Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Keluarga Kila



Hari yang paling disenangi murid kelas IPS 1 nya sekolah Kila adalah Hari Senin. Senin itu telah usai dengan Irsyad membekaskan ingatan yang berarti untuk muridnya. Hari selanjutnya ialah Hari Kamis, ia mengajar di awal pelajaran membuat semangat dalam diri murid di kelas itu bangkit untuk mengikuti pelajaran setelah jamnya Irsyad.


Senin akan segera kembali. Untuk hari ini, Kila menghabiskan waktu di rumah dengan membaca buku fiksi. Ia memilih novel dengan tema cerita fantasi. Itu juga dilakukan Kila untuk mengalihkan perhatian dari ketidaksabarannya menunggu hari esok, Senin.


Mama dan Papa Kila memang sudah tepati janji. Mereka akan berusaha meluangkan waktu di Hari Minggu untuk quality time bersama keluarga. Meski di Hari Minggu pekan lalu mereka baru bisa menyempatkan diri untuk makan malam saja meluangkan waktunya. Tapi Kila tak kecewa sedikitpun, ada tidak adanya mama dan papanya itu dama saja bagi Kila.


"Makan malam sudah siap," ujar Riska. Ia memasuki kamar Kila untuk memberitahukan kalau makan malam sudah dihidangkan. Kila merasa asing dengan kelakuan mamanya itu sekaligus tidak nyaman. Nenek memang biasa masuk kamar Kila tanpa mengetuk pintu, tapi Riska yang sama sekali tidak pernah memasuki kamar Kila malah masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Namun Kila berusaha tak mempermasalahkannya.


"Iya, Ma. Yang masak siapa?" balas Kila seraya menuju mamanya.


"Nenek. Mama nggak bisa masak. Mama cuma mau manggil kamu aja. Biar makan malam bersamanya cepat selesai. Soalnya ada kerjaan yang harus diselesaikan setelah makan malam," jawab Riska seadanya.


"Urusan kerja lagi?" gumam Kila. Ia sedikit kesal, namun tak ingin ia tunjukkan. Dan Riska juga tidak mendengar apa yang Kila gumamkan.


"Makan malam hari ini cepat sekali, Nek. Nggak kayak biasanya. Biasanya kan setelah isya, sekarang di majuin jadi setelah maghrib," ucap Kila yang sudah duduk di meja makan dengan nada malas.


"Iya, hargai dulu usaha mama dan papamu untuk tetap makan malam bersama meski sudah ada pekerjaan yang menanti setelah makan ini," jawab nenek memberikan pengertian.


"Ya udah, mari makan, Ma, Pa. Biar cepat selesai," ujar Kila tanpa maksud apapun.


Mereka kemudian mengambil porsi makannya masing-masing. Nenek dan Kila mengambil porsi makannya seperti biasa, sementara Gilang dan Riska mengambil sangat sedikit dari porsi orang sewajarnya. Kila melirik, ia sedikit terganggu dengan aktivitas orangtuanya itu.


"Ma, Pa, makan yang banyak. Jangan sedikit-sedikit ambilnya. Nanti kalau mama sama papa di kamar terus kan bisa lupa waktu makan. Nanti asam lambung akan naik, terus sakit juga gimana? Jadi maksimalkan waktu makannya sekarang," ungkap Kila.


"Tidak apa-apa. Didalam kamar sudah ada cemilan untuk dimakan disela-sela mengerjakan pekerjaan nanti. Jadi tidak akan kelaparan," dijawab oleh Gilang.


"Iya, Kil. Biar cepat selesai juga kalau makannya sedikit," imbuh Riska.


"Nggak, Ma, Pa. Kalau mau cepat menghabiskan makanannya, ya, jangan makan sambil liatin handphone. Fokus aja makannya. Saat udah selesai, baru boleh periksa handphonenya. Lagian sama aja kalau makan porsi dikit, tapi mata liat handphone bukan makanan, jadi lama juga." Kila menampakkan perhatian pada orangtuanya itu, tapi mereka tidak menyadari.


"Nggak, deh, nggak liatin handphone. Jadi lebih cepat, kan, makannya?" jawab Riska.


