Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Harus Mengurangi Komunikasi?



Waktu terasa cepat, namun juga lambat. Kila sudah memasuki semester enam awal perkuliahan. Waktu terasa sangat lambat, target untuk lulus cepat rasanya sangat lambat untuk segera ia dapat. Dirinya masih semester lima. Tapi, ia sudah tidak sabar ingin segera lulus.


Irsyad juga benar-benar tidak dapat pulang baik di libur musim panas atau libur lainnya. Irsyad dan Kila seakan berlomba untuk segera lulus dari pendidikan mereka masing-masing. Irsyad begitu, ia harus memprioritaskan pendidikan untuk segera ia selesaikan. Sehingga, tidak ada lagi hal yang menghalangi Irsyad untuk memberikan semua waktunya untuk Kila nanti saat pendidikannya rampung. Ia memberikan segala waktunya untuk pendidikan nya dulu, dan waktu yang ia gunakan ini akan terbayarkan dengan lebih cepat lulus dan dapat ditebus segera dengan benar-benar menjadi imam Kila seutuhnya.


Saat ini, hari itu tiba. Hari dimana mereka akan bertemu lewat benda kotak yang disebut ponsel itu. Jadwal video call yang menjadi kurang karena kesibukan keduanya, membuat video call ini menjadi hal yang selalu di tunggu-tunggu. Tapi, kadang video call itu menyita waktu dan membuat hal yang ditunggu-tunggu itu tidak menjadi suatu hal yang ingin ditunggu. Kebetulan, Hari Minggu ini keduanya begitu sibuk. Tapi, Irsyad berusaha untuk melakukan rutinitas ini dan Kila berusaha menjalaninya. Setidaknya, istirahat sebentar untuk mengobrol dengan pasangan. Dengan begitu, mungkin mereka akan lebih semangat melanjutkan kesibukan masing-masing setengah rutinitas ini selesai, pikir keduanya.


Kila kali ini tidak dapat menyempatkan untuk ke rumah Citra, lagi. Dan lagi-lagi, Citra adalah ibu mertua yang tidak mengambil pusing hal sepele seperti itu. Citra sangat mengerti sepenuhnya, bukan kemauan Kila untuk sibuk dan tidak menyempatkan diri untuk mampir. Hal itu ia lakukan demi lulus cepat dan segera mengambil tugas sepenuhnya sebagai istri Irsyad, sisi itu yang sepenuhnya di pandang Citra begitupun dengan Erwin untuk menerima semua perilaku Kila yang tidak dapat dibilang sebagai seorang menantu itu.


Irsyad dan Kila berbincang-bincang, hal yang sama seperti biasa mereka bahas. Irsyad juga tidak ingin memaksa Kila untuk ke rumah Citra. Biar nanti Irsyad mengabari kedua orangtuanya itu setelah berkabar dengan Kila.


"Kila, kamu tahu? Sepertinya saya akan lulus enam bulan lagi," Irsyad memulai ceritanya setelah hal biasa yang mereka bahas selesai.


"Wah, bagus kalau begitu, Kak. Kila juga targetnya lulus dalam tiga tahun, Kak," Kila menanggapi dengan antusias


"Wah, sepertinya saya duluan yang akan lulus, kalau begitu," balas Irsyad tidak kalah antusias.


"Nggak juga, kita lihat aja nanti," ujar Kila agak sombong.


"Hahaha, kamu ini, ya," Irsyad menanggapi Kila. Lalu keduanya tertawa bersama sejenak.


Benar pikir mereka, berbicara dengan pasangan dapat menambah semangat. Respons Kila yang seperti itu, membuat hari Irsyad lebih baik. Aaa... ia jadi ingin menemui Kila jika begini.


"Tidak apa-apa? Maksudnya?" tanya Kila balik karena bingung. Irsyad tampak memberi jeda sebentar untuk menjelaskan maksudnya.


"Begini, saya sudah tidak pernah pulang dalam dua tahun," ucap Irsyad dengan nada menggantung. Ia tidak bisa melanjutkan maksudnya, karena ia terlalu tidak peka dengan perasaan wanita, makanya ia takut memilih sebuah kata yang dapat menggores hati Kila.


