
Kila terbangun saat merasa ada yang mengusik tidurnya. Yang ternyata si pengusik adalah Irsyad. Ia masih bisa bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, padahal ia begitu lelah karena banyak hal yang ia lakukan tadi.
"Maaf, apa saya membangunkan kamu?" tanya Irsyad yang sadar kalau Kila ikut terbangun juga.
Kila juga sama. Hari ini ia sangat lelah, ditambah ia susah tidur karena kelakuan Irsyad. Ia tidak mungkin bisa tidur sebelum menyingkirkan tangan Irsyad yang memeluknya dari belakang itu. Ia mengakali dengan memberikan gulingnya sebagai pengganti agar dipeluk Irsyad. Ia baru benar-benar tidur saat Irsyad sudah tenang dengan pengganti yang diberikan Kila itu. Meski begitu, Kila tetap bisa terbangun jika ada sesuatu yang mengusiknya, seperti sekarang.
"Nggak, kok, Kak. Kila memang suka bangun di jam segini biasanya. Tapi, tadi terbangun duluan dari jam biasa bangun, mungkin karena Kak Irsyad bangun Kila jadi ingin ikut bangun juga," ucap Kila dengan nada khas bangun tidurnya.
"Ya udah, kamu bisa tetap bangun seperti itu atau kembali tidur lagi, kamu bebas memilih," jawab Irsyad menanggapi.
"Kila mau tidur lagi aja, deh. Nggak apa-apa, kan, Kak?" tanya Kila seraya memejamkan matanya. Melihat hal menggemaskan dari Kila, membuat Irsyad tersenyum sebentar.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Saya juga akan lanjut tidur lagi setelah shalat ini. Saya merasa benar-benar lelah, tapi kebiasaan ini tidak bisa saya lewatkan hanya karena lelah. Nanti saya menyusul kamu untuk kembali tidur, kamu jangan sampai terbangun lagi karena itu, ya. Saya bisa merasa bersalah karena itu," ujar Irsyad.
"Iya, Kak. Kila lanjut tidur lagi, ya," ucap Kila mengakhirinya dan bersiap memasuki alam mimpi.
Irsyad yang sudah selesai menjalankan sholat sepertiga malamnya kembali membaringkan diri untuk kembali memasuki alam mimpi. Dengan tidur lagi, ia berharap dapat menjadi lebih segar lagi saat akan melaksanakan sholat subuh di masjid.
...****************...
Tidur dengan terus memakai hijab pasti sangat merepotkan. Mau bagaimana lagi, Kila masih belum bisa menunjukkan mahkotanya pada Irsyad. Ia sangat menjaga posisi tidurnya agar tidak satupun helai rambut tampak saat ia tidur. Termasuk usahanya dengan posisi tidur yang membelakangi Irsyad sangat membantu jikalau Kila lengah dan menampakkan rambutnya. Pikirnya, dengan posisi seperti itu setidaknya kelengahannya tidak langsung dapat dilihat Irsyad.
Saat Irsyad pulang dari masjid untuk melaksanakan sholat subuh, Kila sudah sangat rapi ikut membantu Citra di dapur.
"Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Irsyad dan Erwin bersamaan. Mendengar itu, Citra dan Kila yang berada di dapur menjawab salam.
Lalu, mereka mendatangi suami mereka masing-masing untuk mencium tangan mereka. Citra berjalan cepat menyusul ke depan, sementara Kila yang berjalan lambat bertemu Irsyad saat sudah sampai di ruang keluarga. Sebenarnya Kila tidak akan melakukan ini jika tidak diajarkan oleh Citra. Sebagai seorang istri yang baik, ia harus belajar dari istri yang sudah banyak pengalamannya. Jadilah Kila diajari tentang ini, mencium tangan sang suami saat kembali ke rumah.
"Kak, Kila boleh pinjam tangan kanannya?" tanya Kila saat mereka berhadapan, berada di tempat yang sama.
"Boleh," jawab Irsyad seraya menyuguhkan tangan kanannya.
Cup
"Wah... mau cium tangan ternyata. Saya mengira tangan saya akan diapakan, begitu," ucap Irsyad agak terkejut dengan tingkah Kila.
