Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Hal Ganjil



Tiga bulan pernikahan Irsyad dan Kila telah berlalu. Irsyad menjaga janjinya untuk selalu menjaga komunikasi dengan Kila demi memperlancar hubungan jarak jauh mereka. Kila juga menerima nafkah materi dari Irsyad tiap bulan. Irsyad menafkahi Kila dengan uang yang ia tabung selama mengajar, yang ia dapatkan dari usaha sampingannya juga. Ada kontrakan juga yang dimiliki Irsyad. Jadi, meski tidak bekerja di Turki, ia masih tetap bisa menafkahi Kila dari penghasilannya di Indonesia.


Kila sendiri sebenarnya sudah sangat berkecukupan karena pekerjaan sampingannya sebagai dropshipper, tapi Kila tetap menghargai nafkah dari Irsyad. Kila yang pandai mengalokasikan uang yang ada, membuat perencanaan keuangan jangka panjang dari nafkah yang diberikan Irsyad dengan investasi jangka panjang. Kelak, mereka pasti akan tinggal bersama, mungkin dengan uang yang ia investasikan itu, Kila juga dapat berkontribusi jika mereka ingin membeli rumah baru untuk ditinggali bersama nantinya.


"Kak Irsyad, siapa bilang ia tidak memberikan nafkah? Mama tidak usah khawatir, beliau itu masih menjalankan perannya sebagai suami, kok, meski di Turki sekalipun."


Riska datang mengunjungi kosan Kila karena sekalian melihat cabang usahanya di sini. Mereka memang membicarakan tentang Irsyad sedari tadi.


"Baguslah, setidaknya kamu ada pemasukan setelah lama nggak dapat uang bulanan dari mama. Terakhir kali mama kasih bulanan satu bulan sebelum kamu memilih untuk ngekos. Mama nggak nyangka kamu bisa mengatur uang bulanan yang mama beri. Dan sekarang udah punya usaha sendiri juga. Mungkin kamu udah siap untuk mewariskan usaha keluarga kita, Kil," tutur Riska.


"Ma, bukannya mama ingin Kila hanya fokus untuk kuliah dan lulus secepatnya dengan predikat cumlaude? Hal mewariskan itu masih jauh, jangan buat suasana seperti Kila akan kehilangan nenek waktu itu," ucap Kila dengan sedikit tekanan di tiap kata.


"Nggak, Kila. Mama cuma menyampaikan. Itu juga mama mau memuji kamu, lho. Kamu kok malah fokus di pembahasan yang lain, sih," ucap Riska meluruskan.


Mereka melanjutkan percakapan sambil memakan beberapa camilan yang sudah dibawa Riska. Ada hal yang memenuhi pikiran Kila akhir-akhir ini, dan sepertinya ini saat yang tepat untuk membicarakannya dengan Riska.


"Ma, Kila memang tidak boleh mempunyai anak sebelum lulus kuliah? Kila tidak ingin mengekang Kak Irsyad dan menahannya. Bunda Citra sangat mengkhawatirkan Kak Irsyad karena sudah masanya menikah waktu itu. Itu artinya, bunda ingin cepat-cepat menimang cucu, kan?" ungkap Kila dengan tatapan mantap.


"Kila, kamu masih sangat muda untuk memiliki anak. Kamu targetkan lulus secepatnya kalau nggak mau membebani Irsyad. Pokoknya, mama hanya menginginkan hal yang terbaik untuk kamu. Kalau kamu punya anak di saat sedang kuliah, pasti nanti kuliah kamu berantakan. Dan coba kamu pikirkan karakter Irsyad, dia pasti akan merasa bersalah karena membuat kamu terbebani begitu," Riska menanggapi. Kila tidak bisa banyak berargumen, apa yang dikatakan oleh Riska itu benar adanya. Tujuannya untuk saat ini adalah hanya fokus pada kuliahnya untuk cepat lulus, kemudian bertanya lagi kepada Riska perihal yang sama setelah lulus.


...****************...


Pagi hari ini Kila sangat terburu-buru. Ada seorang dosen yang mengganti jam matkul yang bolong waktu itu, dan waktunya pagi-pagi sekali. Kila sedikit lupa karena jadwal matkul hari ini memang sangat padat, tapi matkul satu ini tidak ia masukkan dalam jadwalnya sebelum jadwal yang biasanya dimulai. Ia sampai lupa sarapan hanya untuk mengejar waktu.


