
Kila memutar otak agar dapat menyusul Irsyad tepat waktu. Ia segera menelepon Citra saat ia sedang menuju ke bandara dengan ojek online. Ia memilih menelpon Citra karena tidak siap jika harus bicara dengan Irsyad sekarang.
"Halo, Assalamu'alaykum, Bun. Bunda ikut ke bandara untuk antar Kak Irsyad, ya? Bun, tunggu Kila, ya. Kila ingin ikut antar Kak Irsyad juga. Kila lagi di jalan menuju bandara, nih, naik ojek online. Bunda sekarang posisinya di mana?" tanya Kila dengan nada keras dan terburu-buru karena takut ucapannya tak terdengar jelas.
"Wa'alaykumussalam. Kamu buru-buru banget bicaranya, Kila. Kami baru sampai di bandara, kok. Kalau kamu ingin ikut antar juga, kami akan nunggu kamu di depan bandara," jawab Citra dari sebrang.
"Oke, Bun. Makasih ya, infonya. Kila sebentar lagi sampai, tunggu Kila, ya. Assalamu'alaykum," ujar Kila senang karena belum terlambat menyusul.
Setelah menjawab salam itu, Irsyad sudah berdiri di depan bundanya dengan mimik wajah bahagia.
"Kila ikut antar Irsyad juga, Bun?" tanya Irsyad sumringah. Citra mengangguk menanggapi.
"Alhamdulilah. Irsyad pikir, Kila tidak mungkin akan ikut mengantar. Soal telpon tadi malam, tampaknya Kila sangat kelelahan. Tapi, tidak disangka Kila akan menyusul," ujar Irsyad lagi masih sumringah.
"Iya, bunda juga. Nggak salah pilih mantu, nih. Perhatian banget sama suami, padahal lagi ada urusan disempatkannya untuk mengantar suaminya," balas Citra mencoba sedikit menggoda.
Irsyad sedikit tersipu karena digoda seperti itu oleh Citra, tak lama setelahnya ia kembali normal seperti biasa.
...****************...
Kila sudah sampai di depan bandara, tapi ia tidak menemukan Irsyad. Sebelumnya ia juga berlarian karena takut Irsyad tidak terkejar. Saat ia menyisir semua lokasi sekitar bandara, ia menemukan Irsyad ada di sudut kiri depan bandara. Ia kembali berlari dengan kencang menuju Irsyad.
"Kak Irsyad!" teriak Kila, ia makin mempercepat larinya.
Irsyad menoleh dan kemudian Kila sampai di hadapan Irsyad. Kila yang berlarian tadi sangat ngos-ngosan, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya di depan Irsyad. Kila mencoba mengatur nafasnya, seraya menghembuskannya kuat-kuat. Irsyad merasa terharu melihat perjuangan Kila ini. Irsyad juga khawatir, Kila cukup lama mengatur nafasnya itu.
"Kila, kamu tidak apa-apa? Apa saya perlu membelikan air minum untuk kamu?" tanya Irsyad perhatian.
Kila yang tadinya membungkuk seraya memegang lututnya untuk mengatur nafas, langsung berdiri tegak mendengar pertanyaan Irsyad. Masih sama, nafasnya belum beraturan. Ia memang berlari sangat kencang tadi. Ia juga tidak seperti Ira yang sangat aktif itu, andai saja tubuh Ira dapat dipinjamkan sebentar saja oleh Kila.
"Kak," ucap Kila seraya masih berusaha mengatur nafasnya.
"Iya, ini kamu minum dulu. Air minum saya, sih. Kamu pasti lelah karena berlarian tadi," ujar Irsyad menyuguhkan. Kila malah menggeleng menolak. Irsyad tidak ingin memaksa, minum yang sempat ia ambil tadi dikembalikan ke tempatnya sebelumnya.
