Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Penjelasan



"Pak Irsyad! Cukup lama di musholla, abis menunaikan shalat, ya?" sapa Nabila. Irsyad baru mendatangi Nabila dari mushalla, terlambat tiga puluh menit dari jam pertemuan yang disepakati sebelumnya.


"Tidak, saya hanya ambil wudhu. Shalat sudah saya laksanakan di masjid dekat kampus sebelum ke sini."


"Ooh, begitu."


"Maaf Nabila, sepertinya tidak akan efektif kalau kita melanjutkan meeting ini. Sudah terbuang setengah jam, dan waktu ashar sebentar lagi tiba. Jadi, kita tunda saja," ujar Irsyad agak sinis. Emosinya belum sepenuhnya stabil.


"Lho, kenapa, Pak?"


"Sudah saya bilang, kan?" ujar Irsyad makin sinis. Lalu, ia berniat meninggalkan Nabila untuk pulang.


"Terus, Bapak mau pulang sekarang?" tanya Nabila saat Irsyad sudah membalikkan badan.


"Bapak udah ada di sini dari tadi, ya? Lihat aku ngobrol sama Pak Gilang juga berarti?" ucap Nabila yang lolos mencekal langkah Irsyad.


"Pak Gilang? Kenapa Nabila menyebutnya biasa saja? Seperti tidak ada hal yang terjadi dan salah menurutnya," batin Irsyad. Kemudian membuat Irsyad penasaran dan menghentikan niatnya untuk pulang.


"Saya kebetulan ada di sini lebih dulu untuk membimbing mahasiswa."


"Udah dari tadi, ya? Kenapa nggak samperin kita, Pak? Kalau udah siap bimbingannya, harusnya Bapak ikut gabung sama kita."


"Kenapa saya harus gabung?"


"Pak Gilang keluarga Bapak, kan? Waktu itu saya lihat beliau berkunjung ke rumah Bapak."


"Hah? Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud," balas Irsyad berusaha untuk menstabilkan emosi. Melihat Irsyad yang pasti emosi, Irsyad dipersilahkan duduk oleh Nabila.


"Kita duduk aja dulu, Pak. Biar enak bicaranya. Masih ada waktu sebelum ashar, kan?" tawar Nabila. Irsyad menyetujui karena penasaran. Dan karena ia marah dalam keadaan berdiri, ia harap dalam keadaan duduk dapat meredakan marahnya.


"Bapak dengar semua pembicaraan, kan? Saya tahu, Bapak tidak berniat menguping, itu terdengar begitu saja," tebak Nabila tepat sasaran.


"Saya hanya mendengar sekilas, karena saya juga fokus memperhatikan mahasiswa saya," sangkal Irsyad.


"Bapak marah dengan yang telah didengar? Apa Bapak melihat yang Mama lakukan juga ke Pak Gilang?" Irsyad diam. Lagi-lagi, tebakan Nabila tepat sasaran.


"Ya ampun..., malu banget saya," ucap Nabila saat Irsyad diam serta menunjukan wajah kesal. Kila meraup wajahnya gusar.


"Saya tahu Pak Gilang keluarga Bapak, tapi saya tidak punya hak untuk menanyakan hubungan bagaimana yang Anda berdua jalin. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas yang Bapak lihat dan dengar," ucap Nabila dengan rasa bersalah.


"Haha, wajar, sih, kalau Bapak ngiranya gitu setelah melihat kelakuan Mama ke Pak Gilang," jawab Nabila. Irsyad paham bahwa tebakannya itu salah.


"Saya seorang yatim, Pak," lanjut Nabila. Seketika Irsyad iba mendengarnya. Namun, sesaat kemudian ia masih belum menerima kenyataan yang baru ia dapat.


"Mama itu mantan pacar Pak Gilang waktu zaman kuliah. Terus, Mama nikahnya sama Papa, yang waktu itu sahabat dekat Pak Gilang. Semenjak masuk kuliah, Papa meninggal. Papa menjalin kerjasama dengan perusahaan Pak Gilang, mereka tetap bersahabat dekat meskipun udah punya keluarga sendiri. Karena Papa meninggal, perusahaan jadi sulit keurus. Akhirnya mama meminta bantuan langsung ke Pak Gilang. Walaupun itu usaha yang sia-sia karena perusahaan peninggalan papa udah benar-benar bangkrut sekarang," jelas Nabila.


"Keuangan mandek. Mama bolak-balik ke luar kota untuk memulihkan kondisi ekonomi, berusaha untuk membangun perusahaan yang Papa tinggalkan. Karena Pak Gilang sempat menjalin hubungan dekat dengan Mama dan Papa, akhirnya beliau bisa bantu. Berkali-kali Pak Gilang memberikan uang untuk Mama membangun bisnis. Pernah juga menjalin kerjasama dengan perusahaan Pak Gilang. Namun, Mama yang nggak pernah terjun di bidang usaha nggak bisa mengurus semuanya. Sejak setahun terakhir, Pak Gilang rutin memberikan uang bulanan untuk membantu saya dan Mama. Bukan sebagai klien lagi, tapi sebagai seorang teman yang ingin membantu," tambah Nabila.