"Iya, nggak papa dan nggak masalah, kok, Kak. Kila juga sangat sibuk, Kila juga ngerasain gimana sibuknya Kak Irsyad. Kalau memang tidak bisa, jangan dipaksa. Kelar urusan pendidikan, baru deh sebebasnya Kak Irsyad mau mutusin kayak gimana," balas Kila. Sebenarnya, pembicaraan seperti ini sudah sering kali Irsyad ucapkan saat mendekati liburan dan tidak bisa pulang. Makanya, Kila juga sudah terbiasa menyikapinya. Ia secara tak langsung menuju terbiasa dengan ketiadaan Irsyad, dan ketidakmampuan Irsyad untuk pulang ke Indonesia saat libur itu juga menjadi hal yang biasa bagi Kila.


"Oiya, saya mau mengabari lagi. Untuk satu bulan ke depan, sepertinya kita tidak dapat bertukar kabar. Selain masalah penelitian, ada banyak agenda yang harus saya lakukan. Kamu tidak masalah kita menunda komunikasi kita untuk sementara?" tanya Irsyad terus terang. Melihat respons Kila yang merasa tidak keberatan dengan ucapannya sebelumnya, mendorong Irsyad untuk lancar mengobrol hal lainnya yang lebih khusus.


"Iya, nggak papa, Kak. Pokoknya, Kila nggak mau kakak merasa tertekan menjalani hari di sana karena mikirin Kila di sini. Kila nggak mau jadi penghambat Kak Irsyad. Jadi, Kila bisa mengerti dan bukan masalah bagi Kila kalau cuma menunda komunikasi sementara. Yang penting nggak selamanya, kan? Hahaha," ucap Kila tegar, menyelipkan tawa sebagai pelengkap. Tapi, dibalik nada tegar itu ia menyembunyikan fakta bahwa hatinya sedikit tergores. Tidak apa-apa yang ia ucapkan menandakan bahwa ada apa-apa. Mengurangi komunikasi sampai satu bulan, itu berbeda dengan mereka yang selama ini menjalani komunikasi tiap hari namun hanya video call di Hari Minggu. Yang ia tangkap dari ucapan Irsyad, mereka akan menunda komunikasi selama satu bulan. Artinya, tidak ada pesan chat yang biasanya mereka lakukan tiap hari, tidak ada panggilan telpon disela-sela meski sekarang mereka bertelepon hanya sebentar, dan terakhir tidak ada video call. Singkatnya, benar-benar tidak ada komunikasi. Dan itu masalah yang menggores hati Kila.


Merasa tidak ada masalah dengan respons Kila tadi, Irsyad lega. Ia melanjutkan percakapan mereka, dan kali ini Irsyad meminta untuk menambah waktu video call mereka. Hal itu ia lakukan untuk menebus waktu yang dipakai sebulan ke depan. Ia ingin membuat komunikasi yang tidak bisa dilakukan itu dibayar sekarang.


Percakapan selanjutnya membahas hal biasa yang mereka bahas, namun ada pula hal yang tidak biasa. Seperti menanyakan kabar dan jaga pola makan. Hal tidak biasanya seperti menanyakan tentang hobi makannya Kila dan lainnya. Di percakapan ini Irsyad berusaha untuk memilih topik pembicaraan yang dapat membuat Kila tertawa. Meski tidak peka begitu, Irsyad tetap mengerti dengan logikanya kalau Kila pasti merasa sedikit kesepian nanti. Ia juga ingin bertanggung jawab karena sudah berjanji akan menjaga komunikasi mereka dalam hubungan jarak jauh ini. Setelahnya, mereka memutuskan untuk mengakhiri sambungan video call itu dan melanjutkan kesibukan mereka masing-masing.


Kila sebenarnya tidak sesibuk seperti awal-awal menjadi mahasiswa baru. Tapi ia sibuk belakangan ini karena toko onlinenya sekarang sangat laku keras. Ia juga membantu adminnya untuk mengatasi kesibukan itu di kala Kila benar-benar luang.


Menambah kesibukan baru mungkin dapat mengalihkan pikirannya yang terus memikirkan Irsyad. Rindunya benar-benar memuncak. Tapi ia tidak bisa mengutarakan perasaan ini, ia tak ingin egois dan merepotkan Irsyad.


...****************...