Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Foto Bersama



"Segera selesaikan, saya harus cepat-cepat menemui keluarga saya." Irsyad buru-buru. Sebelumnya, ia sudah memberikan ucapan selamat dan hadiah wisuda untuk Nabila, dan hendak langsung menemui Kila. Namun, Nabila menahan Irsyad.


"Sebentar, Pak. Saya ingin mengambil beberapa foto dengan Pak Irsyad," ujar Nabila meminta.


"Maaf, saya tidak ingin foto berdua," tolak Irsyad cepat.


"Kalau gitu, foto bertiga aja sama mama saya. Boleh, ya, Pak. Momen ini cuma datang sekali. Akhirnya saya lulus setelah lama jadi mahasiswa. Jadi, saya ingin mengabadikan momen bersama orang yang udah banyak bantu saya," usul Nabila.


"Baiklah, ayo cepat lakukan. Saya tidak bisa berlama-lama di sini." Irsyad menerima usulan itu. Ia pikir, mengambilkan foto saja tidak akan lama. Namun, ia salah. Ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengambil foto. Sudah merasa cukup dengan sesi berfoto, Irsyad melangkah ingin meninggalkan Nabila.


Lalu, Nabila menoleh saat ingin menyelesaikan sesi fotonya dengan Irsyad. Ia juga melihat Irsyad ingin meninggalkan dirinya. Namun, ia melihat Kila berdiri di dekatnya, Kila bisa menjadi alasan untuk Nabila dapat menahan Irsyad lebih lama lagi. Nabila tahu tentang Kila, Irsyad telah banyak menceritakan tentang Kila. Dari yang diceritakan Irsyad, dapat disimpulkan bahwa Kila ini adalah keluarga Irsyad. Dengan ramah ia menghampiri Kila.


"Kila, kan? Ayo foto bersama!" Nabila menarik tangan Kila menuju tempat mamanya dan Irsyad berada.


Irsyad begitu terkejut karena dengan santainya Nabila membawa Kila. Dan merasa bersalah karena dirinya telah ketahuan mendahulukan orang lain daripada istrinya sendiri. Irsyad pun tidak jadi meninggalkan tempat berfoto itu karena tidak ingin kabur dari masalah. Irsyad tahu, yang ia lakukan ini adalah masalah, dan Kila melihat, Kila pasti merasa sangat kesal saat ini pada Irsyad.


Irsyad ragu-ragu melihat ke arah Kila, tapi ia tidak bisa menebak perasaan Kila hanya dari raut wajah. Justru, kini Kila malah melebarkan senyum untuk mengikuti aba-aba sang fotografer untuk foto bersama, satu frame dengan dirinya, Nabila, dan mama Nabila.


Di tempat lain tak jauh dari situ, Ira dan Risa dibuat shock karena kehadiran tiba-tiba Kila. Tiba-tiba pula Kila ikut foto bersama mereka. Dan melihat raut wajah Kila yang berusaha bersikap biasa saja, begitu menyakitkan hati dua sahabat itu. Ingin rasanya mereka menarik Kila kemari, tapi tidak mungkin itu dilakukan. Lalu, mereka bertanya-tanya, bagaimana Kila bisa sampai di sini.


Ira dan Risa mulai berspekulasi. Dan saat Ira menatap Ira agak lama, Risa heran karena setelahnya Ira malah memasang wajah merasa bersalah. "Ada apa, Ra? Udah terpikir gimana cara Kila bisa sampai sini? Wajah kamu kenapa kayak gitu?" tanya Risa panik.


"Kayaknya ini salah aku, deh. Lihat ini, Ris," ucap Ira. Lalu ia menunjukkan ponselnya yang masih tersambung telepon dengan Kila. Risa gusar, hal ini bukan karena salah Ira saja, tapi juga kesalahan Risa. Bisa-bisanya hal sepele seperti ini tidak mereka perhitungkan? Alhasil, Kila jadi melihat Irsyad dengan wanita lain, Kila jadi tahu kalau dirinya bukan prioritas Irsyad, Kila jadi tahu momen yang dinantikannya ternyata tidak Irsyad nantikan, dan di hari bahagianya itu ia harus menahan segala emosi yang akan meluap kapan saja karena merasakan sakit yang teramat dalam.


Beberapa saat setelah sesi foto mereka selesai.


"Terimakasih banyak ya, kamu mau foto sama aku dan mama aku juga. Jadi senang bisa foto sama keluarganya Pak Irsyad juga. Oiya, Pak, katanya mau mendatangi keluarga yang udah nunggu, kan? Bapak udah boleh pergi, kok. Maaf menahan Bapak lama di sini." Nabila berterimakasih seraya menjabat tangan Kila. Lalu, bergantian menoleh ke arah Irsyad.


