Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Nasehat Sahabat



Kila gugup saat memutus sambungan telepon secara sepihak itu. Ia memang sedang menghindar dari Irsyad. Ia juga mencari-cari alasan untuk tidak tinggal dengan Irsyad di hari terakhirnya sebelum berangkat ke Turki besok. Harusnya pun, Kila menghabiskan waktu dengan Irsyad sebelum mereka akan benar-benar LDR. Entahlah Citra menganggapnya istri yang seperti apa, ia tidak peduli untuk sekarang.


Kila memang tidak berbohong tentang membersihkan kamar kos dan kedatangan ira dan Risa. Tapi karena terlalu lelah, Kila menundanya. Ira dan Risa datang di pagi hari keesokan harinya.


"Kil, Assalamu'alaykum," ucap Risa saat sudah di depan pintu kamar kos. Mereka memang sengaja datang sangat pagi sekitar pukul enam karena banyak persiapan yang harus disiapkan. Mereka juga harus menyusun list keperluan apa saja yang harus dibeli.


"Wa'alaykumussalam. Masuk, guys. Aku buatin minum dulu ya. Kalian santai aja, anggap rumah sendiri," ujar Kila mempersilahkan.


"Ehm, iya-iya yang sekarang udah jadi pemilik kos juga secara nggak langsung. Kamu nggak kayak biasanya deh sopan banget nyambut sahabat sendiri. Kamu yang santai, Akil," ujar Ira yang hobinya menggoda Kila.


"Aku nggak enak sama kalian membatalkan janji di saat-saat terakhir. Jadinya kalian harus datang pagi-pagi sekali hari ini. Maaf, ya," balas Kila.


"Iya-iya udah dimaafin. Lagian kami ngerti, kok, kalau kamu pasti capek banget habis liburan. Ya udah sana buatian minum. Dingin tahu diluar tadi naik motor Ira. Iranya ngebut soalnya. Buat aku teh manis panas ya, jangan yang hangat, untuk angetin perut," ucap Risa.


"Aku juga ya, Akil," susul Ira.


"Oke, tunggu bentar ya," pinta Kila.


Setelah beberapa saat, Kila kembali dengan membawa dua gelas teh manis panas permintaan dua sahabatnya itu. Entah melamunkan apa, dua gelas yang Kila bawah tumpah mengenal tangan Kila saat ingin ia suguhkan ke meja yang berada di depan kedua sahabatnya itu. Kila refleks meringis kesakitan karena air panas yang tumpah mengenai tangan Kila.


"Kamu lamunin apa, sih, Akil? Kan udah dibilang santai aja, nggak usah buru-buru suguhin minumnya. Jadi tumpah kena tangan kamu kan?" ujar Ira dengan khawatir


"Itu kayaknya Kila melamun, Ra. Makanya bisa tumpah. Kamu lamunin apa, sih, Kil? Cerita sama kita," tutur Risa.


"Iya, Akil, cerita dong," susul Ira yang sangat ingin mendengar cerita Kila untuk membantu.


"Ya ampun, kalian berlebihan, deh. Nggak ada apa-apa, kok," ujar Kila bohong.


"Ya udah kalau kamu belum mau cerita. Tapi kalau kamu mau cerita, kita siap, kok, dengerin cerita kamu. Jangan sungkan untuk cerita , ya, Akil," balas Ira. Ia menyerah jika memang Kila tidak ingin cerita.


Ira dan Risa tidak ingin memaksa Kila untuk bercerita. Mereka mengabaikan hal itu kemudian berfokus membuka list yang sudah direncanakan sebelumnya.


"Oiya kamu udah janji buat beliin oleh-oleh buat aku sama Ira, kan, Kil? Boleh dong di kasih. Hehe..." ujar Risa saat mereka agak jenuh membuat beberapa list.


"Ngomong-ngomong, gimana bulan madunya, Akil?" Ira yang suka menggoda malah mengalihkan topik yang dibicarakan oleh Risa.


"Hus, Ira! Nggak boleh kepo tentang hubungan rumah tangga orang. Lagian cerita tentang bulan madu pasutri itu nggak boleh diumbar, tahu. Cukup pasutri itu dan Allah aja yang tahu. Sekali lagi kamu jangan nanya-nanya begitu, ya, Ra. Kila juga yang kasihan, kamu goda terus-terusan," ujar Risa memberi pengertian.


"Iya, deh. Aku salah, maafin aku ya, Akil," ucap Ira menyesal.


"Nggak apa-apa. Lagian kami memang benar-benar liburan aja, nggak ada yang terjadi seperti yang kalian pikirkan. Aku bahkan belum bisa melepaskan hijabku," balas Kila. Ia merasa tidak ada hal vulgar yang terjadi, jadi tidak apa-apa menceritakannya.


"Kalau tidur, seranjang pasti, kan?" ujar Ira merasa terpancing dengan ucapan Kila tadi.


"Iya, benar. Tapi ranjangnya sangat besar dan kami tidur cukup berjauhan. Aku juga tidur membelakangi beliau. Beliau juga mengerti kalau aku belum bisa terbiasa dengan status sebagai istrinya. Beliau juga berkomitmen untuk menjaga janjinya pada mama yang tidak akan mengganggu pendidikanku dengan ingin memiliki anak sebelum aku mendapatkan gelar sarjana. Kalian tahu sendirilah, beliau selalu berpegang teguh pada pendiriannya," jawab Kila seadanya.


Melihat Kila yang kembali melamun, membuat hati Ira dan Risa berdesir. Mereka yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara Kila dan Irsyad.