Sepanjang Nabila menjelaskan, Irsyad mengepalkan tangannya yang menjadi simbol kemarahannya. Ia berusaha mengerti, tapi tidak bisa. Sebab, Gilang adalah mertuanya, orang tuanya Kila. Irsyad jadi tahu darimana Kila di didik, membuat Irsyad merasa tidak terima atas perlakuan Gilang terhadap Kila. Gilang lebih mementingkan orang lain ketimbang keluarganya sendiri. Lebih menyayangi anak orang daripada anak sendiri.


"Pak Gilang itu baik banget orangnya. Uang bulanan ia beri cuma-cuma kepada Mama. Pas saya mau operasi, saya nggak mau memanfaatkan kebaikan beliau lagi, makanya saya lebih memilih untuk berhutang. Mama juga nggak tahu kalau saya pernah di operasi. Akibat kebiasaan Mama yang hidup hedon waktu Papa masih ada, kita sering kekurangan uang. Alhasil, Mama selalu menghubungi Pak Gilang untuk dibantu lagi," ujar Nabila mengakhiri.


"Dan Mama kamu memanfaatkan kebaikan beliau? Apa Mama kamu tidak tahu kalau Pak Gilang sudah punya istri dan anak?" Irsyad menunjukkan tatapan marah.


"Saya juga risih dengan kebaikan beliau. Mama mungkin masih menyimpan rasa sama Pak Gilang, makanya Mama selalu senang berhubungan dengan Pak Gilang. Padahal, mereka cuman mantan pacar doang. Saya udah berkali-kali bilang ke Mama untuk putus hubungan dengan Pak Gilang, tapi itu sia-sia. Mama lebih memilih untuk mempertahankan kenyamanannya dengan bergantung sama beliau terus. Padahal, semenjak saya bekerja paruh waktu dengan Pak Irsyad, keuangan udah baik-baik aja tanpa harus mengandalkan bantuan Pak Gilang lagi."


"Kenapa bukan kamu yang bilang?"


Nabila seperti diintimidasi oleh Irsyad. Setiap ucapan Irsyad menohok hati Nabila. Ia mulai bergetar ketakutan. Nada bicaranya goyah. Namun, ia berusaha menjawab Irsyad.


"Saya cuma seorang anak, Pak. Argumen atau saran saya hanya di dengar sebagai angin lalu. Saya hanya menemani Mama saja saat bertemu dengan beliau, agar jatahnya ditambah. Saya tidak ikut menerima uang pemberian beliau. Saat ditawarkan uang langsung, saya selalu menolak," ucap Nabila bergetar menahan tangis. Namun, tangis yang ia tahan lolos seketika setelah ucapannya selesai.


"Kamu menganggap hubungan antara mereka itu sebagai apa? Apa kamu akan terima kalau Mama kamu di cap sebagai seorang selingkuhan?" Melihat Nabila menangis malah semakin meluapkan emosi Irsyad. Seolah dengan Nabila menangis, itu menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah.


Irsyad sebal. Ucapan penuh emosinya tadi membuat Nabila menangis makin menjadi. Apalagi, Nabila menangis mengeluarkan suara yang keras. Orang-orang yang ada di sekitaran jadi memperhatikan. Dan lagi, tentu saja Irsyad yang terlihat bersalah di mata orang-orang yang melihat itu.


"Sudahlah, saya tidak ingin lebih menyakiti hati kamu lagi. Saya akan menyimpan kebenaran ini rapat-rapat. Kamu juga akan tetap saya pekerjakan karena masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu," ucap Irsyad setelah menarik nafas panjang dan beristighfar berkali-kali. Ia sadar sudah membuat seorang wanita menangis, itu artinya dirinya juga keterlaluan. Ia memilih untuk mengakhiri perdebatan.


"Bapak tidak akan memberitahukan ke istri dan anaknya Pak Gilang?" tanya Nabila sambil menangis sesenggukan.


"Jika mereka bertanya, saya baru akan beri tahu. Namun, saya tidak akan membuka aib saudara sendiri. Saya akan berusaha untuk tidak memberitahukannya. Biar beliau sendiri yang mengaku," jawab Irsyad.


"Sampai di sini dulu pertemuan ini," pamit Irsyad cepat. Meninggalkan Nabila yang masih menangis di sana.


Irsyad cepat-cepat mencari masjid. Amarahnya semakin tak terkontrol saat ia berkendara. Ia memilih untuk menunggu waktu shalat di masjid, sekalian menenangkan hati dan pikirannya. Meski ia mengerti penjelasan Nabila, tapi tetap saja ia tidak memaafkan perbuatan mereka. Bayangan bagaimana Mama Nabila begitu menempel pada Gilang benar-benar membuat Irsyad marah.


...****************...