
Tidur bersama kembali tak membuat suasana rumah kembali hangat. Seperti yang terjadi sekarang, Irsyad pulang dari subuh di masjid dan kembali memasuki ruang kerjanya kembali dengan cepat. Kila juga enggan mengejar Irsyad untuk melakukan rutinitas suami istri seperti biasa jika Irsyad yang menghindar lebih dulu.
Saat tiba waktu sarapan, Kila berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan sarapan bersama. Ia menunggu Irsyad di meja makan, ia pikir dengan cara itu Irsyad akan menghampirinya dan sarapan bersama. Dan benar saja, strategi itu berhasil. Irsyad menghampirinya ketika sebelumnya ia akan keluar dari ruang kerjanya untuk meletakkan gelas kotor bekas teh pahitnya ke dapur.
Irsyad mulai duduk di meja makan, lu mengambil porsi makannya. "Kalau kamu tidak bisa makan bersama saya tidak apa-apa, jangan dipaksakan kalau memang benar-benar sibuk," ucap Irsyad seraya melirik Kila.
"Kak Irsyad juga, kalau waktunya mepet banget dan pekerjaannya nggak bisa ditinggal, nggak masalah kalau nggak menyempatkan sarapan di rumah," jawab Kila dengan sindiran halus.
"Maksudnya, Kila bisa siapkan bekal tambahan untuk Kak Irsyad bawa jika sarapan di rumah hanya menyita waktu Kak Irsyad aja," lanjut Kila. Ia meralat ucapannya sebelumnya karena sadar sudah tersulut emosi.
"Itu ide bagus. Kalau begitu, mulai besok tidak usah buatkan sarapan, tapi buatkan saja bekal tambahan. Kamu tidak keberatan, kan?" ujar Irsyad. Bagaimana bisa ia menyimpulkan ucapan Kila dengan makna sebenarnya. Malas sekali ia mencari makna tersirat dari yang diucapkan oleh Kila.
Kila kesal, tapi ia berusaha menormalkan ekspresi wajahnya. "Baik, kalau gitu. Kalau untuk makan malamnya gimana, Kak?" balas Kila meladeni.
"Makanlah lebih dulu. Tidak perlu menunggu saya," balas Irsyad. Kila hanya mengangguk karena sudah mengerti instruksi yang diberikan hanya dari kalimat singkat yang diucapkan Irsyad.
...****************...
Satu pekan kemudian. Dengan sikap dan perilaku yang sama, Irsyad dan Kila pun masih dengan keadaan yang sama meski sudah tidur kembali di ranjang yang sama dan melaksanakan shalat tahajud bersama pula. Dan sekarang, hal itu dianggap hal yang biasa saja oleh keduanya.
"Duh..., bu dosen kenapa sih? Nelpon tiba-tiba terus nyuruh ke kampus. Asal aja main batalin janji untuk ketemuan di luar kampus." Kila sedang kesal sekarang. Mendapat telepon tiba-tiba dari dosen pembimbing skripsinya untuk melakukan pertemuan di luar perjanjian yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Padahal hari terbilang masih lagi untuk sesegera itu mengubah janji. Kila juga belum berani langsung kepada Irsyad, ia enggan mengabari lewat pesan chat di jam sibuk mengajarnya Irsyad seperti sekarang.
Karena sang dosen memintanya di jam yang mepet, Kila harus buru-buru dan mempersiapkan hal yang perlu dibawa dengan cepat.
"Kak, Kila izin ketemu dosen di kampus hari ini. Naik motor. Maaf karena ngasih tahunya mendadak." Kila menuliskan izinnya ke Irsyad, hanya dengan pesan chat saja. Mau itu segera dibaca atau tidak, itu urusan belakang karena yang penting Kila sudah memberitahu Irsyad bahwa dirinya harus keluar rumah.
Beruntung Kila sampai di kampus tepat waktu karena jarak yang terbilang dekat. Ia ingin mengabari sang dosen bahwa dirinya telah sampai, tapi sebelum mengirimkan itu ia malah mendapat pesan chat bahwa pertemuan di dalam kampus batal. Ia akan melakukan pertemuan di kafe yang cukup terkenal di dekat kampus. Segera Kila menuju tempat itu.
Setelah satu jam membahas skripsi, waktu Dzuhur tiba. "Bu, saya izin shalat dulu," pamit Kila. Ia melaksanakan shalat Dzuhur di musholla kafe.
