
Dua bulan kemudian. Tak terasa hanya tinggal sedikit lagi target lulus lebih cepat Kila tercapai. Itu berkat kegigihan Kila dan karena bantuan Irsyad juga. Tinggal menunggu waktu wisuda, Kila sudah bebas dari status mahasiswa strata satunya.
"Kila, katanya Farhan mau main ke sini. Ada yang mau dibicarakan katanya." Irsyad yang sedang menyesap teh pahit miliknya itu baru saja mendapat pesan chat dari Farhan.
"Oiya? Kapan, Kak? Mau sekalian makan di sini juga, nggak? Biar Kila masak lebih banyak," tanya Kila.
"Jangan, Farhan tidak boleh makan masakan istri saya. Lagian, dia akan kemari setelah jam makan siang katanya. Jadi, masak seperti biasa saja dengan porsi yang biasa pula," jawab Irsyad. Ada topik dengan kata 'istri' membuat kupu-kupu yang sudah lama tak hinggap di sekitar perut Kila menghampirinya kembali. Refleks Kila tersenyum kecil.
"Tapi, apa yang mau dibilang, ya?" tanya Kila. Ia sudah selesai dengan sarapan paginya.
"Tidak tahu. Sepertinya masalah penting." Wajar Irsyad berkata begitu, sebab yang diketahuinya Farhan tidak pernah mengirim pesan chat pada Irsyad secara tiba-tiba di pagi hari seperti ini.
"Ayo berangkat, Kak. Nanti Kakak telat, tahu." Kila sudah selesai mencuci piring kotor, sedangkan Irsyad masih berkutat dengan ponselnya.
"Saya tinggal, ya," pamit Irsyad.
...****************...
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan, Han? Sepertinya penting sekali sampai mengatakan harus mendengarkan pendapat saya dan Kila." Setelah Kila menyuguhi minum dan cemilan, Irsyad memulai pembicaraan.
"Iya, Kak. Ini menyangkut kehidupan seumur hidup Farhan," nada serius terdengar.
"Kak Farhan lebay banget, sih," canda Kila.
"Ini serius, tidak dilebih-lebihkan," ucap Farhan tegas.
"Ya sudah, langsung saja ke poinnya. Apa yang mau dibicarakan?" ucap Irsyad lugas.
"Yuli dan Farhan dijodohkan," ucap Farhan singkat dan padat. Tentu berita itu sangat membuat Irsyad dan Kila shock mendengarnya.
"Hah?" ucap kaget Irsyad dan Kila.
"Kapan?" tanya Irsyad.
"Gimana ceritanya, Kak?" giliran Kila bertanya.
"Kamu tidak macam-macam sama Yuli, kan, sampai harus di jodohkan." Irsyad menghakimi.
"Di suruh tanggung jawab, ya, Kak Farhan?" Kila menyerbu.
"Huh...., saya ke sini mau minta pendapat, kok malah dihakimi, sih, Kila? Kak Irsyad juga, nih, kenapa mikir sampai ke situ? Mana berani Farhan macam-macam sama Yuli." Farhan yang semula serius agak kesal karenanya.
"Terus kenapa? Pertanyaan yang tadi dijawab dong, Kak Farhan." Kila mulai serius dengan topik yang mereka bertiga bicarakan.
"Kejadiannya semalam. Tiba-tiba orang tua Farhan ngajakin ke rumah Yuli malam-malam," jelas Farhan.
"Terus?"
"Terus..., ya udah, dari situ dibahaslah perihal perjodohan," sambung Farhan.
"Wah, ringkas banget kejadiannya. Kila pikir lebih rumit. Hahaha" Kila bercanda lagi. Itu sengaja ia lakukan karena melihat ketegangan di raut wajah Farhan. Benar-benar keputusan yang menyangkut kehidupan seumur hidup, pikir Kila.
"Sebenarnya lebih rumit, Kila. Saya cuma nggak mau ingat kejadian menyebalkan tadi malam aja. Saya ceritain aja garis besarnya," balas Farhan.
