Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kelas Cinta



Kamis ini matahari tampak ceria memancarkan sinar pagi sempurnanya. Begitu pula kelas IPS 1 yang baru tiga hari ini Irsyad yang menjadi wali kelas pengganti Bu Emi. Kamis ini penghuni kelas itu tampak cerah wajahnya karena hari ini ada pelajaran bahasa Indonesia, artinya Irsyad akan masuk kelas Kamis ini. Sejak Irsyad menjadi wali kelas pengampu kelas IPS 1, kelas terasa lebih hidup. Irsyad juga setiap hari ditiap jam istirahat selalu memperhatikan kelas itu, sebagai bentuk perhatiannya sebagai wali kelas, di luar jam mengajarnya tentunya.


“Risa, hari ini Pak Irsyad masuk jam berapa?” tanya Kila pada sang sekretaris yang sekaligus sahabatnya itu.


“Masuk jam pertama sampai istirahat pertama, kenapa kamu tanya-tanya, Kil?” balas Risa.


“Ingin tahu aja,” jawab Kila singkat.


“Bukannya jam dia masuk masih pakai jadwal pelajaran yang sama, ya? Kan kamu bisa lihat di mading kelas. Pasti ada apa-apa, nih,” ucap Risa sedikit menggoda Kila.


“Nggak, nggak ada apa-apa kok. Aku cuman lupa jadwal pelajaran untuk hari ini aja kok, makanya aku tanya ke kamu, ibu sekretaris,” balas Kila. Risa menunjukkan mimik wajah tak percaya pada Kila dengan menaikkan alisnya sebelah.


“Eh, ngomong-ngomong aku kok nggak tahu ya, kalau Ira itu wakil sekretaris?” sambung Kila.


“Kila, Kila. Apasih yang kamu tahu? Aku yang sekretaris aja kamu nggak tahu. Pak Irsyad jadi wali kelas pengganti waktu itu aja, kamu nggak tahu,” balas Risa.


“Tahu dari Ira, ya, Ris?” Kila mencoba memotong. Risa hanya menunjukkan anggukan sebagai jawaban.


“Kalau tentang Pak Irsyad itu kan, karena waktu itu aku nutup langsung telpon dari Ira, makanya aku nggak sempat dengar kabar itu yang mau dikasih tahu Ira. Tapi serius, kalian sejak kapan diangkat jadi sekretaris dan wakil sekretaris? Ketua kelasnya siapa? Bendaharanya siapa? Aku piket kelas di hari apa?” sambung Kila didominasi raut wajah penasaran.


“Afifah Syakila, parahnya kelewatan sampai nggak peduli sama perangkat kelas. Ini, baca.” Risa menyodorkan buku bindernya yang tertulis perangkat kelas dan jadwal piket tiap murid kelas.


“Ketua kelas si Fadli, yang duduknya didepan aku dan Ira. Bendaharanya si Desi, yang duduknya di belakang kami,” jelas Risa.


“Bisa gitu, ya, perangkat kelasnya dekat dekat gitu tempat duduknya. Siapa yang usulin?” Kila menanggapi.


“Si Ira lah, siapa lagi? Waktu itu dia akrab sama semua orang yang didekatnya duduk, terus seenaknya aja dia menunjuk kami semua sebagai perangkat kelas utama sedangkan dia cuman sekedar ‘wakil’ sekretaris. Katanya dia nggak mau capek kalau jadi sekretaris utamanya, makanya nunjuk aku yang jadi teman semejanya biar gampang bantunya, begitu. Pas Bu Emi masuk, Ira seenaknya aja ngasih keputusan dia itu ke Bu Emi. Ira bilang, penunjukan perangkat kelas itu sudah didasari keputusan bersama satu kelas. Bu Emi nggak langsung percaya ke Ira, jadi Bu Emi menanyakan ke kelas. Terus, kelas setuju setuju aja karena milih perangkat kelas itu merepotkan, kamu tahu juga lah kalau kita dapat label kelas IPS.” Risa menjelaskan kronologi kejadian perkara waktu itu, sedangkan Kila mengangguk-anggukkan kepala memahami semua yang dikatakan Risa.


“Ngomong-ngomong, Ira kemana, Ris?” tanya Kila.


Saat dibicarakan, rupanya orang itu sudah menunjukkan batang hidungnya tanpa Kila dan Risa sadari.


“Hayoloh, ghibahin sahabat sendiri dosa, tahu,” ucap Ira mengejuti.


“Eh, nongol juga orangnya. Sejak kapan?” tanya Kila.


“Sejak si Risa ceritain aku tentang kronologi pemilihan perangkat kelas itu,” jawab Ira. Kila sedikit lega bahwa Ira tidak mendengar obrolan tentang topik Irsyad tadi. Karena Kila tahu, Ira akan heboh sehebohnya bertanya layaknya seorang wartawan.


...****************...