"Saya sudah boleh pergi juga, kan? Soalnya, saya juga mau ke tempat keluarga yang akan di temui oleh Pak Irsyad." Nabila mengangguk menanggapi.


"Kalau begitu, saya pamit." Kila berjalan meninggalkan sekerumun orang itu. Langkahnya gontai, hatinya gusar.


"Kila, kita harus bicara. Saya tidak ingin kamu salah paham." Irsyad memekik, tapi itu sama sekali tidak menghentikan langkah Kila. Lalu, Irsyad menyamai langkah, menatap Kila untuk mendapatkan tanggapan.


"Tidak ada yang harua dibicarakan. Ayah, bunda, mama dan papa udah nunggu. Di restoran dekat masjid, Kak Irsyad menyusul ke sana aja. Kila mau bertemu dengan Ira dan Risa terlebih dahulu. Soalnya, Kila belum ada lihat mereka hari ini. Boleh, kan?" Kila memberikan jawaban dengan senyuman di akhir. Irsyad tahu, Kila sedang berpura-pura baik-baik saja dengan melemparkan senyum itu.


Irsyad menurut untuk menyusul keluarga di restoran yang telah disebutkan Kila. Saat ini, memang bukan penjelasan dari Irsyad yang Kila butuhkan, tapi pelukan seorang sahabat. Irsyad berpikir, lebih baik Kila menemui sahabatnya dulu baru Irsyad menjelaskan semuanya.


Ira dan Risa segera menghampiri Kila setelah kepergian Irsyad. Keduanya langsung memeluk Kila erat dan sesekali mengusap punggung Kila.


"Kila..., kalau mau nangis, nangis aja! Jangan kamu tahan-tahan," ucap Risa.


"Siapa yang mau nangis, sih? Lagian kenapa aku harus nangis? Nanti make up aku luntur, lagi. Apalagi, aku belum ambil foto sama kalian."


Ira dan Risa mengerti. Cara Kila bercanda itu adalah untuk menguatkan hatinya yang rapuh. Untuk itu, keduanya tidak membahas perihal kejadian tadi dan malah fokus mengabadikan momen bersama. Mengambil foto yang banyak, menghabiskan waktu bersama membahas foto-foto yang sudah di ambil itu. Mungkin dengan lari dari kenyataan sebentar dapat menenangkan Kila, mengalihkannya pikiran Kila dari hal yang menyakiti hatinya tadi.


"Kalian nyusul, gih, wisudanya," canda Kila lagi. Ia sudah bisa menghibur dirinya sendiri sekarang ini.


"Aman, Bu Sarjana," balas Ira.


"Otw, Kil. Santai aja. Pasti kita bakal nyusul kamu, kok." Risa menimpali.


Ketiganya melanjutkan melihat foto-foto yang sudah banyak diambil. Sesekali tertawa melihat ekspresi lucu dari salah seorang di antara mereka.


"Kila...!" pekik Irsyad di kala tawa mereka. Tentu saja membuat tiga orang itu heran, seharusnya Irsyad sudah pergi.


"Kak Irsyad?" sambut Kila, dengan tatapan heran. Sementara Ira dan Risa menunduk tak sudi menatap Irsyad.


"Ada yang ketinggalan, Kak? Kenapa balik lagi?" tanya Kila pelan.


"Kamu akan menyusul ke sana dengan siapa jika tidak dengan saya? Kita juga belum mengambil foto berdua, kan?" Irsyad tidak mungkin membiarkan Kila ke restoran sendirian. Ia sempat berpikir akan menuju restoran duluan, namun ia urungkan. Ia menunggu di mobil selam tiga puluh menit untuk membiarkan Kila di sembuhkan dulu oleh dua sahabatnya itu.


Kila berdiri di samping Irsyad. Ira bertugas menjadi fotografer, karena Risa mengaku masih tidak sanggup melihat keadaan Kila.


Ira menghitung sampai tiga, memberikan aba-aba agar Kila tersenyum. Sementara Irsyad, bukan memandang kamera, ia malah memandang wajah Kila dalam-dalam. Terlihat betapa cantiknya Kila saat berbalut riasan wajah itu. Seketika hatinya bergetar, matanya tak mau lepas memandangi wajah Kila. Apalagi dengan senyum yang dilukiskan di bibir Kila, membuat wajah ayu sang istri semakin terpancar. Meski ia tahu, senyum itu hanya untuk menutupi perasaan Kila yang sedang tidak baik-baik saja.


"Kila, maafkan saya," ucap Irsyad lirih. Kila merespons dengan menatap wajah Irsyad, lalu fokus pada manik mata hazel milik Irsyad. Terlihat air mata mulai menggenang di sana, membuat Kila refleks menggenangkan air matanya juga. Namun, Kila tak sanggup menahannya. Air mata itu kini tumpah membasahi pipinya yang terbalut make up itu.


...****************...