Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Awal Suasana Ujian



Hari ujian di mulai mungkin menyebalkan bagi banyak orang, mereka dipaksa menyelesaikan soal dengan harus belajar dengan keras sebelumnya. Ujian juga digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam pembelajaran selama satu semester. Kila terkadang tidak ingin sistem ujian yang seperti itu. Seolah sistem itu meremehkan kemampuan siswa yang benar-benar mampu saat mengerjakan seluruh tugas sebelum ujian semester ini, dan lagi tidak semua murid memiliki potensi yang sama dalam bidang akademik. Kila kadang iri dengan negara-negara di Skandinavia yang tidak mengerjakan ujian sebagai penentu bahkan penilai.


Kila memang murid terpandai di kelasnya, namun sebenarnya ia tidak suka belajar. Ia bisa mengingatkan pelajaran saat sekali dengar saja, waktunya di rumah hanya mengerjakan tugas yang telah diberikan. Selama ujian ia memang belajar, ia tidak ingin mengecewakan siapapun dengan sebuah angka rendah sebagai nilai yang tertulis di sebuah kertas. Termasuk orang tuanya, yang menuntut banyak pada Kila.


"Gimana ujian hari pertamanya, lancar?" Kila menghampiri Risa dan Ira, melangkah bersama menuju keluar kelas sambil menciptakan sebuah obrolan.


"Aku sih, aman, kamu gimana, Ra?" ucap Risa percaya diri.


"Wuush, kayak air mengalir lah pokoknya, lancar jaya, hahahaha," ucap Ira tak kalah percaya diri.


"Kalau Akil, mah, nggak usah ditanya juga kita udah tahu, ya kan, Ris?" lanjut Ira. Risa mengangguk setuju.


"Alhamdulilah kalau gitu, kita bertiga lancar aja di ujian hari pertama. Aku mau langsung pulang, nih. Kalau kalian gimana?" ucap Kila. Hari ujian memang pulang lebih cepat dari biasanya. Ia masuk pukul setengah delapan dan pulang pukul sebelas. Ia bisa melaksanakan sholat Zuhur di rumah sakit, sekalian menemani nenek.


"Aku mau kumpul sama anak Pramuka, bahas soal ujian juga dari kakak senior," ucap Ira.


"Aku juga mau kumpul bareng anak PMR, bahas soal juga, Kil," ucap Risa menyusul.


"Oh, ya udah. Kalau gitu aku duluan, ya. Kalian jangan lupa pulang, belajar yang rajin, jangan cuma mengandalkan pembahasan soal di ekskul aja, oke? Dadah..." Kila perlahan meninggalkan mereka.


"Hati-hati di jalan," balas Ira dan Risa bersamaan.


...****************...


Setelah mengganti bajunya di rumah, Kila melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Karena bertepatan dengan waktu Zuhur, Kila menyempatkan sholat dulu di musholla rumah sakit sebelum ke ruangan nenek.


Nenek terlihat sedang tidur siang, ini kesempatan Kila untuk belajar. Kila sering kali melihat nenek tidur siang akhir- akhir ini, bahkan nenek sudah tidak mau makan siang dan mengandalkan infus saja. Kila sedikit terganggu dengan keadaan nenek, kesehatannya yang sebenarnya bagaimana? Apakah semakin memburuk?


Kila juga sudah memakan makanan yang ia beli setelah melaksanakan sholat Zuhur tadi. Kebetulan, kantin rumah sakit searah dari musholla dan ruangan nenek.


Mata pelajaran tadi hanya yang umum, Pelajaran agama dan PKN. Jadi, Kila masih percaya diri dengan itu. Tapi mulai besok, ia harus mempersiapkan alat tempur yang handal karena ada pelajaran yang banyak ditakuti oleh anak-anak IPS, Matematika wajib. Ia harus fokus belajar untuk menjawab ujian yang paling ditakuti itu. Tak terasa, ia belajar sudah sampai isya. Kila tidak melihat tanda-tanda Irsyad datang. Ia memutuskan untuk melaksanakan sholat isya dulu baru setelahnya menyambung belajarnya. Sebelumnya ia juga menjeda belajarnya setiap waktu sholat tiba.


