Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Terimakasih yang Berwujud?



Kila masih saja memikirkan tingkah Irsyad tadi. “Benar-benar seorang guru bahasa,” batin Kila. Memang benar adanya, dan Kila masih saja terusik dengan tingkah Irsyad tadi. “Mentang-mentang guru bahasa Indonesia bisa-bisanya jahilin muridnya sendiri pakai permainan kata. Anda lucu sekali, Pak Irsyad,” batin Kila berucap lagi. Ia malah ghibah dengan diri sendiri dalam hati.


Kila sudah selesai menunaikan sholatnya, ditemani oleh Risa. Di dekat musholla telah terlihat Ira yang menunggu dua sahabatnya itu. Kila yang meminta tolong kepada mereka berdua untuk menemaninya bertemu dengan Irsyad.


Kini mereka telah duduk di bangku koridor dekat musholla menunggu Irsyad. Kila sudah melihat Irsyad keluar duluan dari musholla, tapi entah kemana ia sekarang. Jadi, Kila memutuskan untuk menunggu saja di dekat musholla seperti yang diinstruksikan oleh Irsyad.


“Cie, yang mau di traktir makan sama Pak Irsyad,” Ira mencoba menggoda.


“Hmm, bener, itu. Tapi kayaknya, nggak mungkin ditraktir langsung, sih. Soalnya Pak Irsyad anti sekali kalau berduan dengan murid, apalagi murid perempuan. Feeling aku, sih, Pak Irsyad traktirnya secara nggak langsung. Entah ngasih uang atau belikan makanan sebagai traktirannya,” Risa mencoba berspekulasi.


“Kalau gitu, pas, dong. Kita bisa berbagi makanan walaupun Kila yang ditraktir. Lumayan, makan gratis,” ucap Ira seenaknya menyimpulkan.


“Aku nggak masalah, sih. Lagian kalian juga sahabat aku. Udah baik juga mau nemenin aku disini. Makasih ya, Ris, Ra.” Kila tak mau berkomentar banyak, sebab di dalam jantungnya sedang ada gejolak. Ia takut kalau berkomentar banyak, Ira akan menandai dari nada bicaranya dan berakhir makin menggoda terus-menerus.


“Duh, maaf ya membuat menunggu,” ucap Irsyad yang baru saja datang.


“Oh, nggak kok, Pak. Nggak berasa lagi tunggu, soalnya ada teman ngobrol,” Kila menanggapi. Dengan menyembunyikan gejolak di jantungnya tentunya.


“Oh, kamu mengajak Ira dan Risa juga ternyata. Tidak masalah, kalau begitu sekalian saja kalian saya traktir juga,” respons Irsyad. Respons itu disambut senyum sumringah oleh Ira dan Risa.


“Wah, beneran, Pak?” Ira bertanya memastikan. Irsyad hanya menggangguk sebagai jawaban.


“Kenapa tiba-tiba, Pak? Apa karena bapak tidak enakan dengan kami yang menemani Kila?” Risa juga ikutan.


“Tidak, bukan begitu. Tapi tidak sepenuhnya salah juga, sih. Risa dan Ira sudah berkontribusi juga tadi, atas kejahilan saya. Saya ingin mengapresiasi juga, sebagai bentuk terima kasih ke kalian dengan ikut mentraktir kalian bersama Kila.” Irsyad mencoba menjelaskan dengan semampu otaknya pikirkan. Irsyad kemudian tersadar bahwa yang ia lakukan ini mirip sekali dengan yang dilakukan Kila dan neneknya, sebuah ungkapan terimakasih yang berwujud. Ia sendri heran bagaimana bisa terjadi.


Kila sudah sadar sejak Irsyad mengatakan sikap ini sebagai bentuk terimakasih. Ia yang semula sedikit tertunduk kemudian menegakkan kepalanya dan mencoba melihat Irsyad. “Apa Pak Irsyad meniru kebiasaanku dan nenek?” batin Kila.


Irsyad yang mennyadari Kila meliriknya langsung memegang tengkuk lehernya. Ia seperti kepergok melakukan hal yang salah dan itu diketahui oleh Kila.


“Sepertinya Pak Irsyad mengerti maksudku. Dan mungkin benar, kalau beliau berusaha meniru kebiasaan aku dan nenek,” batin Kila lagi.