"Kak!" ucap Kila keras. Semua orang yang ada di sana terkejut melihat yang Kila lakukan, Citra, Erwin dan termasuk Irsyad. Pasalnya, Kila yang tadinya masih mengatur nafasnya tiba-tiba saja memeluk Irsyad. Karena postur tubuh Kila yang lebih pendek dari Irsyad, ia hanya mampu melingkarkan tangannya di daerah perut Irsyad saja. Tapi itulah posisi ternyaman saat memeluk, orang yang dipelukpun harusnya nyaman pula. Tapi untuk suasana seperti ini, kenyamanan itu tereliminasi dengan suatu keterkejutan. Kila dengan berani melingkarkan tangannya untuk memeluk Irsyad, dan ia tahu Citra dan Erwin sedang menontonnya tapi ia tak peduli. Benar-benar bukan Kila yang biasa, pikir mereka.
Mereka lebih terkejut lagi setelahnya. Kila yang sedang memeluk Irsyad itu tiba-tiba menangis dalam pelukan.
"Kak, Kila minta maaf. Kila minta maaf karena berusaha menghindar dari Kakak. Kila minta maaf, Kila berubah padahal kita udah sempat akrab. Kila minta maaf ya atas sikap Kila. Kak Irsyad, maafin Kila, ya. Kak Irsyad jangan pergi dulu sebelum maafin Kila. Kila mengakui kesalahan Kila, dan Kila sadar mental Kila masih seperti anak-anak. Tapi harusnya bukan seperti itu sikap yang Kila tunjukkan kepada Kak Irsyad. Kila minta maaf karena menangis sembarangan dan berpura-pura tidak pernah menangis saat di pantai itu. Kila minta maaf, Kak. Kila mohon maaf, Kak," ungkap Kila seraya menitikkan air matanya. Ia memang menyusul Irsyad untuk meluruskan masalah. Ia ingin memperbaiki masalah dan memperbaiki hubungan antara dirinya dan Irsyad.
"Kila--" ucap Kila terputus.
Cup
Sebuah kecupan di kening Kila berhasil membuat Kila melupakan kata-kata apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya. Irsyad suka sekali membungkam dengan kecupan. Dan itu Irsyad lakukan seraya membalas pelukan Kila.
"Sudah, berhentilah menangis. Kamu tahu, saya memang khawatir dengan perubahan sikap kamu. Tapi saya hanya tidak ingin mengganggu kamu dengan menanyakannya langsung, saya tidak ingin bicara sebelum kamu yang mau menceritakan lebih dulu. Saya juga minta maaf, ya. Kadang saya juga dapat terpengaruh suasana, makanya sifat keras saya waktu itu muncul sebagai respons dari sikap kamu. Harusnya saya bisa lebih lembut sedikit dan mencoba mengerti kamu. Tapi wanita terbuat dari apa, ya? Kenapa sukar sekali di mengerti?" ujar Irsyad ke telinga Kila lembut.
Kila yang tadinya sudah pasti tidak akan malu dengan tindakannya ini, seketika nyalinya menciut saat Citra berkoar. Ia ingin melepaskan pelukannya, tapi Irsyad seperti tidak mengizinkan. Irsyad malah mendekapnya erat.
"Bun, biarlah kami seperti ini sebentar untuk menebus waktu yang hilang saat itu. Lagian, bunda harusnya mengerti, dong. Irsyad akan kembali ke Turki, itu artinya Irsyad akan jauh dari Kila beberapa bulan sebelum waktu libur kembali tiba. Jadi biarkan waktu yang tidak bisa dihabiskan bersama itu dibayar sekarang," balas Irsyad tak menghiraukan meskipun Citra berusaha menggoda.
"Ya udah kalau gitu, ayo bun kita juga pacaran. Di sana ada kafe, kan? Ayah nggak mau di sini terus, jadi nyamuk nggak enak," tutur Erwin yang berpihak pada Irsyad.
"Ya udah, ayo, Yah," jawab Citra.
