
Selesai dengan memberikan ucapan selamat atas wisudanya Kila, Farhan dan Yuli bergegas menuju ke rumah kembali. Tentu saja keduanya menghadiri wisuda Kila karena Irsyad yang memintanya langsung. Namun, sayangnya mereka tidak bertemu Irsyad di sana. Mereka hanya menemui Kila sebentar saja. Setelah memberikan buket bunga dan berfoto, mereka langsung pergi. Untung saat itu belum ada Risa, kalau sampai Risa dan Yuli bertemu, tidak tahu apa lagi yang akan terjadi dengan hari wisuda penuh damai milik Kila itu.
Mereka kembali ke rumah Yuli, bersantai sejenak karena orang rumah Farhan dan Yuli tidak ada di rumah.
Farhan mengingat betul apa yang dijelaskan Citra tentang pernikahan Irsyad dan Kila, yang seperti perjodohan dan menurut Farhan sedikit dipaksakan. Syarat untuk Irsyad menahan diri telah selesai, Kila sudah selesai dengan urusan pendidikannya. Kini, Kila bisa menjadi istri yang sempurna untuk Irsyad, memberikan cucu untuk Citra, merencanakan untuk menambah anggota keluarga baru.
Memikirkan itu terasa begitu ngilu di hati Farhan. Ia sudah dijodohkan dengan Yuli, lalu ia masih memikirkan Kila. Busuk memang. Dengan wisudanya Kila, ia malah mantap untuk menikah dengan Yuli. Motifnya apa? Untuk memenuhi perjodohan itu, atau hanya menikah untuk mencari pelarian? Hanya dirinya yang tahu.
"Hei, Yuli. Apakah kamu ikhlas dijodohkan denganku? Apalagi sebentar lagi kita akan benar-benar menikah. Kamu masih bisa pikir-pikir lagi, lho. Aku sih, nggak keberatan kalau ditolak walaupun hari pernikahan kita udah dekat." Farhan berujar. Saat memikirkan Kila tadi, tiba-tiba saja pikirannya ingin berujar seperti itu kepada Yuli.
"Hahaha, mau berapa kali kamu nanya hal itu, Han? Kita udah bahas sama-sama, berkali-kali juga kita bahas sama keluarga. Ya udah, karena kita udah kenal dari kecil, nggak ada salahnya membuat hubungan ini menjadi yang lebih serius lagi." Yuli menanggapi penuh pengertian, menatap Farhan dalam-dalam. Farhan sadar, belakangan ini ada perubahan yang baik dari diri Yuli. Yuli bisa lebih tenang dan menghargai ucapan Farhan. Padahal, biasanya ia bisa langsung marah-marah dan tidak ingin mendengar Farhan, egois dan hanya peduli kepentingan sendiri.
"Tapi..., apa masih ada perasaan di hati kamu untuk Kak Irsyad?" Mengingat besarnya rasa Yuli untuk Irsyad, dengan berani Farhan menanyakannya.
"Aku udah lama move on, Han. Kamu tahu sendiri, aku sepertinya cuma kagum aja ke Kak Irsyad." Jawaban yang mengejutkan. Namun, dari mata Yuli, tidak ada terlihat tanda-tanda kebohongan.
"Kamu sendiri gimana? Apa ada seseorang?" Yuli bertanya balik.
"Seseorang? Siapa?" Farhan pura-pura bingung.
"Nggak mungkin kamu melewatkan kesempatan untuk jatuh cinta, kan? Pasti ada cewek yang kamu suka."
"Nggak ada."
"Jangan bohong, deh."
Yuli sangat percaya diri dengan ucapannya. Hal itu membuat Farhan meneguk ludahnya karena takut kalau Yuli tahu siapa yang sempat ia sukai.
"Memangnya kamu tahu?"
"Coba kutebak. Kila bukan?" tebakan yang tepat sasaran. Farhan langsung menunjukkan reaksi seperti orang membeku.
"Aku udah menduga, hahaha. Santai aja, Han. Aku wanita, aku tahu kamu suka Kila udah dari lama. Aku cuma pura-pura nggak tahu aja. Lagian, kamu pikir udah berapa lama kita sama-sama? Aku ngerti banget lah sama sifat kamu. Nggak cuma kamu aja yang tahu betul aku kayak gimana, Han. Jangan remehkan aku, deh."
"Tebakan kamu benar, Kila orangnya. Tapi bukan Kila yang aku sukai sekarang. Aku cuma sempat suka sama Kila aja. Untuk sekarang, dia udah ada Kak Irsyad dan udah lama nikah, sedangkan aku udah ada kamu."
Sebenarnya Farhan sedikit ragu, tapi berada di dekat Yuli menyadarkan Farhan bahwa Yuli bukan Kila. Yuli yang tahu betul sifat Farhan, begitu juga sebaliknya. Sudah saatnya melihat Yuli seorang. Itu sudah ia putuskan setelah Risa yang hanya sekedar orang asing itu, hanya dengan kata-katanya saja sudah menampar muka Farhan. Menyadarkan Farhan betapa jahatnya ia, dan tak pantasnya ia bila disandingkan dengan Kila dengan segala kebaikan yang dimiliki. Menikah muda, bukan niat Farhan waktu itu untuk menyinggung perasaan Kila. Itu hanya pelarian dari topik lain yang ia ingin katakan, yaitu tentang betapa tak biasanya ia menerima perjodohan hanya karena dihatinya ada Kila.