"Tapi tidak apa-apa. Saya senang kalau kamu yang berinisiatif duluan. Saya jadi ingin kita tinggal bersama saja setelah ini, Kila," ucap Irsyad yang kemudian membelai lembut pucuk kepala Kila.
"Selama Kila libur, kita bisa tinggal bersama, kok, Kak," balas Kila menanggapi.
"Kalau kamu sedang libur begini, itu tidak dihitung tinggal bersama. Dan lagi, kita harus memanfaatkan waktu libur kamu. Bagaimana kalau kita liburan bersama?" usul Irsyad.
"Boleh, tuh. Kapan, Kak? Kapan? Ke mana? Ke pantai, ya?" tanya Kila antusias.
"Hahaha, kamu senang sekali dengan pantai, ya," jawab Irsyad yang kemudian berjalan menuju dapur.
"Kak, Kila udah buat teh pahit untuk kakak," ujar Kila yang menyusul Irsyad ke dapur juga.
"Kila tentu tahulah! Soalnya, waktu Kak Irsyad ke rumah karena agenda pertemuan dengan wali murid, Kila juga di pesankan untuk menyuguhkan teh pahit,"
"Ma syaa Allah... ingatan kamu kuat sekali," puji Irsyad lagi seraya mengusap kepala Kila.
"Kak Irsyad kenapa suka teh pahit, sih? Kayak udah tua aja," ucap Kila menggoda.
"Duh... kamu ternyata cerewet, ya? Memangnya kenapa kalau saya menyukai teh pahit? Apa kamu jadi tidak suka saya karena kebiasaan saya ini terlihat seperti orang yang sudah tua? Lagian, kalau kamu ingat saya suka teh pahit, berarti kamu juga ingat kalau saya suka teh pahit karena suka menjaga pola makan juga," balas Irsyad yang kemudian menoel hidung Kila.
"Kila minta maaf kalau Kila terlalu cerewet," ucap Kila memanyunkan bibirnya.
Cup
Irsyad mendaratkan kecupan di kening Kila. Lalu, ia menyesap teh pahit yang sudah di suguhkan tadi.
"Kak Irsyad...," ucap Kila seraya memegang kedua pipinya yang mulai merona untuk menutupinya dari Irsyad. Irsyad pandai sekali membuat istrinya ini tidak memanyunkan bibirnya lagi.
"Bibir kamu. Lain kali jangan pernah tunjukkan itu lagi pada saya. Kamu tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika itu kamu tunjukkan lagi. Untung saya masih bisa melihat kening kamu sebagai gantinya," balas Irsyad menjelaskan. Kila yang semakin memerah meninggalkan Irsyad dengan langkah cepat.
Kila kembali ke kamar Irsyad untuk membawa barang yang ia belanjakan semalam. Lalu, ia memberikan minuman yang dipesan Irsyad waktu itu ke dapur tempat Irsyad berada sekarang.
"Kamu mau kemana, Kila?" tanya Irsyad setelah mendapat minuman itu.
"Pulang sebentar. Mau mandi biar dingin," balas Kila. Ia mempercepat langkahnya.
"Ya ampun, Kila. Kamu sangat menggemaskan sekali," ucap Irsyad seraya tersenyum.
Citra dan Erwin yang melihat itu, menjadi penasaran dengan apa yang terjadi. Pasalnya, Kila hanya berpamit singkat kepada mereka saat di ruang keluarga tadi dan melanjutkan langkah dengan cepat.
"Kila mau balik ke kosannya, Syad? Lha, kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Citra yang melihat Irsyad mulai naik menuju kamarnya.
"Iya, Kila mau balik ke kosan, Bun. Sepertinya, Kila mau menenangkan diri dulu soalnya baru Irsyad godain tadi," jawab Irsyad santai.
"Lha, kamu apain anak orang, Syad?" tanya Citra heran.
"Sudah, ya, Bun. Irsyad tinggal dulu. Irsyad masih lelah karena baru pulang semalam," ucap Irsyad tak mengacuhkan pertanyaan sang bunda. Ia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar, dan itu tentu saja membuat Citra kesal.
"Wah.... kamu menghindar, ya, Syad? Awas aja kamu! Lihat itu anak Ayah."
"Irsyad juga anak Bunda, lho. Anak kita berdua."
"Huh, tapi ngeselin banget, sih. Bukan anak bunda itu."
...****************...