Sekitar sepuluh menit Irsyad masih betah memeluk Kila. Irsyad hanya memeluk, tidak ada membicarakan hal apapun. Kila sedikit canggung karena hal itu.
"Kak, sampai kapan kakak akan mendekap Kila terus seperti ini?" tanya Kila.
"Kila, biarkan saja. Saya amat sangat memelukmu. Biarkan saya menikmatinya. Kamu ingat saat pertama kali saya memelukmu? Di saat itulah saya menyadari bahwa saya memang benar-benar memiliki perasaan untuk kamu Kila. Suara jantung saya yang berdetak kencang bukan hanya khawatir saat mengetahui nenek meninggal, tapi juga karena kamu ada dalam dekapan saya," jawab Irsyad langsung ke telinga Kila, lagi. Entah kenapa bisikan lembut Irsyad itu sama sekali tidak menggangu Kila.
"Kak, nanti ada yang ngeliatin kita. Kila malu," balas Kila.
"Tidak ada yang berlalu lalang di sini. Kamu tenang saja," jawab Irsyad.
"Kak, tenaga Kila habis. Kila tidak kuat lagi berdiri," ujar Kila dengan jujur.
"Kenapa habis?" tanya Irsyad heran.
"Iya, soalnya jantung Kila saat ini udah ngambil pasokan energi Kila. Jantung Kila olahraga di dalam," ujar Kila malu kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Irsyad.
"Kila, mau mendengarkan suara jantung saya?" Irsyad menawarkan. Kila yang tadinya menenggelamkan wajahnya, kemudian menegakkan kepalanya dan menatap dada bagian kiri Irsyad.
"Cobalah dengarkan, kamu akan tahu kalau jantung saya saat ini juga sedang berdebar kencang," tawar Irsyad.
Kila penasaran, dan dengan ragu ia menempelkan telinganya di dada bidang Irsyad. Ia menempelkannya di sebelah kiri tempat jantung Irsyad berada. Dan benar, jantung Irsyad yang didengarnya berdetak kencang. Tapi di lihat dari ekspresi wajah Irsyad, ia seperti biasa saja. Sekarang Kila tidak merasa sendiri, Irsyad juga dapat mengalami jantung yang berolahraga seperti yang dialaminya.
"Irsyad, udah cukup mesra-mesraannya. Kamu harus berangkat. Ingat ini udah jam berapa," ujar Citra. Mereka kembali bukan karena ingin mengganggu waktu mereka, tapi memang sudah waktunya Irsyad harus masuk bandara. Kalau tidak, ia akan ketinggalan pesawat.
"Baik, Bunda. Kalau begitu, Irsyad pamit dulu ya," jawab Irsyad.
Irsyad berpamitan dengan bundanya dan juga ayahnya dengan salim tangan dan mencium kedua pipi mereka. Saat Irsyad ingin berpamitan dengan Kila, Irsyad kembali memeluk Kila. Padahal Kila sudah bersiap untuk mencium tangan Irsyad saat itu juga.
"Saya janji akan menghubungi kamu terus saat sudah sampai di sana. Kamu juga sering memberi kabar, ya," ujar Irsyad tepat ke telinga Kila. Irsyad kemungkinan melepaskan pelukannya dan mengakhirinya dengan mengecup kening Kila lembut.
"Ayah, Bunda, Kila, Irsyad pamit dulu. Irsyad mohon doanya dari kalian. Assalamu'alaykum," ucap Irsyad sebelum benar-benar beranjak.
"Wa'alaykumussalam, hati-hati di jalan, Kak. Fii amanillah," ujar Kila memberikan doa keselamatan untuk Irsyad.
Perpisahan yang sangat manis menurut Kila. Bahkan saat Irsyad sudah beranjakpun, bekas pelukan Irsyad masih ia rasakan di badannya. Bisa-bisa Kila tidak bisa tidur karena hal ini.
...****************...