, kita juga yang salah. Soalnya, secara nggak langsung kita bikin kamu lupa kalau kamu udah harus apa-apa izin ke semua karena kamu udah jadi seorang istri," ucap Risa lebih geram lagi.
Risa yang jutek, kini nada bicaranya sangat kesal kepada Kila. Risa tahu sekali tentang kewajiban dalam rumah tangga, karena memang ia sedang mempelajari ilmu pranikah. Soal izin suami yang dikatakan Risa memang terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah adanya. Seorang istri harus izin dengan suaminya jika ingin keluar rumah, musti bilang juga keluar dengan siapa. Selain itu, perihal janji yang diucapkan Irsyad itu dan mengingat sifat Irsyad, ia pasti akan membawa Kila pulang bersamanya seperti janjinya. Janji yang mengatakan bahwa Irsyad akan selalu ada untuk mengantar dan menjemput Kila. Kila hanya meminta izin kepada Irsyad untuk tidak berbarengan pergi ke kampusnya dikarenakan dua sahabatnya yaitu Ira dan Risa akan datang berkunjung hari ini, tapi Kila tidak mengatakan izin tentang membawa motor atau akan pulang sendiri dengan motornya saat kelasnya sudah selesai. Kila juga tidak meminum izin untuk pulang bersama dua sahabatnya itu, hanya izin untuk tidak diantar ke kampus saja yang diucapkannya ke Irsyad. Wajar melihat Risa dan Ira murka akan kelakuan Kila ini.
"I-iya, Ris. Aku memang tadi udah niat mau ngabarin beliau, tapi karena keasyikan ngobrol jadi lupa. Aku minta maaf ya, Ris. Kesalahan aku fatal banget kayaknya. Makasih ya udah mau ingetin aku. Ira juga," ujar Kila sedikit ketakutan. Lalu, dengan cepat Kila mengabari Irsyad.
"Lebih baik telpon aja, nggak, sih? Soalnya kalau jam segini pasti dia sibuk, kan? Kalau lihat ada chat, pasti nggak langsung dibaca. Beda kalau di telpon, pasti bakal dilihat siapa yang menelepon dan langsung dijawab telponnya," usul Ira.
"Kila, udah turutin aja. Jangan nggak enakan untuk menelpon suami sendiri. Kamu berhak kok untuk itu," tegas Risa.
Pesan yang dikirim Kila memang belum dibaca oleh Irsyad. Kila jadi berpikir untuk menelpon suaminya itu seperti yang diusulkan dua sahabat itu. Dan, dengan ragu-ragu Kila mulai menelpon Irsyad. Namun, tidak ada jawaban. Ia mencobanya sekali lagi, sampai tiga kali dan tidak ada jawaban juga. Kila kembali merasa tidak enakan di jam sibuk sang suami. Ia berhenti menelponnya. Setidaknya ia sudah melakukan usaha, saat di kampus nanti Kila bisa bertemu langsung dengan Irsyad untuk menjelaskan semuanya, pikir Kila.
"Kayaknya nggak diangkat-angkat ya, Akil? Ya udah, deh, setidaknya kamu udah usaha. Yuk lanjut aja makannya lagi," ujar Ira menenangkan.
"Iya, Kil, nggak usah dipikirin banget. Kita juga udah terlalu banget sama kamu. Maafin kita ya, Kil. Sekarang, santai aja dulu dan nikmati sisa waktu kita sebelum kelas dimulai nanti, oke?" usul Risa.
Mendengar ucapan dua sahabatnya itu, Kila jadi bisa lebih tenang. Untuk sekarang, ia ingin menghabiskan waktu dulu dengan dua sahabatnya itu. Karena jarang sekali momen seperti ini terjadi, Kila harus fokus hanya kepada kepada keduanya.
...****************...
Sampai di parkiran, saat Kila ingin menuju ruang dosen, Kila melihat Irsyad berjalan keluar dari ruangan dosen itu. Kila dengan cepat mengejar Irsyad.
"Kak Irsyad!" panggil Kila dari kejauhan. Irsyad menoleh dan tersenyum, kemudian bergegas menuju tempat Kila yang memanggilnya.
"Pak Irsyad!" panggil perempuan lain yang jaraknya lebih dekat dengan Irsyad. Perempuan yang waktu itu dilihat Irsyad dan Kila sedang bersama Farhan, ia adalah Nabila.
"Nabila..., ada apa?" jawab Irsyad. Ia menghentikan langkahnya untuk mengimbangi Nabila yang sudah berdiri tidak jauh dari dirinya. Dan Kila, ia hanya menyusul Irsyad meski tahu ada orang lain yang juga memanggil Irsyad.
Terlihat Nabila seperti meminta Irsyad memeriksakan tugasnya. Kila tetap menyusul Irsyad dan semakin dekat dengan tempat Irsyad berdiri.
"Kak Irsyad!" sapa Kila saat sudah sampai di tempat Irsyad berdiri. Kila memang sudah tahu ada mahasiswa yang juga memanggil Irsyad, tapi tak ia sangka orang itu adalah Nabila. Kejadian di restoran itu saja sudah sangat menganehkan, apalagi dengan Kila memanggil Irsyad dengan sebutan Kak.
"Pak Irsyad!" ralat Kila agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Umm..., Nabila, kamu bisa cek yang barusan saya tandai dulu, ya. Saya ingin bicara sebentar dengan Kila," ujar Irsyad.
"Ada apa, Kila?" tanya Irsyad.
"Aa..., saya cuma mau bilang, Pak. Saya ke kampus membawa motor sendiri. Sepertinya, pesan saya juga belum Bapak baca mengenai penulisan skripsi saya. Saya ingin Bapak membaca pesan tersebut," ucap Kila. Ia sengaja memilih kata yang lebih baku untuk tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ooh, baiklah kalau begitu," balas Irsyad. Ia mengerti bahwa Kila masih belum bisa mempublikasikan hubungan mereka di depan orang lain. Irsyad jadi bersikap seperti seorang profesional kepada Kila layaknya seorang dosen yang berbicara pada mahasiswanya.
"Lah, kenapa pakai laporan segala sama Pak Irsyad? Bukannya bawa motor ke kampus itu nggak dilarang, ya? Kayak pacar aja pakai laporan segala," tanya Nabila langsung ke Kila.
"Aa.., sepertinya Bapak memiliki mahasiswa lain yang harus ditanggapi juga. Kalau begitu, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, Pak. Maaf mengganggu waktu Bapak. Maaf juga, Mbak, karena seenaknya saja bicara dengan Pak Irsyad saat Mbak juga sedang meminta arahan dari Pak Irsyad. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari Pak Irsyad, mari, Mbak," ujar Kila. Ia lebih memilih tidak menjawab pertanyaan Nabila karena takut salah menjawab.
Setelah itu, Kila menuju parkiran kembali. Memasang helmnya dan segera menuju ke fakultasnya. Ada sesuatu yang dirasakan seperti tergores di hati Kila. Rasanya ingin sekali Kila menangis saat itu juga. Tapi, Kila tak tahu alasannya mengapa ia ingin sekali menangis. Apa karena hati yang terasa seperti tergores itu?
...****************...