Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Sebuah Pengakuan



Tiga hari sudah Kila di rumah orangtuanya. Kali ini, mereka merayakan lebaran tanpa nenek. Memang biasanya tidak ada tamu yang datang dan sepi, tapi tidak adanya nenek lagi semakin membuat suasana menjadi sepi. Setelah tiga hari itupun, Kila kembali ke kosnya karena tiket sudah dibeli lebih dulu. Tapi hal itu bukan masalah, karena waktu kebersamaan mereka hanya di tiga hari itu saja, sisanya Gilang dan Riska akan sibuk mengurusi pekerjaan mereka.


Kila tiba di kosan, suasananya sangat sepi. Anak kos yang lain belum kembali ke kosannya karena menghabiskan hari libur di kampung halaman. Kebanyakan dari mereka yang mengekos di rumah kos milik keluarga Irsyad itu adalah pelajar dan mahasiswa, jadi wajar saja mereka ingin menghabiskan waktu di kampung halaman selama jatah liburan masih ada.


Kila sudah merencanakan akan mengunjungi rumah Risa ditemani Ira. Esoknya, Kila baru ingin berkunjung ke rumah Irsyad untuk silaturahmi.


"Jadi, gimana lebaran kalian?" Ira yang bertanya. Ia memang tidak menjalani lebaran, makanya ia ingin tahu.


"Tamu aku yang datang banyak. Tapi yang ngasih THR makin dikit dari tahun lalu," ucap Risa kemudian membangun bibirnya.


"Yaelah, sadar diri dong, Ris. Udah besar gitu, mana ada lagi orang yang mau ngasih THR," ucap Ira menanggapi.


"Iih, nggak gitu, Ra. Padahal tahun lalu aku masih dapat lho, cuman nggak terlalu banyak memang. Tapi tetap aja masih dapat, makanya tahun ini aku nggak dapat THR jadi kesel," balas Risa dengan nada kesal.


"Kalau Akil? Katanya kamu ke rumah mama kamu, kan?" tanya Ira ke Kila.


"Iya, aku cuma pengen kumpul aja sama mama dan papa. Kalau tamu, nggak ada tamu yang datang apalagi THR, aku memang nggak dapat itu. Tapi tahun lalu, aku dapat sih, cuma dari nenek doang," jawab Kila.


"Ternyata ada yang lebih kasihan dari kamu, Ris. Kila nggak ada tamu yang datang, nggak dapat THR, lagi. Lha kamu masih mending, rumah ramai karena banyak tamu dan bisa main bareng keluarga kamu yang lain. Jadi, bersyukurlah, Ris. Hahaha," ucap Ira meledak Risa. Mendengar itu, Risa langsung memukul pelan Ira karena kesal.


"Oiya, kalian kapan mau ke kosanku? Sekalian ke rumah Pak Irsyad juga, kita. Ada banyak kue lebaran di sana," ujar Kila. Kedua sahabat yang masih saling membalas pukulan kecil itu terhenti aktivitasnya.


"Hah? Pak Irsyad? Wih, Akil udah main langsung sosor-sosor aja, nih," ucap Ira.


"Bukan gitu, kalian salah paham. Pak Irsyad itu anak pemilik kosanku yang rumahnya di samping kosanku itu. Aku juga baru tahu waktu hari pembagian rapor waktu itu. Sebelumnya, aku kan udah akrab sama ibu kos, setelah tahu kebenarannya aku malah makin akrab sama ayahnya Pak Irsyad juga. Jadi, aku juga sering main ke rumah mereka, aku bantuin buat kue lebaran juga," ucap Kila meluruskan.


"Wih, udah kayak keluarga aja, ya, Kil," ucap Risa.


"Hehe, aku memang udah dianggap keluarga sama ibu kos itu. Bahkan, aku manggil orangtuanya Pak Irsyad dengan panggilan ayah dan bunda, seperti Pak Irsyad memanggil mereka," balas Kila dengan nada bangga.


"Hah??! Seriusan? Demi apa? Akil kok nggak bilang-bilang, sih?" Ira sampai terkaget-kaget.


"Kalau gitu, sih, dapat disimpulkan dari nada bangga kamu bilang gitu, berarti kamu mengakui senang dengan hubungan kamu dengan keluarga Pak Irsyad. Dan secara nggak langsung, kamu nggak ngelak kalau kamu punya perasaan sama Pak Irsyad. Iya, kan?" Sifat suka menggodanya Ira menular ke Risa.


Kila terdiam sebentar dengan apa yang Risa ucapkan.