Setelah shalat dan lama membahas soal skripsi, jam makan siang akhirnya tiba. "Mau pesan makanan dulu?" tanya sang dosen menawarkan. Kila segera mengiyakan dan memesan banyak makanan. Sang dosen terkejut karena orang dengan badan kurus seperti Kila dapat makan sebanyak ini.
Disela-sela Kila memakan pesanan yang telah ia pesan, terlihat sosok tinggi tegap yang ia kenal memasuki kafe.
"Kak Irsyad?" batin Kila terkejut. Irsyad memasuki kafe bersama Nabila. Kila jadi teringat dengan yang Yuli katakan waktu itu.
"Mmm, Bu, saya boleh meminta pendapat? Tapi ini diluar bahasan soal skripsi." Kila berkata saat dirinya dan sang dosen sedang sibuk dengan makan siang masing-masing. Pikiran ini begitu mengganggu sehingga Kila ingin meminta pendapat seseorang.
"Tentu. Silahkan!" balas sang dosen.
"Kalau seseorang yang dekat dengan kita, bahkan ada hubungan khusus nih, salah satu dari mereka pergi ke suatu tempat yang tidak biasanya dikunjungi. Nah, pergi ke tempat itu tidak ada beri kabar atau izin. Tidak juga menceritakan tentang apa yang ia lakukan ditempat itu dengan si pasangan satunya. Dan si pasangan selalu sibuk akhir-akhir ini serta terlihat menjauh. Sikapnya juga berubah dari biasanya. Si pasangan yang satu lagi jadi berpikir bahwa ada yang di sembunyikan oleh pasangannya. Menurut ibu bagaimana?" ungkap Kila dengan serius. Sedangkan sang dosen senyum sendiri mendengar permasalahan Kila yang umumnya dialami oleh anak muda. Secara tidak langsung mengingatkan sang dosen tentang umurnya yang sudah kepala empat.
"Duh..., anak muda. Bahasannya selalu soal cinta. Kamu membahas tentang pacar kamu, ya?" goda sang dosen.
"Hehehe, bisa dibilang begitu, Bu," jawab Kila malu-malu. Hubungan dirinya dan Irsyad termasuk pacaran, kan? Pacaran halal maksudnya.
"Ooh, begitu. Baguslah, karena kamu menanyakan dengan orang yang tepat. Saya cukup berpengalaman dalam hal percintaan karena saya telah lebih dulu merasakannya daripada kamu," balas sang dosen dengan begitu percaya diri.
"Hubungan yang baik tidak menyimpan rahasia apapun antar pasangan, tidak menyembunyikan apapun. Mereka terbuka terhadap apa yang telah dilakukan satu sama lain saat berada di belakang. Jika dia pergi tanpa memberitahu kamu, percayalah bahwa kamu bukan prioritas nya. Kecuali dia memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu terhadap pasangannya. Tapi jika dia benar-benar menyayangi pasangannya, ia tidak akan tega berlama-lama menyembunyikan sesuatu dan menyakiti hati kamu lebih lama. Itu karena kamu adalah prioritasnya," ujar sang dosen memberikan pendapat.
"Berarti, saya bukan prioritas beliau, ya, Bu?" tanya Kila. Bagian itu yang paling mengganggu Kila.
"Hahaha, lucu sekali kamu menyebut pacar sendiri dengan kata ganti 'beliau'," goda sang dosen lagi.
"Hehehe, sudah terbiasa, Bu," jawab Kila seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cukup malu juga ketika orang lain menyadari kebiasaan Kila dalam menyebut Irsyad dengan kata ganti yang kurang pantas ditujukan untuk "sang kekasih".
"Bisa jadi. Tapi, daripada sama-sama diam, lebih baik kamu memulai mengambil langkah lebih dulu. Menanyakan apa yang terjadi, dan menyuruh pasangan untuk terbuka. Jika sama-sama pasif, saya begitu yakin hubungan yang baik tidak akan tercipta. Hubungan juga akan terancam kandas. Komunikasi adalah kuncinya. Jangan lupakan untuk terus berkomunikasi baik dengannya," jelas sang dosen.
Kila mengingat kata-kata dari sang dosen yang memberikannya pelajaran tentang cinta dengan gratis. Berusaha mencernanya baik-baik agar ia tidak salah memahami pelajaran itu. Tak lupa ia berterimakasih atas pendapat yang telah diutarakan sang dosen.
Dari yang telah diutarakan sang dosen, ada bagian yang begitu mengena di hati Kila. "Bukan prioritas, ya?" batin Kila terganggu dan tidak bisa lepas dengan bagian itu.
...****************...