"Ya Allah, Ma, Pa. Kila pengen kasih perhatian loh. Kila tahu, kalau kalian udah fokus sama kerjaan pasti bakal lupa sama makan. Ada cemilan pun belum tentu disentuh karena saking fokusnya sama kerjaan. Itupun kita nggak tahu kalau cemilan itu udah kadaluarsa atau belum. Kalau udah kadaluarsa nanti, mama sama papa bisa sakit perut kalau makannya itu opsi yang pertama. Yang kedua, kalau mama papa nggak makan cemilan itu dan cuma makan dikit di makan malam ini nanti juga naik asam lambungnya dan akan sakit juga kan? Opsi yang terakhir, ya udah, turuti aja apa salahnya, sih? Kan juga bagus mencegah sakit daripada udah sakit beneran." Kila mengungkapkan perasaannya yang perhatian itu dengan nada kesal.


"Kila kesal sama mama dan papa. Kila ngasih tahu ini juga, kan, supaya pekerjaan mama dan papa nggak terganggu. Kalau mama sama papa sakit, pasti nggak ada waktu buat kita kumpul kayak gini lagi sementaranya. Terus, waktu sudah sembuh nanti pasti mama papa akan lebih sibuk dari biasanya karena mengerjakan pekerjaan yang sempat nggak dikerjakan karena sakit itu. Kila mikir ke masa depan, tahu, Ma, Pa. Kila minta kita duduk yang tenang, dan makan, deh, sisanya terserah mama papa kalau udah selesai. Kila nggak mau maksa lagi, kalau mau ambil makanan dikit gitu, ya udah ambil aja nggak masalah." Kila bersuara tuk yang terakhir. Ia berusaha tidak menumpahkan air mata meski suaranya sudah bergetar.


Riska dan Gilang terdiam. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengambil porsi makan yang lebih banyak seperti yang Kila pinta.


Melihat itu, Kila seketika mengembangkan senyum di bibirnya. Ia membantu papanya untuk meletakkan porsi tambahan di piring papanya.


Nenek juga ikut gembira. Nenek melihat sebuah keluarga kecil yang kali ini benar-benar terlihat seperti keluarga adanya. Ia juga pertama kali melihat momen ini, rasanya menyejukkan hati.


Kila benar-benar berupaya membuat interaksi yang baik antara dirinya dan orangtuanya. Memang rasa kesal saat mengingat mama dan papanya selalu saja memprioritaskan kepentingan pekerjaan mereka, tapi Kila berusaha untuk terus berbakti. Seperti sekarang, ia mencoba memberikan perhatian pada keduanya, meski diawal merasa kesal.


Berbuat baiklah kepada orang tua. Kila selalu berpegang teguh atas itu, yang telah diucapkan dalam Al Qur'an. Bagaimanapun orangtuamu, kamu tidak dapat memilih. Berbaktilah, karena itu kewajiban mu sebagai seorang anak.


Suasana di meja makan itu hening, hanya menyisakan dentingan sendok yang beradu. Tidak ada yang memulai percakapan, keluarga Kila tidak seperti keluarga Irsyad. Namun bukan masalah, kebersamaan mereka sudah dilakukan sebelum makan tadi.


Riska dan Gilang menyelesaikan makannya lebih cepat daripada Kila dan nenek.


"Kila, mam dan papa sudah selesai. Mama minta tolong, ya, kamu cucikan piring kotor mama dan papa," pinta Riska. Kila kemudian mengangguk menyetujui.


Nenek memberikan kode kepada Riska untuk melakukan hal yang biasa dilakukan nenek pada Riska, yaitu mengecup pipi anaknya saat ingin ditinggalkan untuk mengerjakan sesuatu. Nenek memberikan isyarat dengan membuat gerakan menepuk-nepuk pipi dan kepalanya sedikit menunjuk-nunjuk Kila. Riska mengerti maksud nenek begitu pula dengan Gilang, Gilang sering melihat nenek dan Riska seperti itu dulu. Riska dan Gilang kemudian mendekati Kila.


Cup


Pipi kiri dan kanan Kila dikecup oleh keduanya. Kila sedikit kaget dengan itu. Kemudian ia menatap ke arah keduanya.


"Terimakasih ya, sayang. Mama dan Papa tinggal dulu." Riska membuka suara dari wajah penuh tanya Kila. Ia mengangguk gagap menanggapinya.


Riska dan Gilang sudah menuju ruang kerja mereka, sementara Kila masih sedikit bengong membayangkan hal yang baru saja terjadi. Saat menyadari hal yang baru saja terjadi, senyum pun terlukis indah di wajahnya. Ia tak menyangka mama dan papanya bisa melakukan hal semanis itu. Bukan perdana memang, tapi Kila sungguh bahagia karenanya.


...****************...