"Iya, deh, aku ngaku. Aku kalah nih, kalian bener. Tapi aku nggak agresif, aku cuma mau diam-diam aja suka sama Pak Irsyad. Kalian yang tahu, jangan bilang ke siapapun terutama ke orangnya langsung," ucap Kila mengaku.


Pipi Kila memerah saat mengakui itu. Sementara itu, kedua sahabatnya berteriak senang seraya memeluk Kila tiba-tiba.


"Aaa, akhirnya kamu jujur juga sama perasaan kamu, Kil. Apapun yang terjadi pasti kami akan selalu dukung kamu," ucap Risa bahagia sambil memeluk erat Kila.


"Makasih banyak, ya," ucap Kila seraya membalas pelukan mereka.


"Ris, kue nastarnya abis, nih. Tambah lagi, dong," ucap Kila dan tawapun pecah setelah itu. Mereka melepaskan pelukan, dan Risa beranjak mengambilkan nastar yang di mintakan oleh Kila.


"Oiya, kalau besok aja ke rumah Pak Irsyadnya gimana?" Ira mengusulkan.


"Ya udah, boleh, tuh. Aku juga nggak ada kesibukan lain. Nanti kamu jemput aku dulu ya, Ra," ucap Risa.


"Siap, Bu bos," balas Ira.


...****************...


Keesokan harinya, Ira dan Risa sudah berada di kosan Kila. Mereka berencana akan mengunjungi rumah Irsyad sehabis dzuhur.


"Um, baru kepikiran, nih. Apa nggak masalah kalau kita tiba-tiba datang ke rumah Pak Irsyad? Yang udah tahu itu rumah Pak Irsyad, kan, cuma Kila. Kita yang nanti tiba-tiba datang, kan, nggak enak sama Pak Irsyad dan keluarganya," ucap Risa.


"Halah, nggak usah dipikirin, Ris. Lagian Pak Irsyad tahu, kok, kita ini udah kayak tiga serangkai yang nggak bisa lepas dan Pak Irsyad pasti maklum kalau kita tahunya dati Akil. Kamu jangan mau batalin ini tiba-tiba gara-gara ucapan Risa, ya, Akil. Udah setengah jalan, pokoknya kita harus mampir ke rumah Pak Irsyad. Lagian menyambung silaturahmi itu, kan, dianjurkan. Iya, nggak?" ujar Ira. Ia yang sering bergaul dengan dua sahabatnya yang muslim pun jadi tahu tentang silaturahim.


"Ng-nggak, kok. Mana ada mau batalin ke rumah Pak Irsyad," jawab Kila dengan sedikit ragu.


Mereka akhirnya sudah sampai di depan rumah Irsyad, dengan Ira yang sangat berani mengetukkan pintunya. Tak lama, sang tuan rumah datang membuka pintu. Nasib baik, yang membuka pintu adalah Irsyad. Jadi, mereka bisa menjelaskan keadaan dulu ke Irsyad. Tak lama kemudian, mereka dipersilahkan masuk. Citra dan Erwin tak mempermasalahkan kehadiran Ira dan Risa, mereka tetap dianggap tamu. Dan Citra langsung membuat minuman untuk mereka. Kalau makanan, sudah tersedia di depan mata.


Suasana agak canggung. Pasalnya, Irsyad dan Erwin yang menemani mereka selagi Citra membuatkan minuman.


"Um, Nak, kamu lupa memakai hijab tadi?" ucap Erwin karena hal itu sedari tadi menyita pikirannya.


"Ooh, ini, Yah. Ira bukan muslim. Tapi Ira ini teman dekatnya Kila. Dan teman satunya lagi Risa namanya," jawab Irsyad. Ira juga segan untuk menjawab, untung Irsyad mewakilkannya. Lalu Erwin mengangguk paham. Lagian siapapun bisa datang bersilaturahim meski bukan muslim sekalipun.


Tak lama setelah itu, pintu rumah Irsyad ada yang mengetuk. Lalu Erwin yang membukanya, sementara Irsyad masih menemani mereka di ruang tamu.


"Siapa, Yah?" tanya Irsyad agak berteriak.


"Farhan dan Yuli," jawab Erwin. Irsyad kemudian segera menuju pintu menyusul Erwin.


Farhan dan Yuli, setelah mendengar itu Kila merasa tidak nyaman. Kila tahu, kalau Farhan merupakan tetangganya yang otomatis tetangga Irsyad juga, mungkin wajar jika Farhan ingin mengunjungi rumah Irsyad untuk silaturahim. Tapi, ia canggung jika ada Yuli juga bersama Farhan. Jika memang kedua orang itu yang datang, Kila mungkin harus pulang karena tidak nyaman.


...****************...