
Semua harusnya baik-baik saja. Sebab, sudah tidak ada lagi kesalahpahaman antara Kila dan Irsyad. Persoalan Nabila telah selesai Irsyad jelaskan. Namun, setelah mendengar pernyataan Nabila, Kila seperti sedang tidak baik-baik saja.
Kila menatap cincin pernikahan miliknya. Beberapa waktu lalu setelah wisuda, ia sudah mantap untuk menunjukkan statusnya. Namun, ia sekarang ragu untuk mengenakan cincin itu. Menyimpannya kembali ke dalam nakas samping tempat tidurnya.
Irsyad tahu keraguan Kila. Ia pikir, Kila masih belum terbiasa dengan cincin itu, makanya belum ingin mengenakannya. Ia pun mengimbanginya dengan menahan diri pula untuk memasang cincin pernikahan mereka.
"Umm..., Kila," Irsyad membuka suara. Saat ini mereka sedang makan siang.
"Iya, Kak?"
"Setelah makan siang ini, saya akan bertemu Nabila," ujar Irsyad. Kila menghentikan kegiatan sejenak. Baru kali ini Irsyad memberitahu akan menemui Nabila. Memang obrolan sebelum tidur itu sudah sepekan terlewati, mungkin inilah upaya Irsyad untuk tidak membuat kesalahpahaman lagi. Namun, karena semalam ia baru saja mengetahui kebenaran mengejutkan dari mulut Nabila, Kila resah. Hanya mendengar Irsyad memberitahukan akan menemui wanita yang menyukai Irsyad saja benar-benar mengganggu pikiran Kila. Seperti ada rasa tidak ikhlas untuk membiarkan suaminya menemui wanita yang menyukai suaminya—Irsyad.
Kila menarik napas panjang, berusaha berpikir positif dan normal.
"Pulang jam berapa, Kak?" tanya Kila bersikap biasa saja.
"Setelah shalat Ashar. Saya shalat di masjid dekat kafe dulu, lalu langsung pulang."
"Ada yang perlu Kila siapkan?"
"Tidak ada."
"Ada yang perlu Kila bantu?"
"Tidak ada."
"Apa yang harus Kila lakukan untuk menjalankan tugas sebagai istri? Nggak ada yang perlu disiapkan dan nggak ada yang perlu di bantu."
"Saya senang kamu sudah mulai terbiasa dengan status kamu yang sekarang sebagai istri sepenuhnya. Tidak ada yang perlu kamu lakukan, bukan berarti kamu tidak menjalankan tugas sebagai istri. Cukup sambut saya ketika pulang saja sudah sangat membuat saya senang."
"Dan teh pahit?" Kila menimpali. Seketika, Irsyad tertawa. Sebab, ia mengira istrinya akan jengkel karena tidak ada yang harus dilakukan sebagai istri.
"Hahahaha. Itu sudah pasti akan meningkatkan kesenangan saya."
"Oke, deh, Kak," jawab Kila. Lalu Irsyad mengusap lembut kepala Kila. Kila merespons dengan agak terkejut, sebab sudah lama sekali Irsyad tidak melakukan itu kepada Kila.
...****************...
"Kila, nanti saya akan ketemuan dulu dengan Nabila. Kamu saya antar ke rumah bunda dulu nggak apa-apa, kan?" ucap Irsyad. Keduanya sudah selesai dengan aktivitas sarapan. Mereka bersiap-siap menuju rumah Citra.
"Lagi? Terus, di Hari Minggu juga?" keluh Kila. Tanpa sadar ia menunjukkan bibirnya yang manyun, lalu menunduk.
Entah kenapa Kila masih kesal saat suaminya dengan gamblang mengatakan akan bertemu Nabila. Inilah yang dinamakan cemburu, Kila.
"Iya, Nabila punya waktu di Hari Minggu ini. Biasanya dia tidak bisa kalau Hari Minggu atau hari libur," jawab Irsyad.
"Terus, Pas hari kerja juga ketemuan lagi?" keluh Kila lagi. Kini ia sudah benar-benar menunjukkan wajah kesalnya ke Irsyad. Bibirnya yang manyun pun ia tunjukkan tanpa ada keinginan untuk menunduk kembali.
"Kila, saya tahu ini pasti memuakkan. Setiap saya ingin bertemu Nabila, pasti saya akan bilang ke kamu. Saya mengerti ada rasa kesal di hati kamu, tapi hanya ini yang saya bisa lakukan. Saya tidak ingin diam-diam menemui Nabila tanpa memberitahu kamu, lalu membuat kesalahpahaman yang lain. Saya harap kamu mengerti, ya?" Irsyad memberi pengertian seraya mengusap-usap kepala Kila. Lalu, Kila mengangguk menanggapi.
