
Debutnya menjadi asisten dosen tidak terlalu buruk. Cara mengajar Kila disukai oleh mahasiswa yang diampu Irsyad. Walaupun masih ada yang kurang sopan dengan Kila, karena kelas yang Kila ajar adalah mahasiswa baru yang masih mengalami transisi dari masa SMA. Sejauh ini semuanya berjalan lancar sampai ujian akhir semester (UAS) sebentar lagi tiba, baik untuk mahasiswa yang Kila ajar maupun dengan Kila sendiri. Ya, sudah sekitar empat bulan Kila menjadi asisten dosen.
Kila jadi tahu, betapa suaminya itu sangat dikagumi oleh mahasiswanya. Karena, kebanyakan dari mereka mengatakan wajah Irsyad yang tampan dan ramah seperti Irsyad, meskipun tak jarang hal itu membuat Kila kesal sebagai istri Irsyad. Mata kuliah Bahasa Indonesia cenderung dinilai bosan dan membuat ngantuk oleh mahasiswa, tapi itu tidak berlaku di kelas Irsyad. Mahasiswa tampak bersemangat dengan tampang Irsyad dan juga keahliannya dalam mengajar.
"Kak Kila udah punya pacar belum, ya?" bisik salah seorang mahasiswa dengan temannya. Ia satu diantara mahasiswa lain yang mudah jatuh hati hanya dengan tampang Kila yang cantik dan menyejukkan, meski cara mengajar Kila juga, sih.
"Hus..., ngomong apa sih. Nggak lihat itu ada cincin di jarinya? Berarti dia udah punya pasangan. Bahkan bisa jadi udah nikah. Nggak ada lagi kesempatan kita buat deketin Kak Kila," balas temannya. Mereka sebenarnya saingan, tapi temannya yang ini hanya sekedar kagum ke Kila, tidak berniat untuk menjadikan Kila miliknya.
"Hey, apa yang kalian bisikkan? Saya bisa mendengar, lho," interupsi Irsyad. Saat ini mereka sedang dalam diskusi kelompok, lalu kebetulan sekali Irsyad mendengar pembicaraan mereka saat lewat untuk mengawasi.
"Ng-nggak Pak Irsyad. Kita cuma kagum aja sama cara mengajar Kak Kila," sanggah mahasiswa itu.
"Kila, apa kamu membuat mereka memanggil kamu dengan sebutan 'Kak' saat saya sedang tidak ada?" ucap Irsyad cukup kuat untuk di dengar orang di seluruh kelas itu termasuk Kila.
"Iya, Pak. Umur saya dan mereka tidak jauh beda, jadi dengan mereka menyebutnya seperti itu akan lebih mudah mengakrabkan diri."
"Benarkah demikian?"
"Iya, Pak. Lagian, Kak Kila itu masih muda banget wajahnya. Memang cocoknya dengan panggilan itu doang. Kita yang nggak nyaman manggil 'Bu' ke Kak Kila," jawab mahasiswa yang tadi diinterupsi Irsyad.
Irsyad menghela nafas panjang untuk mengerti alasannya.
"Dengar, ya, kalian semua. Sapaan itu sangat bermakna, jangan jadikan keakraban kalian ini menjadi tidak sopan ke Kila, ya?" ujar Irsyad memperingatkan.
"Baik, Pak," ucap sebagian besar mahasiswa di kelas itu.
...****************...
Kila sudah selesai mengajar. Membantu Irsyad juga untuk risetnya. Setelahnya, ia pergi untuk menghadiri jadwal kelasnya.
"Kak Kila, kita masih belum mengerti tentang tugas yang diberikan," ucap seorang mahasiswa seraya mengejar Kila. Ada temannya yang mengikuti di belakang.
"Kalian bisa langsung tanya ke Pak Irsyad saja. Saya sebentar lagi ada kelas," tolak Kila.
"Pak Irsyad juga lagi ada keperluan waktu kita lihat, Kak," ucap mereka berbohong. Mereka sama sekali tidak menemui Irsyad.
"Ya sudah. Bagian mana yang kurang mengerti? Biar saya jelaskan ulang," ucap Kila menerima. Ia ingin segera menyelesaikannya sebelum ia terlambat nantinya.
Saat Kila sibuk menjelaskan, tak lama Irsyad datang menghampiri mereka dari belakang. Dia orang mahasiswa itu kepergok melihati wajah Kila saat Kila sedang menjelaskan. Irsyad menghampiri dengan agak gusar karenanya.
"Kila, bukannya kamu ada kelas?" tanya Irsyad. Sontak dua mahasiswa itu menunduk pura-pura melihat kertas yang di jelaskan Kila.
"Iya, Pak. Sebentar lagi saya selesai menjelaskan rincian tugasnya pada mereka," jawab Kila.
"Saya saja yang melanjutkan. Kamu bisa tinggalkan."
"Seperti yang dijelaskan Pak Irsyad, sisanya dilanjutkan beliau, ya," ucap Kila. Lalu, buru-buru Kila meninggalkan sekumpulan pria itu.
"Yah..," ucap kecewa dua mahasiswa itu.