"Ya Rabbii, kenapa aku bisa sampai lupa, sih? Dasar aku," pikir Kila. Lalu, ia buru-buru mengeluarkan sepeda motornya.


Saat sudah di depan pintu komplek, Kila bertemu dengan Farhan yang sedang mendorong motornya.


"Assalamu'alaykum, Kak. Kenapa motornya?" tanya Kila. Meski ia buru-buru, ia tidak bisa mengabaikan hal yang terjadi di dekatnya.


Kila berpikir sejenak. Tidak ada salahnya memang menolong Farhan, toh, mereka sama-sama buru-buru karena kelas pagi ini.


"Ya udah, tapi Kak Farhan aja yang bawa biar lebih cepat," ujar Kila mengabulkan. Ia juga melihat keuntungannya jika Farhan yang bawa motornya pasti akan cepat sampai ke kampus.


Mereka langsung melaju menuju kampus dan benar saja, perkiraan waktu sampai lebih cepat dibanding Kila yang melajukan motornya.


"Oke, Kila. Makasih, ya. Kamu nanti abis kelas setelah ashar, kan? Saya nebeng lagi boleh, ya? Saya tunggu di masjid fakultas teknik kalau gitu, ya. Mohon kerjasamanya lagi, Kila. Saya duluan, ya. Assalamu'alaykum," ujar Farhan setelah mengembalikan kemudi motor kepada Kila. Ia langsung buru-buru masuk ke kelasnya, dan Kila tidak diberi jeda waktu untuk menolak permintaan Farhan itu. Kila tahu, Kelas Farhan hari ini berakhir jam satu siang, karena Farhan yang bercerita tadi. Kila tidak ingin Farhan menunggunya siap kelas, hanya untuk menebeng dengan alasan motornya mogok itu. Seharusnya kalau mau duluan naik angkot juga bisa, tidak perlu menunggu lama sampai kelas Kila berakhir. Tapi apa daya, Kila harus mengikuti permintaan Farhan kalau sudah begini.


Kila melanjutkannya perjalanan menuju fakultas ekonomi, yang letaknya di samping fakultasnya Farhan di fakultas teknik. Berkat Farhan, Kila tidak telat masuk kelas ganti pagi ini. Hari ini akan menjadi hari paling melelahkan. Karena tidak ada jadwal kosong dari pagi sampai ashar nanti.


"Kila, akhirnya kamu siap kelas juga," ujar Farhan. Ia bukan menunggu di masjid fakultas teknik, ia menunggu di depan masjid fakultas ekonomi. Ia memang sengaja sholat di masjid fakultas ekonomi supaya dapat bertemu dengan Kila.


"Iya, Kak. Sebentar, ya, Kila sholat dulu," balas Kila undur diri masuk menuju masjid.


Kila memang cukup lama melakukan shalat ashar. Setelah dua puluh menit, ia baru keluar dari masjid.


"Maaf, menunggu lama, Kak," sapa Kila.


"Tidak apa-apa. Saya juga harus tahu diri, soalnya saya yang meminta menebeng kamu," balas Farhan.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju komplek. Kila juga menyerahkan motornya untuk Farhan yang membawanya. Ia berharap dengan begitu, mereka bisa lebih cepat sampai dan tidak perlu berlama-lama berdua saja seperti ini. Dan sesuai perkiraan Kila, mereka lebih cepat sampai. Farhan berhenti di depan kosan Kila lalu turun. Motor itu sudah kembali kemudinya oleh sang pemilik.


"Oke Kila. Terimakasih banyak tumpangannya. Oiya, saya perhatikan di jari kamu tidak terpasang cincin sejak menikah dengan Kak Irsyad. Atau cuma perasaan saya aja, ya?" tutur Farhan. Ia hanya ingin bicara lebih lama lagi dengan Kila.


"Itu..., Kila izin masuk dulu, ya, Kak. Ada banyak tugas yang harus dikerjain soalnya. Assalamu'alaykum," ujar Kila menghindar. Topik ini sangat sensitif. Ia tidak ingin membahasnya, apalagi dengan seseorang yang pernah punya perasaan padanya.


...****************...