"Kayaknya waktu pelajaran Bahasa Indonesia dulu, Kak Farhan dapat nilai seratus, deh. Soalnya pinter banget ngeringkas isi cerita, menyimpulkan isi cerita dari kejadian yang sudah ada. Hahaha."
"Iya memang. Saya memang dapat nilai bagus di pelajaran Bahasa Indonesia. Dari SD sampai perguruan tinggi. Meningkatnya di SMA, sih, karena ada Kak Irsyad yang ngajarin."
"Cepat sekali mengalihkan topik, Han. Jangan membahas saya dulu. Bahas masalah kamu! Jadi, bagaimana dengan Yuli?" Irsyad menginterupsi.
"Sempat ngobrol nggak, setelah pertemuan dengan orang tua itu?" tanya Kila. Farhan hanya menggeleng.
"Kayaknya Kak Yuli mau menjauh dulu dari semua orang. Sulit menerima kenyataan itu, apalagi kalian berdua udah dari kecil sama-sama. Tiba-tiba dijodohkan gitu, pasti siapapun akan terkejut. Padahal, kalian hanya menganggap hubungan kalian tidak lebih dari teman. Jika tiba-tiba diminta untuk serius, apalagi oleh orang tua, pasti sulit untuk menerima kenyataan itu. Mau membantah juga tidak enak dengan orang tua. Dan Kak Farhan ke sini untuk minta pendapat karena merasa ragu untuk memenuhi perjodohan itu, kan? Kak Farhan juga sebenarnya merasakan apa yang Kak Yuli rasakan." Kila memberikan pendapatnya.
"Benar kata Kila, Han," Irsyad mendukung pendapat Kila.
"Sekarang, Kak Farhan ke sini cuma mau cerita itu aja atau gimana?" tanya Kila. Farhan diam sejenak. Ia bingung semalaman sampai tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Lalu, pikirannya tertuju pada dua orang yang Farhan kagumi ini untuk menanyakan pendapat mereka.
"Kayaknya topik ini nggak terlalu penting juga, ya? Cuma bisa ngerepotin kalian berdua, padahal aslinya masalah ini bukan masalah yang penting. Bukan menyangkut kehidupan seumur hidup juga." Farhan tersenyum miris.
"Han, jangan bicara seperti itu. Siapapun menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup. Kecuali kamu mau berpoligami dan menyanggupi syaratnya. Hal ini penting, sangat penting. Keputusan kamu sudah tepat untuk mendengar pendapat orang lain atas masalah ini. Tidak baik memendam ini sendirian. Kamu juga tidak baik mengambil keputusan terburu-buru sebelum mempertimbangkan dengan baik." Giliran Irsyad mengutarakan pendapatnya.
"Bener tuh Kak Farhan," dukung Kila.
"Saya dan Kila di sini hanya memberikan pendapat. Alangkah baiknya, kamu mencari pendapat lain untuk dipertimbangkan. Dan jangan lupa meminta kepada Allah melalui istikharah," lanjut Irsyad.
...****************...
Seminggu kemudian, Kila diminta untuk bertemu dengan Farhan. Namun, karena tidak ada Irsyad di rumah, ia ingin bicara dengan Farhan di luar rumah. Tak lupa meminta tolong Risa yang tidak sibuk untuk menemaninya.
"Kila, maaf menunggu lama. Kerjaan tadi harus dibereskan dulu," sapa Farhan.
"Iya, nggak masalah, Kak."
"Kamu benar-benar membawa Risa ternyata, ya."
"Iya, lebih baik begitu, kan, Kak Farhan? Tidak baik membiarkan dua orang yang bukan mahram bertemu di tempat kurang ramai seperti ini. Apalagi, tujuannya untuk membicarakan hal yang serius." Risa menjawab dengan sopan, namun lebih terdengar jutek.
"Wah...., ketus ya. Teringat sama Yuli jadinya."
"Jangan samakan saya dengan dia. Kami dua orang yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula," bantah Risa ketus.
"Udah, nggak usah basa-basi. Langsung aja dibicarakan. Nggak baik lama-lama. Saya dan Kila juga udah ada janji sama Ira buat ketemuan." Risa mulai risih dengan Farhan. Tak ingin mencari masalah dengan Risa, Farhan memulai pembicaraan.
