Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Sahabat Usil



Jam pulang sekolah sudah memasuki waktunya dan bel juga sudah berbunyi. Semua teman sekelas Kila sudah keluar kelas dan kelas hanya menyisakan Risa, Kila dan Irsyad. Kila memang lamban beberes sebelum pulang, karena ia orang yang sangat teliti untuk memeriksa adakah barang bawaannya yang ketinggalan. Sedangkan Risa dan Irsyad memang sudah punya rencana membicarakan berkas bersama.


Kila sudah memberikan biodatanya kepada Risa untuk dikumpulkan ke Irsyad, tepat saat hanya tinggal mereka bertiga yang di dalam kelas. Kila sengaja melakukannya karena ingin membicarakan sesuatu dengan Ira dan Risa, harusnya. Tapi karena Ira yang super aktif dan hanya Risa yang ada, mau tak mau Kila bicara cuma dengan Risa saja. Keaktifan Ira memang membuat geleng-geleng kepala, padahal ia masih tergolong siswa baru. Ira punya ekskul yang tiap jam pulang sekolah selalu kumpul di suatu best camp untuk mempererat hubungan kekeluargaan di internal ekskul, katanya. Anak super aktif itu memang sangat aktif di ekskul Pramuka sekolah.


Kila bukan mengantarkan biodatanya, Risa sendiri yang datang. Lebih tepatnya Risa menuju ke meja guru tempat Irsyad berada yang berdepanan langsung dengan meja Kila, jadi Kila mengambil kesempatan untuk bicara dengan Risa dengan menariknya untuk duduk dan bicara setelah menyerahkan biodatanya dan setelah Risa menyerahkan semua berkas yang dipegangnya ke Irsyad.


"Apa, sih, Kil? Main tarik-tarik aja. Mana baru ngasih biodata lagi," ucap Risa agak sewot. Irsyad tidak memperhatikan mereka karena sibuk memberi perhatian pada berkas yang diberi Risa dari wali kelas sebelumnya yang sudah dititipkan padanya. Jadi, Kila cukup berani mengajak Risa bicara di tempatnya yang berhadapan langsung dengan meja Irsyad.


"Kamu dan Ira. Tadi kenapa nggak kasih tahu aku kalau Pak Irsyad wali kelas pengganti itu? Enak ya, ngetawain aku tadi?"


"Ntah," dijawab singkat Risa.


"Iiih, Risa. Ira juga harusnya, nih. "


"Kamu lucu, Kil. Sebenarnya, aku sama Ira udah dari tadi pengen kasih tahu kamu. Tapi dari tadi pagi tuh aura kamu kayak bilang, 'jangan dekatin aku, aku lagi butuh sendirian,' gitu. Jangan ngasal loh kamu menghakimin orang." Risa sampai membisikkan langsung ke Kila tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi, ia tidak ingin Irsyad mendengar obrolan mereka.


"Ya tapi, kan ...," protes Kila dengan nada meninggi. Irsyad kemudian merasa tertarik dengan suara meninggi milik Kila untuk melihat apa yang terjadi dan menghentikan aktivitasnya. Sementara Kila yang peka terhadap perilaku Irsyad yang sudah memperhatikannya, mengurungkan niatnya untuk protes pada Risa.


"Risa, kamu ngajak teman kamu juga buat bantuin beresin berkas dan biodata?" tanya Irsyad yang sudah tak berkutat dengan berkas pemberian Risa. Ia agak heran dengan adanya kehadiran Kila, padahal Kila juga bukan wakil sekretaris.


"Enggak, Pak."


"Iya, Pak."


Jawab Kila dan Risa bersamaan. Kila langsung menatap kesal ke Risa.


"Iya, Pak. Tapi sebenarnya baru aja sih kepikirnya karena bapak bilang. Hehe. Kan kalau laki-laki berduaan didalam satu ruangan itu nggak baik, bisa menimbulkan fitnah juga. Tadi saya mau ajak wakil sekretaris juga, Pak, teman semeja saya. Tapi dia lagi kumpul ekskul, setelah bel langsung ke best camp-nya nggak bisa ditunda katanya. Ntar lagi, sekitar satu jam lagi baru dia kesini mau bantuin saya, Pak. Karena bapak nanya gitu, gimana kalau kamu bantuin aku, Kil?" Risa menerangkan. Ia melihat lebih banyak ke Irsyad lalu di akhir ucapannya melirik ke Kila.


"Lho, kok aku, sih? Risa, kasihan nenek aku di rumah sendirian," protes Kila.


"Kil, nenek kamu lho yang bilang kalau dia nggak keberatan kalau kamu nggak langsung pulang untuk keperluan sekolah. Manfaatin dong izinnya jangan disia-siakan." Risa menjawab dengan tegas. Kila hanya tidak ingin berdebat, kemudian memposisikan diri berdiri di samping Irsyad, diikuti oleh Risa.


PUAKKKK


Belum ada satu menit mereka berdiri, terdengar suara gebrakan pintu kelas yang membuat mereka bertiga beralih memperhatikan pelaku.