"Kenapa? Tidak puas?"
"Ng-nggak, Pak. Tadi itu maksudnya kita udah lumayan ngerti, eh, malah ditinggal gitu aja sama Kak Kila," jawab mereka ngeles.
"Tugas seperti ini, sebenarnya kalian bisa tanya dulu ke teman kalian yang sudah mengerti. Kenapa harus bertanya langsung ke pemberi tugas?" tanya Irsyad tegas.
"Kalian pikir kita hidup di zaman apa, sih?"
"K-kalau gitu, kita tanya ke teman aja, deh, Pak. Bapak nggak usah lanjutin penjelasan Kak Kila tadi. Terimakasih banyak, Pak. Maaf mengganggu waktunya."
"Permisi, Pak," pamit mereka.
"Ada-ada saja dua mahasiswa itu. Pasti cuma cari-cari alasan untuk bisa bicara dengan Kila."
...****************...
Perjalanan pulang, Irsyad masih terlihat gusar.
"Apakah saya harus memberikan pengumuman soal status kamu yang sebenarnya adalah istri saya? Masa mereka tidak tahu kalau kita memakai cincin yang sama. Masa mereka tidak curiga dengan hubungan kita?" ucap Irsyad tiba-tiba seraya mengemudikan mobil.
"Huhu, Kak Irsyad lucu banget," goda Kila. Sisi Irsyad yang seperti ini juga baru Kila lihat.
"Daripada dipanggil dengan sebutan Kak Kila, saya akan lebih senang kalau mereka memanggil kamu dengan sebutan Bu Irsyad," ucap Irsyad serampangan.
"Kak Irsyad ada-ada aja, deh."
"Benar, Kila. Kadang saya kesal. Apalagi, kalau ada mahasiswa yang modus menanyakan detil tugas, padahal mereka juga sudah paham dengan tugasnya. Dua orang yang menanyai kamu tentang tugas itu, mereka mahasiswa dengan nilai terbaik. Saat UTS nilai mereka bagus, di kelas juga mereka sering berargumen. Dasar, pintar-pintar tapi kegatalan," celoteh Irsyad.
"Mahasiswi Kakak juga seperti itu, kan?"
"Kila, saat ini saya ingin mengungkapkan kekesalan saya. Jangan mengungkit yang lain. Lagian, saya selalu melakukan dengan cepat saat mereka menanyakan detil tugas. Saya tahu mana yang modus dan mana yang benar-benar tidak mengerti, jadi saya bisa menyaring dengan tepat. Mengabaikan mereka yang modus dan mengajari mereka yang benar-benar tidak mengerti. Saya juga tidak pernah melakukannya ditempat sepi atau tempat yang tidak ada orang yang berlalu lalang saat membantu seorang mahasiswi, tidak seperti mereka yang pandai memanfaatkan situasi dan menanyakan kamu di koridor sempit dan sepi."
"Wah..., profesional banget suamiku ini."
"Mereka bahkan tidak mau dijelaskan oleh saya tentang detil tugas itu. Karena sebenarnya mereka sudah paham," ujar Irsyad kesal.
"Kak, minum dulu, nih." Seketika minuman yang di tawarkan Kila diminum. Kila sangat pengertian untuk meredakan Irsyad yang gusar.
"Kak Irsyad cemburu, ya?" tanya Kila disela-sela Irsyad minum.
UHUK UHUK UHUK
Tentu saja, Irsyad tersedak karena tebakan Kila benar.
"Kila senang Kakak cemburu," batin Kila seraya tersenyum.
Irsyad minum lebih banyak untuk membantu meredakan batuk akibat tersedak tadi. Irsyad kesal saat Kila tidak membantunya atau mengingatkannya untuk meminum air lebih banyak. Kila malah tersenyum melihat Irsyad tersedak.
"Jangan tersenyum. Apa saya lucu saat tersedak? Huh, kamu membuat saya kesal hari ini Kila."
"Mengingat bagaimana kamu dan mahasiswa itu akrab, saya juga kesal. Sebab, kamu harus memanggil saya 'Pak' saat di kampus. Saya jadi ingat betapa egoisnya saya menyuruh kamu untuk bersikap formal ke saya kembali waktu itu. Untung saja saya dapat menahannya."
"Ya udah, apa nih yang bisa Kila tebus karena udah bikin Kakak kesal? Kita makan di luar aja, ya? Udah lama kita nggak kencan," usul Kila untuk membuat suasana hati Irsyad menjadi lebih baik.
"Benar, sudah lama kita tidak makan di luar. Hari ini juga terlalu melelahkan untuk memasak, saya tidak tega melihat kamu masak saat sedang lelah-lelahnya. Mau ke mana kita? Kamu aja yang pilih restorannya."
"Kalau gitu, kita makan di rumah makan padang aja," usul Kila. Irsyad sudah tahu, Kila memilih itu karena hobi makannya. Sebab, di sana bisa memakan semua yang di sajikan di depan meja, tidak harus menunggu lama juga. Tinggal pilih, ambil, dan makan. Sangat praktis untuk si rakus seperti Kila.
...****************...