"Kil, kamu lebih baik cerita aja, deh, sekarang. Habis pulang liburan sama Pak Irsyad, kamu jadi aneh banget, Kil," ucap Risa.


Kila menitikkan air matanya kemudian memeluk Risa secara mendadak, Risa membalas pelukan itu. Ira yang berada disamping, berusaha menenangkan Kila dengan mengusap lembut punggung Kila.


"Aku merasa nggak pantas jadi istrinya Pak Irsyad, Ris, Ra. Beliau terlalu sempurna untukku. Aku jadi merasa bersalah karena selalu mengandalkan Pak Irsyad untuk menjaga nenek. Aku merasa, Pak Irsyad harusnya bisa dapat perempuan yang lebih baik lagi daripada aku," ujar Kila seraya menangis.


"Hus, Akil. Kamu nggak boleh bicara begitu. Memangnya kenapa kamu bisa mikir nggak cocok untuk Pak Irsyad?" tanya Ira penasaran.


"Ra, beliau terlalu sempurna dan aku hina. Kami sangat akrab di hari pertama liburan, dan harusnya di hari kedua liburan juga, tapi aku mengacaukannya. Waktu itu kami makan siang bersama di restoran yang menghadap ke pantai, dan kami saling jujur mengungkapkan perasaan masing-masing. Aku ceritakan semua peristiwa di mana kekagumanku berawal. Lalu aku bahkan menceritakan tentang besarnya perjuanganku untuk meminta berjodoh dengan Pak Irsyad di selipan doa saat menunaikan shalat di sepertiga malam.


Tapi Pak Irsyad berbeda. Bukan seperti aku yang meminta berjodoh dengan Pak Irsyad, beliau malah meminta petunjuk kepada Allah agar tidak melampaui batas cinta yang ia rasakan ke aku selain pada-Nya. Beliau terlalu sempurna untuk jadi imamku. Kami juga sangat bertolak belakang. Aku seolah disadarkan olehnya bahwa cintaku selama ini tidak pernah mendahulukan Allah, tidak pernah melibatkan Allah. Bahkan, aku meminta untuk berjodoh dengan Pak Irsyad, bukan malah meminta agar perasaan yang aku miliki ini tidak menjadi haram. Harusnya aku meminta petunjuk-Nya, bukan malah meminta dijodohkan atas dasar perasaan yang terpatri ini." Kila mengungkapkannya dengan sesenggukan di sela-sela ceritanya.


"Jadi kamu minder karena merasa nggak cocok jadi istri orang yang lebih taat kepada Allah dibanding kamu, iya?" tanya Risa tegas. Kila mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


"Kila, ambil hikmahnya. Allah udah mengabulkan doa kamu agar dijodohkan dengan Pak Irsyad. Karena Pak Irsyad lebih taat daripada kamu, artinya dia bisa menjadi imam yang baik buat kamu. Kamu juga tidak boleh tidak bersyukur seperti sekarang ini, Kila. Kamu harus lebih bersyukur dan menghargai apa yang sudah kamu dapatkan dari yang pernah kamu pinta. Lagian, kalau kamu merasa minder karena kalah taat dengan Pak Irsyad, nggak ada kata terlambat untuk mulai mengimbangi ketaatan Pak Irsyad. Ingat, Kil, kamu harus bersyukur punya suami kayak Pak Irsyad, jangan minder-minder lagi," ucap Risa memberi nasehat. Kila merasa lega sudah bercerita dan diberikan nasihat oleh sahabatnya. Ia kemudian mencoba menenangkan dirinya.


"Oiya, Kil. Oleh-olehnya mana? Ini gara-gara Ira ganti topik pembicaraan sih, tadi," ujar Risa pandai menghibur Kila. Ia tertawa singkat karena ungkapan kecil itu.


"Sama Bunda, ketinggalan karena aku buru-buru keluar dan menghindar dari Pak Irsyad," jawab Kila.


"Btw, Pak Irsyad balik ke Turki hari ini, kan? Kamu ke sana gih, Kil. Baikan, nggak boleh lho diam-diaman lebih dari tiga hari. Kamu juga nanti bakal ditinggal lebih dari tiga hari, belum tentu kamu bakal nerima telpon dari Pak Irsyad," Risa mengingatkan.


"Iya, Akil. Jam berapa berangkatnya?" tanya Ira.


"Jadwal penerbangannya, sih, jam sembilan," jawab Kila santai.


"Astaga, Akil. Udah sana kamu baikan sama Pak Irsyad, susul sekarang. Ungkapin perasaan kamu dengan benar. Dan jangan lupa oleh-oleh yang tertinggal itu. Sekarang udah pukul setengah delapan, kamu harus cepat sebelum Pak Irsyad beneran balik, lho," ujar Ira memburui Kila.


"Iya, Kil. Kalau udah keduluan ke bandara, kamu susul aja. Lagian bandaranya juga dekat, kan? Kami tunggu sampai pukul sepuluh, deh," ujar Risa ikut-ikutan memburui.


Kila bersemangat karena diberi dukungan positif dari kedua sahabatnya. Ia dengan langkah pasti meniatkan agar masalahnya dengan Irsyad terselesaikan. Ia juga tidak ingin menyesal di kemudian hari. Dengan cepat ia mengetuk pintu rumah Citra, namun tidak ada seorangpun yang menyahut.


Kila mencoba membuka pintu rumah, ternyata dikunci. Mereka sudah berangkat ke bandara.


"Ya Rabb, tolong sempatkan hamba untuk memperbaiki semua ini," ucap Kila dalam hati. Ia melanjutkan perjalanan menuju bandara dengan terburu-buru karena tidak ingin menyesal nantinya.


"Semoga masih sempat," batin Kila.


...****************...