"Eh, maaf semuanya, nggak sengaja. Risa, aku buru-buru kesini karena mau bantuin kamu. Jadi tadi aku izin ke senior, makanya aku nggak lama di sana," ucap Ira dengan nada ngos-ngosan. Ira adalah pelaku yang menggebrak pintu itu.


"Ya buru-buru sih boleh, tapi jangan sampai digebrak juga pintunya. Kasihan pintunya," jawab Risa.


"Tangan aku nggak kamu kasihani, Ris?"


"Nggak!"


"Uh, tega, ih. Sakit juga tahu tangan aku."


"Suruh siapa pintunya disakiti? Kan nyakitin balik dianya. Kan kalau kita menyakiti sesuatu, sesuatu itu pasti akan menyakitimu balik. Udah hukum alam, tau, Ra!"


"Kalau mau ketawa, ketawa aja kali, Kil," celetuk Risa karena terlihat Kila sibuk menutupi bagian mulut mungilnya dengan berkas yang ia pegang.


"Eh, nggak, kok. Siapa juga yang ketawa?"


"Iya, saya melihat juga, kamu menertawakan dua temanmu itu, tadi." Tanpa aba-aba, Irsyad malah ikut nimbrung dalam percakapan antar tiga sahabat itu. Kila jadi mati gaya, ada orang yang memergokinya ternyata.


"Ya udah yuk, kerja kerja," ucap Ira menetralkan suasana yang sempat canggung akibat Irsyad.


"Bentar ya, guys. Aku ngabarin nenek dulu. Takut nenek kecarian nanti."


"Oke," ucap Ira dan Risa bersamaan.


"Udah aku chat nenek tadi," ujar Kila.


"Alhamdulillah, kalau gitu," Risa menanggapi.


...****************...


Kila Irsyad dan Risa tidak khawatir dengan zuhur mereka. Mereka sudah mengerjakannya pada jam istirahat kedua sekolah yang berdurasi tiga puluh menit. Namun tak terasa, waktu ashar sebentar lagi akan sampai sekitar satu jam lagi. Pekerjaan mereka juga sudah selesai. Akhirnya Irsyad memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan ini dengan sepatah kata.


"Oke, terimakasih atas bantuan kalian bertiga. Pekerjaan ini lebih cepat selesai dari perkiraan saya. Sebenarnya saya cuma ingin meminta berkas saja ke sekretaris dan akan saya kerjakan di rumah, tapi Risa ini berinisiatif membantu pekerjaan saya. Ditambah, mengajak dua temannya yang lain. Saya ngganggur, nih, nanti malam."


"Sama-sama, Pak. Lagian di kita juga untung, kok, Pak. Iya kan, Kil?" jawab Risa menunjuk ke Kila.


"Eh? Untung dimana?" tanya Kila berbisik pada Risa.


"Kamu kan mau ngucapin terimakasih buat yang waktu itu, Kil. Nih orangnya udah di depan mata. Tunggu apalagi, coba?" jawab Risa balik berbisik ke Kila.


"Iya, loh, Akil. Ambillah kesempatannya," ujar Ira ikut menimpali berbisik ke Kila.


"Aku nggak tau buka percakapannya gimana," bisik Kila lagi.


"Tenang, Akilku sayang. Biar aku yang basa-basi dulu. Ntar, kamu sama Risa ikut nimbrung, gimana?" kata Ira berinisiatif.


"Oke," hanya dijawab Risa saja.


Dilain sisi, Irsyad heran dengan tiga serangkai itu. Berbisik-bisik di depan dirinya. Lagian yang benar-benar berbisik hanya Kila dan Risa. Suara Ira bahkan bisa terdengar jelas oleh Irsyad. Tapi Irsyad memutuskan untuk pura-pura tidak tahu saja, kemudian mengulum senyum dengan menunduk agar tak terlihat mereka. Bagi Irsyad tingkah tiga serangkai itu sangat menggelikan.


"Ehm, Pak. Ada yang mau saya tanyakan ke bapak," ujar Ira didului dengan berdehem.


"Iya, mau nanya apa?" jawab Irsyad.


"Bapak tadi sadar, nggak? Waktu bapak perkenalan di kelas, kan, ada bahas tentang ta'aruf, tuh. Nah, kenapa pas bapak bilang, 'saya ingin kita berta'aruf' itu lihatnya ke Kila sih? Kan salah sangka nanti dia, emang bapak mau ta'arufin beneran?" Ira benar memang ingin membuka percakapan. Tapi pembukaan percakapan oleh Ira itu sekaligus membuka mata Kila lebar-lebar. Kila tak menyangka Ira membuka percakapan dengan topik yang benar-benar membuat Kila mati kutu.


Kila tak habis pikir. Dua sahabatnya ini usil sekali. Risa yang menyeretnya ke sini, lalu Ira yang membuka topik itu membuatnya malu. "Dasar, sahabat usil," batin Kila.