
Yuli dan Farhan, mereka memang sering terlihat bersama di mata Kila. Itu juga karena keduanya memiliki hubungan status di OSIS, jadi Kila merasa hal itu adalah wajar. Tapi siapa sangka di luar sekolah bahkan mereka terlihat bersama. Terlebih, apakah ada hubungan dekat antara mereka dan Irsyad? Kenapa datang di hari lebaran? Apakah kedatangan mereka akan membahas hal yang ada di sekolah? Darimana mereka tahu rumahnya Irsyad? Kenapa Irsyad sampai menyusul Gilang segala untuk menyambut Yuli dan Farhan?
Ketukan pintu itu memang Yuli dan Farhan yang Kila maksudkan. Sejak Irsyad menyusul Gilang, mereka sedikit berlama-lama di depan. Terdengar obrolan juga dari sana, mungkin itu yang membuat Irsyad menyusul, sebab ada hal yang akan mereka obrolkan.
"Lho, Irsyad sama ayah kemana, Kil?" ucap Citra yang kembali setelah membuatkan Kila dan kawan-kawan minuman.
"Di depan, Bun. Tadi ada yang mengetuk pintu, ayah yang buka. Terus, waktu dengar kalau Yuli dan Farhan yang datang, Pak Irsyad langsung menyusul," jawab Kila.
"He... udah lama mereka nggak kemari," ucap Riska. Ia sempat melangkah untuk menyusul, tapi tak lama Farhan dan yang lainnya segera menuju ruang tamu juga.
Ruang tamu rumah keluarga Irsyad memang terbilang lebar, sebanding juga dengan rumahnya yang besar. Kila dan sahabatnya duduk di sofa yang lebih dekat dengan ruang keluarga, sementara Farhan dan Yuli memutuskan duduk di sofa dekat pintu keluar. Irsyad, Gilang dan Riska duduk berhadapan di antara kedua sofa itu.
Sedari masuk, memang sudah tampak raut wajah Yuli yang tak suka saat memandang Kila yang sedari tadi hanya menunduk tak berani menatap balik ke Yuli. Farhan yang pengertian dengan suasana, menengahi dengan menyikut Yuli.
"Ngapain sih, si Kila centil itu ada disini? Lagian, kok dia bisa-bisanya tahu rumah Kak Irsyad. Mana bawa temen, lagi. Lancang banget," gumam Yuli ke Farhan.
"Stt, nggak boleh gitu. Nggak enak nanti sama Kak Irsyad," balas Farhan.
Kila menjadi sangat canggung. Dan kedua sahabatnya itu menyadari keanehan Kila.
"Kila, kamu kenapa? Karena ada Kak Farhan, ya?" tanya Risa pelan.
"Ih, kamu apaan, sih, Kil. Kan semalam Akil bilang nggak duain Pak Irsyad. Mungkin karena hal lain. Kamu kenapa, kok kayak jadi canggung gitu sih?" Ira ikut bertanya
Kila tidak menceritakan apa-apa tentang Yuli kepada dua sahabatnya itu. Ia merasa hal ini adalah hal yang sepele dan Kila bisa mengatasinya. Tapi, berhadapan kembali dengan Yuli membuat Kila tidak nyaman. Mungkin setelah ini Kila akan menceritakan tentang Yuli ke dua sahabatnya itu.
"Ada, deh. Kayaknya aku belum cerita ke kalian. Nanti aku ceritain," ucap Kila menepis kecanggungannya.
...****************...
Saat ingin pamit, Kila hanya bersalaman dengan Citra. Dan saat mereka sudah di ambang pintu, mata Yuli mendelik tajam ke arah Kila.
"Oiya, Kak Irsyad juga lulus seleksi administrasi beasiswa doktor ke Turki, kan? Sama kayak Farhan. Bulan Juli nanti interviewnya, ya? Wah, kalau lulus berarti Kak Irsyad nggak akan ngajar lagi, dong. Sedih sih, tapi untuk mengejar pendidikan aku rela aja, deh." Yuli sengaja mengeraskan suaranya dan sedikit melirik ke arah Kila saat bicara.