Lalu Yuli, ia juga terpengaruh dengan ucapan Risa. Memang berdebat dengannya waktu itu dapat membuka wawasan Yuli. Yuli juga merubah sifatnya berkat perdebatannya dengan Risa waktu itu.
"Lucu banget kita ya, Han? Kamu pernah suka sama Kila, dan aku pernah suka sama Kak Irsyad. Nah, sekarang mereka udah menikah, lalu kamu dan aku akan menyusul juga. Kadang, geli sama takdir sendiri. Hahahaha." Yuli tertawa sinis.
"Iya, tapi kamu aja yang lucu, aku nggak. Hahahaha," canda Farhan. Ia tetap menjadi dirinya, bahkan bisa lebih leluasa saat bersama Yuli yang sudah lama menemani di hidupnya.
"Ha? Kamu gitu sama aku, Han?" balas Yuli seraya mencubit Farhan, tentu Farhan meringis kesakitan. Begitu pula Yuli, ia bisa lebih leluasa menjadi dirinya sendiri saat bersama Farhan.
...****************...
Farhan dan Yuli mengabarkan pernikahan mereka. Kini, tibalah saatnya.
Irsyad sangat dekat dengan keluarga Farhan dan Yuli, jadi, ia meminta izin untuk tidak mengantar Kila ke lokasi resepsi. Sementara Kila tidak mempermasalahkannya, karena ia bisa pergi dengan kedua sahabatnya Ira dan Risa.
"Nggak nyangka, mereka akhirnya nikah juga ya," ujar Ira. Mereka sudah tiba di tempat resepsi dan melihat dua pengantin yang duduk di pelaminan itu dari kejauhan.
"Aku juga bingung. Dan lebih bingung lagi, kenapa aku masih diundang, ya? Soalnya aku nggak akrab sama mereka, terus aku juga udah bikin masalah sama mereka berdua. Normalnya, aku harusnya nggak di undang, dong?" ucap Risa heran.
"Tebakanku, sih, mereka mau buktikan ke kamu hubungan mereka seserius ini. Secara nggak langsung membalas kamu dengan kekalahan telak karena mereka udah mutusin nikah muda dan nggak terusik sama masa lalunya lagi." Ira sangat jujur saat berbicara. Dan itu lolos membuat wajah Risa memerah karena kesal. Melihat keduanya bertingkah, Kila bukan melerai melainkan tertawa sembunyi-sembunyi karena menganggap itu lucu.
"Ayo, buruan salam-salaman. Aku udah lapar pengen menyantap semua yang ada di sini." Kila mengakhiri tawanya karena sang perut sudah memberikan kode.
"Kamu lucu banget, Akil. Normalnya, kan, makan dulu baru salam-salaman," balas Ira.
"Kamu lupa? Kila nggak normal tahu!" celetuk Risa. Sontak membuat Ira tertawa, disusul Risa pula.
"Lho, aku juga yang kena? Lagian, kita ini termasuk dekat sama kedua pengantin, kan? Kalau kita salaman setelah makan, kasian pengantinnya pada harus salaman sama tangan yang kotor bekas makanan. Nah, kalau salaman duluan, kan, bebas mau makan, bisa pakai dua tangan sekalian kalau mau. Dan, kita bisa makan sepuasnya karena kita termasuk dengan dengan kedua pengantin itu. Lumayan, makan gratis dan enak," ujar Kila membela diri.
Kila berjalan duluan karena agak kesal. Karena sadar tertinggal, Ira dan Risa cepat menyusul Kila di belakang.
"Selamat atas pernikahannya, Kak. Semoga sakinah mawadah warahmah. Aamiin."
"Terimakasih, Kila. Oiya, Kila, saya minta maaf tentang pendapat saya tentang menikah muda yang menyinggung perasaan kamu waktu itu, ya."
Kila yang mengerti maksud pembicaraan langsung mengangguk paham. "Iya, udah dimaafin."
"Bilang juga ke teman kamu yang namanya Risa, terimakasih."
Kini Kila tidak mengerti, tapi sebisa mungkin ia mencoba mengerjakan sesuatu yang diamanahkan. "Oke, bakal di sampein."
Karena keterlambatan Ira dan Risa menyusul Kila tadi, mereka terpisah tiga antrian. Ira dan Risa hanya mengucapkan selamat seperti biasa saja karena tidak terlalu akrab dengan Yuli maupun Farhan. Lalu, Ira dan Risa menyusul Kila yang sudah berhenti di depan meja prasmanan.
"Ris, katanya Kak Farhan, dia bilang terimakasih ke kamu."
"Terimakasih? Buat apa?"
"Nggak tahu. Soalnya nggak bilang detil. Lagian, antriannya panjang banget tadi, jadi mungkin dia nggak bisa jelasin."
"Pasti soal ucapan aku yang waktu itu. Baguslah kalau mereka sadar. Alhamdulillah, Allah udah bukakan pintu hati mereka." batin Risa.
...****************...