Irsyad memang sudah mengatakan ia akan sering datang berkunjung ke rumah sakit selama Kila ujian. Namun, ia memutuskan untuk datang terlalu malam, ba'da isya ia baru berangkat dari rumahnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan ini, jam efektif Kila belajar pasti di saat malam. Dan di waktu itulah pasti nenek akan sangat kesepian.


"Assalamu'alaykum, Bu. Ini saya bawakan roti," ucap Irsyad saat memasuki ruangan nenek.


"Iya, Bu. Bagaimanapun juga saya juga sudah berjanji. Tapi ini bukan karena saya sibuk, kok, Bu. Mulai besok dan seterusnya saya akan datang di jam segini dan akan pulang pukul sepuluh malam. Karena jam efektif siswa belajar di rentang waktu itu, di rentang waktu itulah saya akan menjadi teman mengobrol Ibu." Irsyad berucap sambil mengoleskan selai ke roti.


"Silahkan dimakan, Bu," ucap Irsyad seraya menyuguhkan roti tadi.


"Duh, Nak Irsyad, selalu begini. Terimakasih banyak, ya, Nak Irsyad." Nenek menerima suguhan. Ia mencuil roti sekecil mungkin karena ia takut memuntahkannya karena ia tidak ada makan apapun sejak semalam.


"Eh, Kila, kamu habis dari mana?" Irsyad duluan bertanya karena melihat Kila datang memasuki ruangan.


"Pak Irsyad... Kenapa datang jam segini?" Kila bertanya balik.


"Saya yang tanya duluan, kamu jawab dulu harusnya, baru kamu tanya balik ke saya," balas Irsyad tertawa kecil.


"I-itu, abis sholat isya tadi, Pak. Soalnya keasyikan belajar, jadi ketinggalan waktu berjamaahnya. Bapak kenapa datangnya malam begini? Saya pikir Bapak tidak akan datang karena biasanya datang di saat jam makan siang. Saya agak terkejut juga, Pak, atas kedatangan Bapak," jelas Kila.


"Iya, di jam ini biasanya kamu akan fokus belajar, kan? Maknanya saya datang, dan mulai seterusnya juga hingga pukul sepuluh malam. Tenang, tidak akan merepotkan, kok. Kamu jangan membantah lagi. Kamu bisa lanjutkan lagi belajarnya, besok ujian matematika, kan? haha," ujar Irsyad. Ia sedikit meledek Kila dengan sedikit tertawa.


"Ih, Pak, kenapa diingatkan, sih?" jawab Kila kesal. Ia ke mejanya dengan sedikit gusar akibat Irsyad. Sedangkan Irsyad malah makin tertawa karena sikap Kila.


"Uuweek, uweeek," Nenek mulai muntah. Seketika itu juga Kila dan Irsyad mendekat untuk melihat nenek.


"Pak, nenek tadi makan roti ini, ya?" tanya Kila panik. Irsyad hanya mengangguk menanggapi.


"Duh, nenek nggak ada makan apa-apa dari tadi malam. Mungkin lambungnya menolak. Pak, tolong ambilkan wadah dan air minum untuk nenek di meja itu, Pak. Saya mau memijat punggung nenek," ucap Kila semakin panik.


Irsyad datang dengan membawa apa yang Kila mintakan. Irsyad berusaha tenang agar Kila tidak semakin panik.


"Saya minta maaf, ya, Bu. Saya tidak tahu kalau Ibu ternyata belum ada makan apapun. Ibu jadi segan menolak karena sudah saya suguhi lebih dulu. Harusnya di awal saya tanyakan," Irsyad berkata pada nenek setelah nenek mulai berhenti muntah.


"Tidak, tidak apa-apa, Nak Irsyad. Saya juga harus mengisi perut saya, dan tidak terlalu mengandalkan infus ini. Kejadian ini saya anggap sebagai latihan buat lambung saya, jadi ini justru bagus, Nak Irsyad. Jangan merasa bersalah seperti itu." ucap nenek menenangkan.


Kejadian ini membuat Irsyad menjadi lebih dekat dengan keluarga Kila. Bahkan, ada rasa perhatian yang berlebih ingin Irsyad berikan pada dua orang di depannya ini.


...****************...