Kila yang tinggal menutup pintu saja, tiba-tiba terhenti langkah mendengar ucapan Yuli. Karena Risa yang terakhir keluar, maka Risa yang menutup pintu itu. Jadi, orang yang di dalam tidak tahu bahwa betapa terganggunya Kila dengan perkataan Yuli selain Yuli tentunya. Memang sudah niat Yuli membuat Kila panas.
"Kila, ayo balik ke kosan kamu. Jangan di sini aja, nggak enak di lihat orang," ucap Risa setelah Kila agak lama berhenti.
"Aku tahu nih, berarti yang buat kamu nggak nyaman itu, si cewek yang namanya Yuli itu, kan, Kil? Siapa sih cewek itu? Apa hubungannya sama Pak Irsyad. Segala pakai panggilan 'Kak' ke Pak Irsyad." Risa berujung sinis setelah mereka tiba di kamar kos Kila.
"Iya, kalau Kak Farhan aku masih bisa ngerti, dari kata Akil kemarin Kak Farhan tetangganya Akil, berarti tetangga Pak Irsyad juga. Apa si Yuli itu tetangga juga? Atau pacarnya Kak Farhan? Tapi kalau pacarnya Kak Farhan, nggak mungkin deh, soalnya si Yuli itu nggak terlalu dekat nampaknya," ucap Ira menimpali.
"Kalian ingat, nggak waktu pertama kali masuk sekolah? Itu Kak Yuli, kakak OSIS yang marah ke aku gara-gara aku terlambat masuk aula setelah isoma," ujar Kila seraya menatap Ira dan Risa bergantian.
"Ee, iya. Kayak kenal juga, sih, pas lihat dia tadi. Tapi kalau dipikir-pikir, yang waktu itu nolongin Akil Pak Irsyad, kan, ya? Terus, dia mau nurutin kata Pak Irsyad dari sekali ucapan pembelaan ke kamu. Kayaknya dia nggak mau di benci sama Pak Irsyad, makanya dia langsung bersikap sok manis pas Pak Irsyad datang, terus langsung nurutin apa yang dibilang Pak Irsyad." Ira menyuarakan yang terpikirkannya.
"Aku kayaknya ingat juga, meskipun aku duduk paling belakang. Oiya, waktu aku duduk paling belakang itu, kan, ketua OSIS juga ada mungkin mengawasi dari belakang. Waktu kamu bermasalah dengan kakak OSIS waktu itu, ketos udah jalan ke depan, mau melerai kalian kayaknya. Eh, udah keburu sama Pak Irsyad," ujar Risa pula menyampaikan yang ia ingat.
Mendengar apa yang diucapkan Risa dan Ira, kejadian waktu Kila yang dilabrak oleh Yulipun menjadi masuk akal. Lalu, Kila menceritakan semua kejadian waktu itu sedetilnya.
"Kil, demi apa? Berarti si Yuli suka sama Pak Irsyad udah sejak lama. Dari ucapan Kak Farhan yang kamu ceritain, dia nggak bisa cerita lengkap soal itu, kan? Pas banget hari ini udah dijawab, Yuli kagum karena kedekatan di luar sekolah juga. Mungkin kita nggak tahu kalau Yuli itu dekat dengan Pak Irsyad dan keluarganya sebelum kita kenal Pak Irsyad." Risa menanggapi cerita Kila tentang peristiwa waktu itu.
"Tunggu, deh. Aku malah terganggu sama pengakuan ketos. Berarti ketos suka sama Kila dong. Terus, pernyataan ketos ke Kila waktu itu udah terjawab dari pernyataan Risa tadi." Ira malah lebih tertarik membahas topik tentang Farhan.
Kila menyambungkan semua kejadian dan ternyata semuanya sangat masuk di akal. Kelakuan Yuli yang terbilang tidak suka ke Kila itu dikarenakan kekaguman Yuli dan juga kecemburuan Yuli karena Kila lebih dekat dengan Irsyad ketimbang Yuli. Dan masalah perkataan Farhan yang waktu itu Kila mengerti, apa itu termasuk sinyal pengakuan perasaan ke Kila? Semuanya memang masuk akal, tapi Kila pusing memikirkannya. Apalagi, masalah perkataan Yuli tentang Irsyad tadi. Apakah benar Irsyad akan meninggalkan sekolah? Kila merasa kesal dan iri, kenapa Yuli tahu tentang itu sedangkan Kila tidak?
...****************...