Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Kembalikan Kehangatan Rumah!



"Makan malam ini, aku harus bicara dengan Kak Irsyad. Aku yang harus memulai langkah lebih dulu." Kila mondar-mandir memikirkan perkataan dosennya itu.


"Kak Irsyad," sambut Kila.


"Kila? Kamu menunggu saya?"


"Kak, biarkan Kila melakukan hal yang seharusnya." Kila mendekat dan berusaha mengembalikan rutinitas yang biasanya dilakukan, menyalim tangan Irsyad. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk melakukan itu kembali setelah lama tidak ada kontak fisik dengan sang suami.


"Tidak ada kecupan?" batin Kila dan matanya berkaca-kaca. Bukan rutinitas komplit sepertinya, karena Irsyad enggan membalas dengan kecupan di kening Kila.


"Kak..., nggak ada balasan? Kenapa nggak lakuin seperti biasanya?" ucap Kila seraya menahan air matanya.


"Saya takut tidak pantas melakukan itu," jawab Irsyad singkat. Ia berjalan menuju meja makan meninggalkan Kila.


"Kenapa? Kila udah mengharapkan itu, Kak. Kecup kening Kila!" Kila meninggikan suaranya, membuat langkah Irsyad tertahan. Derai air mata berjatuhan. Berkali-kali Kila mendapat penolakan, tapi ini yang paling berasa sakitnya karena ditolak secara langsung oleh sang suami.


"Maafkan saya Kila," jawab Irsyad menunduk.


"Apa susahnya mengecup kening istri sendiri? Apa yang membuat Kakak ragu?" tanya Kila memerah karena amarah.


"Kalau Kila ada salah, tolong kasih tahu, Kak. Kila nggak bisa tahu kalau Kak Irsyad giniin Kila," lanjut Kila.


"Saya juga memikirkan hal yang sama, Kila. Kalau ada yang salah dari sikap saya, tolong beri tahu saya!"


Ironis sekali. Keduanya sama-sama merasa ada yang salah.


"Maaf sebelumnya kalau volume suara Kila jadi meninggi, Kak. Tapi biarkan Kila yang lebih dulu mulai kasih tahu kalau ada yang salah dari sikap Kakak." Kila mulai mengontrol amarahnya. Air matanya juga telah diusapnya.


"Silahkan, dengan senang hati saya akan mendengarnya," balas Irsyad. Perkataannya membuat Kila panas lagi.


"Kila kesal! Kak Irsyad menyebalkan. Kak Irsyad harus tanggung jawab untuk semua air mata yang Kila tumpahkan karena di sebabkan oleh Kakak," ungkap Kila memulai.


"Kakak nggak pakai cincin nikah, nggak bicara apa yang salah dari ucapan Kila saat kita berdebat masalah hubungan kita di kampus waktu itu. Kak Irsyad nggak masuk kamar untuk shalat witir di kamar, nggak tidur juga di kamar, kenapa kayak gitu? Itu menyakiti hati Kila yang udah nunggu Kak Irsyad dari tadi."


"Kak, setelah berdebat waktu itu Kakak nggak mau memberikan tangan kakak untuk Kila salim. Kakak juga enggan mengecup kening Kila sebagai rutinitas yang biasanya kita lakukan. Kila jadi bertanya-tanya, apakah Kila begitu hina sampai Kak Irsyad enggan menyentuh?"


"Soal makan. Mungkin ini masalah sepele, tapi bagi Kila ini yang paling menyakitkan. Saat Kila mau memperbaiki hubungan kita yang mulai mendingin, Kila memasakkan camilan kesukaan Kakak sebagai bekal tambahan makan siang, nyatanya makanan dan camilan yang Kila siapkan dengan sepenuh hati nggak Kakak sentuh sama sekali. Malam juga, Kila udah siapkan makan malam tapi Kakak bilang udah makan di tempat teman. Kila nggak tahu alasan Kak Irsyad melakukan itu karena Kak Irsyad nggak pernah bilang ke Kila. Kak Irsyad yang berusaha janji akan selalu menjaga komunikasi, lalai dan lupa kalau kita jadi jarang bicara sejak perdebatan waktu itu."


Soal makan, Irsyad menyadari kesalahannya setelah Kila berkata seperti itu.


"Kila muak dengan tingkah Kakak. Setiap Kila melihat Kakak masuk ke ruang kerja, itu mengingatkan Kila dengan nenek dan orang tua Kila. Kakak seolah memberikan alasan tentang menumpuknya pekerjaan, sehingga nggak bisa ditinggal. Tidur dan shalat pun harus di tempat itu. Sama seperti orang tua Kila. Ada atau tidak adanya mereka saat di rumah, itu sama aja. Tentang nenek, nenek mungkin benar kalau Kak Irsyad bisa jadi imam yang tepat untuk Kila, tapi apa sebaliknya gitu juga? Apa Kila adalah makmum yang tepat untuk Kak Irsyad? Kila yang selalu over thinking tentang hal-hal yang sudah jelas mengganggu Kila, selalu berusaha untuk positif thinking tapi tidak bisa, selalu berusaha mengerti orang lain tapi malah mencampurkan dengan emosi sendiri seperti sekarang. Kila mencoba mengerti apa yang Kakak lakukan ke Kila, tapi ternyata Kila nggak sekuat itu. Itu berarti Kila bukan orang yang tepat untuk jadi istri Kak Irsyad, untuk mengerti Kak Irsyad aja Kila nggak mampu."