Irsyad sudah memasuki ruang kelas, ia sudah menghabiskan satu jam pelajarannya dengan menyuruh para murid membacakan biodata yang mereka tulis yang sebelumnya sudah dibagikan kembali oleh Fadli, ketua kelas. Lalu menanggapi disela-sela, perihal cita-cita tiap murid.


“Baiklah, sepertinya sudah semua murid membacakan biodata masing-masing. Terimakasih atas kerjasamanya. Selanjutnya saya ingin dua orang saja membacakan bagian deskripsi orang berharga. Saya minta dua orang perwakilan, satu laki-laki dan satu perempuan. Ada yang ingin mengajukan diri?” jelas Irsyad.


“Oke, silahkan, Mira,” Irsyad mempersilahkan.


“Tapi, saya nggak tahu cara mulainya, Pak. Bapak dulu, dong, contohkan,” pinta Mira.


“Ya sudah, akan saya contohkan terlebih dulu. Ingat, ya, ini hanya contoh, jangan dianggap serius,” Irsyad menyetujui. Semua murid mengangguk paham dengan instruksi Irsyad.


“Orang yang berharga bagi saya adalah istri saya. Ia adalah tempat saya pulang. Ia segalanya bagi saya. Setiap hari adalah hari bahagia saya bersama istri saya. Banyak yang mengatakan istri saya orang yang terlalu taat kepada suami karena kemanapun harus izin ke saya, tapi menurut saya ia adalah istri yang shaliha,” ucap Irsyad mencontohkan.


Irsyad mengambil nafas sebentar dan menyambung ucapannya, “Kira-kira begitu, itu hanya contoh dan spontanitas dari saya. Karena kalian diminta membaca, prakteknya akan lebih mudah. Silahkan, Mira.”


“Bapak kok bahas istri, bukannya bapak belum nikah, ya? Bapak, kan, jomblo,” ucap Ira tanpa aba-aba.


“Siapa yang bilang kalau saya jomblo?”jawab Irsyad.


“Lho, berarti Bapak sudah punya pacar, dong? Dan yang diceritain tadi calon istri bapak yang tidak lain dan tidak bukan itu pacar bapak?” giliran Desi menyahuti.


“Saya bukan jomblo, tapi single. Jomblo itu nasib, sedangkan single itu prinsip. Saya juga belum mau menikah apalagi punya istri. Terakhir, saya sudah peringatkan di awal kalau itu hanya contoh, jangan dianggap serius. Paham?” Irsyad memberi penjelasan, dan satu kelas mengangguk tanda paham.


“Bapak memang mutusin buat nggak mau nikah dulu? Memangnya bapak nggak ada jatuh cinta ke siapapun, gitu?” ucap Desi penasaran.


“Bagi saya, menikah itu bukan urusan gampang. Saya berprinsip untuk menikah di waktu yang tepat, bukan menikah tepat waktu seperti yang dipikirkan oleh masyarakat. Urusan menikah, saya masih menganut tradisi keluarga untuk dipilihkan langsung oleh orang tua. Jadi, saat saya sudah ingin menikah, atau orang tua saya sudah menemukan orang yang tepat, barulah saya menikah.” Aneh, Irsyad malah menanggapi.


“Berarti bapak mau dijodohin?” tanya Desi lagi.


“Kenapa tidak?” jawab Irsyad dengan santai.


“Lho, bapak emangnya mau menikah tanpa saling cinta?” tanya Desi lagi, sudah seperti wartawan.


“Bagi saya, cinta itu urusan belakangan. Karena saya percaya bahwa cinta akan tumbuh karena terbiasa bersama. Yang terpenting bagi saya, ia mencintai tuhannya dulu ketimbang lengai karena cinta kepada makhluk-Nya. Tidak mengesampingkan tugasnya sebagai seorang hamba, dan mampu dibimbing menjadi istri shaleha, kriteria saya sesederhana itu.”


“Wah, tipenya ada itu di depan mata bapak. Iyakan, Akil?” celetuk Ira.


Seisi kelas malah menyoraki, “CIEEEE...”


Kondisi ini tak terprediksi oleh Kila. Kila malah menunjukkan wajah yang bersemu merah karena ini. “ya ampun, Ira. Nggak ada puasnya buat aku malu,” batin Kila.


“Sudah-sudah. Kalian ada-ada saja. Mira, ayo dimulai bacanya,” seru Irsyad mengakhiri kelas cintanya.


Irsyad agak menyesal memilih topik pencontohan deskripsi orang yang berharga tadi. Mau bagaimana lagi, yang teringat di kepala Irsyad adalah sosok ayah dan bundanya. Deskripsi contoh yang Irsyad berikan tadi adalah kondisi dimana Irsyad memposisikan diri sebagai ayahnya yang sudah mempunyai istri, yaitu bundanya. Sayangnya, salah seorang murid malah fokus di kata “istri”. Hal itu yang membuat Irsyad malah harus menanggapi agar ada yang tidak salah paham. Ujung-ujungnya malah bahas kriteria, haduuuh. Irsyad juga tidak tega pada Kila ketika nama Kila dibawa-bawa.


...****************...