Keduanya sudah tiba di rumah Citra. Irsyad memutuskan untuk masuk sebentar menyapa kedua orangtuanya. Lalu, mengajak Citra untuk menemani sang istri.
"Hati-hati di jalan, Kak." Irsyad mengecup kening Kila sebelum berangkat menuju tempat pertemuannya dengan Nabila.
Kila mengantar Irsyad sampai depan pagar, sekalian untuk menutup pagar. Lalu, tak di sangka ia malah bertemu orang yang akan di temui oleh suaminya.
"Mbak Nabila?" sapa Kila.
"Kila? Ya ampun, bisa ketemuan di sini. Lagi main ke tempat Bu Citra, ya?"
"Iya, Mbak, hehehe. Eh..., Mbak Nabila tahu Bu Citra?" Kila cukup hati-hati dengan ucapannya. Tidak boleh menyebut Bunda sedangkan Citra dipanggil dengan sebutan Bu oleh Nabila.
"Ya tahu, dong. Aku ngekos di sebelah soalnya," jawab Nabila dengan bangga. Entah untuk apa kebanggaan itu ia tunjukkan.
"Astaga..., anak kos ternyata. Duh, saya jadi nggak sopan sama anak kosnya Bu Citra. Maaf ya, Mbak," respons Kila. Namun, dalam hatinya ia benar-benar dibuat terkejut. Wanita itu sudah membuat dua pernyataan yang begitu mengejutkan Kila. Karena dengan itu artinya Nabila sudah sering mendengar Irsyad dari Citra. Kebetulan macam apa ini, Nabila bisa menge-kos di kosan keluarga Irsyad?
"Iya, nggak apa-apa. Oiya, aku buru-buru, nih. Nanti aku hubungi, ya, untuk melanjutkan percakapan ini. Kita ketemuan entah ke mana gitu. Pasti aku hubungi, kok. Oke, yah. Dah...," ucap Nabila mengakhiri. Nabila begitu lihai membawa motor, belum sempat Kila menanggapi, Nabila sudah melaju dengan kecepatan penuh.
"Oke, Mbak. Hati-hati di jalan," respons Kila telat.
Bertemu dengan Nabila membuat Kila penasaran. Mungkin akan ada kejutan lain yang akan terungkap tentang Nabila. Ia memutuskan untuk bertanya kepada Citra mengenai Nabila.
"Kila, kok agak lama anter Irsyad ke depan pagar?" sambut Citra saat Kila sudah kembali ke dapur tempat Citra berada.
"Iya, Bun. Soalnya, tadi ketemu sama kenalan. Ternyata dia anak kos nya bunda. Jadi, tadi ngobrol sebentar," ujar Kila.
"Anak kos? Siapa?" Saat yang tepat untuk Kila menanyakannya.
"Mbak Nabila. Bunda dekat nggak sama anak kos itu? Setahu Kila, bunda dekat sama semua anak kos," ujar Kila memulai topik pembicaraan.
"Iya, bunda memang dekat sama semua anak kos, tapi nggak sedekat saat sama kamu. Kamu tetap nomor satu," balas Citra jujur tetapi terlihat geli didengar.
"Hehe, bunda bisa aja, deh," tawa Kila.
"Nabila, ya? Dia jarang ke sini, sih. Terus, setiap hari libur dia juga nggak ada di kos. Soalnya, Bunda sering lihat dia pergi di hari libur. Aa..., dia juga abis operasi, anak kos yang lain yang kasih tahu Bunda. Waktu sakitnya udah parah banget, bunda sama ayah sempat anterin ke rumah sakit. Terus, minta Farhan untuk jaga rumah," jelas Citra mengatakan yang ia ingat saja. Namun, hanya dari penjelasan yang Citra ucapkan sudah membuat keterkejutan lain untuk Kila.
"Ooh, anak kos yang di maksud Kak Farhan waktu itu Mbak Nabila, ya? Kasihan banget sampai di operasi. Apa Kak Irsyad tahu hal itu?" batin Kila sesaat melamun sejenak.
"Yuk, lanjut lagi masaknya."
"E-e, iya, Bun."
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu mau tahu tentang Nabila dari Bunda? Kalau kenalan, harusnya kamu bisa tanya langsung ke orangnya, kan?"
"Iya, sih, Bun. Cuman, karena bunda udah mancing topik itu, Kila jadi penasaran, deh. Hehe," jawab Kila. Meski tidak bohong ataupun jujur.
"Ooh, gitu ternyata."
...****************...