“Ya udah kalau gitu, Pak. Terimakasih banyak. Sekarang kita mau makan dimana? Perut saya udah keroncongan, Pak,” ujar Ira yang tak sabar ingin makan.


“Maaf, ya, saya tidak bisa ikut. Saya harus mengerakan suatu hal. Tapi tadi saya sudah berpesan pada buk kantin kalau saya mentraktir makan seorang murid yang namanya Kila. Jadi, terserah deh kalian mau makan apa saja di kantin. Nanti saya yang bayar. Karena orangnya bertambah, bilang saja seperti awalnya tadi. Kamu yang bilang, ya, Kila,” Irsyad menjelaskan.


“Baik, Pak,” jawab Kila.


“Siap, Pak!” ucap mereka bertiga bersamaan.


Sepertinya kantong Irsyad langsung tipis setelah ini, sebab ada Kila yang memang suka makan dan dua sahabatnya yang tak jauh berbeda dengan Kila.


...****************...


Sampai di kantin, dan mereka sudah mengahbiskan berbagai macam menu di kantin.


“Alhamdulillah, perut aku kenyang banget.” Ucap Risa yang sudah kekenyangan.


“Sama, Ris, aku juga,” ucap Ira mengikuti.


“Kamu hebat banget, Kil, belum berhenti makan gitu. Apa kamu belum kenyang?” tanya Risa yang menatap heran ke Kila.


“Belum kayaknya. Aku juga hobi makan, tahu. Makan segini saja mana bikin aku cepat kenyang. Dikit lagi, deh,” jawab Kila sembari melanjutkan makannya.


“Akil, kamu nggak lupa kan, kalau kita lagi di traktir makan sama Pak Irsyad? Kalau kenaknya banyak, apa kamu nggak malu dan merasa bersalah nanti? Lagian apa kamu nggak kasihan dompet Pak Irsyad tipis karena kamu yang paling banyak ngabisin makanannya.” Ira menegur Kila yang sedang lahapnya mengunyah. Ternyata teguran itu ampuh untuk Kila. Ia langsung berhenti makan tepat di kunyahan terakhir saat Ira menegurnya. Ia juga tidak ingin berdiri dan memesan makanan lain lagi pada Ibu kantin.


“Kalau di depan doi nanti jangan begitu ya, Kil. Ntar doi ilfeel sama kamu,” giliran Risa menambahi.


“Doi apaan sih, Ris. Lagian mana bisa aku nahan diri kalau sudah disuguhi surga makanan kayak gini, apalagi di traktir. Tapi ya udah deh, aku tahu diri juga. Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. Jadi walaupun aku belum kenyang, aku berhenti aja kalau gitu. Dua sahabatku ini bawel soalnya,” ucap Kila menanggapi.


“Bersyukurlah karena kita dapat guru serta wali kelas sebaik Pak Irsyad. Coba kalau guru yang lain, belum tentu kayak gini. Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Allah,” Risa membuka percakapan.


“Puji Tuhan,” ucap Ira menyusul.


“Alhamdulillahirabbil’alamin. Iya, bener. Kita juga harus banyak banyak bersyukur. Biar Allah tambah nikmat yang diberikan.” Kila juga ikut menambahi.


Surah ibrahim ayat tujuh memerintahkan kita untuk selalu bersyukur. Sebagaimana bunyinya yaitu; “bersyukurlah kamu, maka akan Aku tambah nikmat-Ku. Dan apabila kamu kufur, maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih.” Bersyukurlah di berbagai kesempatan, bahkan nikmat paling dekat sekalipun, seperti masih bisa diberikan kesempatan untuk hidup dan bernafas itu juga perlu kita syukuri.


Bahkan, bersyukur dapat memberikan kita nikmat yang luar biasa. Disaat kita mensyukuri apapun yang sudah Allah atur dan beri ke kita, kita akan selalu cukup kan hal itu. Kita juga tidak terlalu berfokus mengejar dunia seperti kurang kaya, maka ingin lebih kaya lagi, dan sebagainya. Bersyukur juga merupakan kunci untuk hidup tenang dan berasa berkecukupan dari berbagai hal.


Muslim yang baik, bersyukurlah dan tuluslah akan syukur itu. Allah sendiri yang berjanji bahwa ia akan menambah nikmat apabila kita selalu bersyukur. Dan ingat, jangan sampai kufur. Karena, adzab Allah amatlah pedih.


...****************...