"Kakak sibuk dengan urusan yang Kila nggak tahu urusan apa itu. Ruang kerja menjadi prioritas Kakak daripada apapun. Suasana rumah yang hangat menjadi dingin karena Kak Irsyad enggan keluar dan menceritakan hal yang menimpa Kakak, enggan berbagi cerita, enggan membagi beban dengan Kila. Kak Irsyad juga berubah, kemana sifat hangat Kakak? Tiba-tiba menjadi dingin, itu bukan Kak Irsyad yang Kila kenal," jelas Kila. Ia memberi jeda sebentar untuk melihat Irsyad. Irsyad terlihat seperti mati kutu, tidak dapat membantah apapun dari yang Kila ucapkan. Lebih memilih diam dan mendengarkan saja.


"Boleh Kila jujur? Ucapan ini akan sangat nyelekit, Kila minta maaf sebelumnya." Irsyad yang tertegun menunduk itu mencoba menatap Kila.


"Kayaknya nggak ada gunanya kita tinggal di satu atap seperti ini. Bukannya makin dekat, kita malah makin menjauh. Atau memang dari awal kita nggak ada kecocokan, sehingga harusnya wasiat nenek waktu itu diabaikan aja."


"Jangan bicara seperti itu, Kila!" cegah Irsyad.


"Kenapa nggak boleh? Memang kenyataannya begitu. Tinggal di sini mengingatkan Kila tentang bagaimana kondisi rumah bersama mama dan papa. Mengingatkan Kila bagaimana nenek begitu kesepian saat orang rumahnya sibuk dengan urusan masing-masing. Hal yang nenek rasakan, kini Kila bisa merasakannya. Ternyata ini rasanya kesepian, ya? Seperti udah pernah terjadi sebelumnya, tapi kali ini lebih terasa, Kila nggak tahu kenapa."


"Saya minta maaf karena mengingatkan kamu dengan momen pahit itu." Irsyad mendekat meminta maaf. Ingin ia meraih tangan Kila, tapi mengingatkan apa yang baru saja ia lakukan ke Kila membuatnya enggan. Irsyad tahu, meminta maaf saja tidak akan cukup, jadi biarkan Irsyad menerima semua yang dikatakan Kila.


"Sekarang apa yang mau Kak Irsyad lakukan? Pisah rumah seperti yang Kila usulkan?" ucap Kila meninggi.


"Tidak, bukan begitu!" sangkal Irsyad cepat.


"Terus apa? Rumah ini terlalu dingin, Kak Irsyad juga dingin. Kila nggak tahu apa rumah ini bisa hangat lagi untuk Kila bisa bertahan tinggal di sini, satu atap dengan Kak Irsyad," tantang Kila.


"Saya tidak tahu. Apa kamu bisa mengatakan hal apa yang harus saya lakukan agar kamu bisa bertahan tinggal bersama saya?" Mendengar jawaban Irsyad itu, membuat Kila tersenyum sinis.


"Kalau begitu, kembalikan, Kak! Kembalikan suasana hangat rumah ini. Apa Kakak bisa?" Irsyad tampak berpikir sejenak. Ia tidak bisa begitu saja menjanjikannya, itu sama saja dengan mengobral janji. Dan lagi, Kila menunjukkan senyum sinisnya karena melihat Irsyad yang bahasa tubuhnya mengatakan bahwa Irsyad tidak akan mampu memenuhi itu.


"Berat, kan? Kak Irsyad sedang sibuk-sibuknya mengurusi pekerjaan. Apalagi, sekarang sedang sibuk membimbing mahasiswinya yang lebih diprioritaskan. Sampai-sampai lupa dengan istrinya yang waktu itu dijanjikan akan menjadi dosen pribadi untuk membantu kesulitan dalam mengejar target lulus lebih cepat seperti yang Kila targetkan," sindir Kila.


Irsyad yang sudah selesai berperang dengan pikirannya, akhirnya selesai memutuskan apa yang harus ia lakukan.


"Ya benar, tidak ada yang salah dari yang kamu ucapkan. Saya minta maaf sudah membuat kamu menderita seperti ini. Beri saya kesempatan untuk mengembalikan suasana hangat rumah ini. Saya memang tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Irsyad. Ia tahu itu tidak serta-merta meredam emosi Kila, tapi ia hanya bisa melakukan itu saja.