"Saya sudah melakukan istikharah. Meski begitu, hati saya masih cenderung untuk menolak perjodohan itu. Saya dan Yuli memang sudah sejak kecil bersama, tapi saya tidak selalu bahagia di dekatnya. Sifatnya yang egois dan sulit untuk dinasehati membuat kepala saya pusing. Bagaimana jadinya saat saya sudah menjadi suaminya nanti? Bisa-bisa habis kesabaran saya untuk melihat sifatnya itu," ujar Farhan.
"Jangan terburu-buru. Lakukan istikharah terus, lakukan ikhtiar juga untuk bicara baik-baik ke Kak Yuli. Tentang sifat Kak Yuli, semua orang bisa berubah. Mungkin dengan terbiasa hidup bersama Kak Farhan akan membuatnya sadar atas perilakunya, merubah sifatnya, dan mendengarkan nasehat Kak Farhan sebagai suami nantinya," ucap Kila memberikan pendapatnya.
"Eh, Kil. Ngomongin ini mulu, deh, kayaknya. Mana langsung intinya, lagi. Poin pentingnya udah dibahas belum?" Risa memotong.
"Poin penting? Emang apa, Ris?" Farhan yang bertanya.
"Anda nggak ada bilang kapan pernikahan kalian akan dilakukan. Itu poin pentingnya. Kalau masih lama, Anda masih punya waktu untuk ikhtiar merubah sifat si Yuli itu untuk lebih baik lagi, dengan dalih bahwa Anda akan menjadi imam yang harus terus mengingatkan si Yuli itu dalam kebaikan dan kesabaran," ujar Risa.
"Iya, Kak Farhan. Memangnya, kedua pihak udah mutusin tentang waktu pernikahan akan dilaksanakan?" tanya Kila. Sejenak Farhan tertunduk.
"Saya juga nggak tahu, Kila. Kami masih muda. Yuli baru lulus, dan masih bergantung sama orang tuanya. Orang tua kami bilang lebih cepat lebih baik. Masalah waktu, baik saya atau Yuli bisa mengusulkan ingin melakukannya kapan," jawab Farhan lesu.
"Itu kesempatan, ikhtiar aja dulu dan lakukan kayak yang Risa sampaikan tadi, Kak," dukung Kila.
"Tapi, menunda pernikahan itu nggak baik. Kalau udah ada itikad baik, udah dapat restu orang tua juga, lebih baik disegerakan," sambung Kila. Farhan tak bergeming. Sangat sulit mengatakan hal yang tertahan oleh lidahnya kepada Kila.
"Sejujurnya, saya tidak ingin melakukan pernikahan di usia muda. Nikah muda cuma alasan untuk orang-orang menyalurkan nafsu birahinya saja ke pasangannya. Tidak ada kesiapan mental atau materi, sama saja membawa pernikahan itu ke dalam kehancuran. Apalagi, usia muda cenderung masih labil. Bisa jadi masalah kecil menjadi besar karena kelabilan itu. Belum lagi, mengurus pernikahan yang sulit. Untuk orang yang berpendidikan, mana bisa harus mengorbankan pendidikan hanya untuk menikah. Rencana pendidikan yang telah disusun, tidak akan berjalan dengan baik sesuai ekspektasi. Bisa jadi dengan menikah, saya akan terlambat untuk menempuh pendidikan S2 yang sudah saya rencanakan," jelas Farhan. Risa malah tersulut emosinya mendengar penjelasan Farhan, lalu sontak berdiri dan menatap rendah ke Farhan.
"Apa maksud Anda? Membuat sahabat saya tersinggung? Sudah baik Kila mau ke sini untuk mendengarkan ocehan tidak penting Anda, Anda malah melayangkan perkataan yang tak pantas. Ayo kita pergi dari sini, Kila. Biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia terlalu bergantung kepada manusia dan lupa kalau dia masih punya Tuhan yang harusnya menjadi tempatnya bergantung. Jangan mau dimintai pertolongan atau pendapat seperti ini lagi," ujar Risa yang emosi. Ia menarik tangan Kila untuk segera meninggalkan Farhan.
...****************...