
Keesokan hari setelah beberes itu, mereka langsung mengerjakan hal yang sebelumnya telah di rencanakan. Semua barang yang sudah di packing sudah disusun di tempatnya, di rumah baru mereka. Mereka memang lanjut bekerja meski badan masih kelelahan. Lagian tidak ada masalah, toh ini juga weekend.
"Akhirnya selesai juga, ya, Kak? Kila udah capek banget pengen istirahat," keluh Kila. Mereka benar-benar membereskan semuanya hanya berdua. Jadi wajar jika Kila kelelahan dan mengeluh.
"Iya, Alhamdulillah akhirnya selesai. Kamu bisa istirahat di kamar kalau kamu mau, Kila," usul Irsyad. Ia tidak tega melihat Kila kelelahan, meski sebenarnya ia menikmati wajah lelah Kila yang jarang-jarang bisa ia lihat.
"Nggak mau. Kila maunya istirahatnya bareng Kak Irsyad. Karena kita kerjanya bareng-bareng, istirahatnya juga harus bareng-bareng, dong, Kak," ucap Kila. Sederhana, namun setelah Kila mengucapkan itu, Irsyad merasa lebih sejuk. Entah efek AC yang hidup menjadi sejuk di rasa, atau memang karena ucapan Kila yang begitu tulus terdengar, sehingga menyejukkan. Mungkin karena keduanya, pikir Irsyad.
"Ya sudah, saya ikut istirahat juga kalau begitu," balas Irsyad menyetujui ucapan Kila.
Mereka kemudian menuju kamar yang sudah tersedia ranjang sebagai objek peristirahatan. Saking lelahnya, Kila menghempaskan tubuhnya dengan langsung melompat, berbeda dengan Irsyad yang dengan normal membaringkan tubuhnya meski ia juga sama lelahnya dengan Kila. Lalu keduanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya, kemudian melamun sejenak seraya menatap langit-langit kamar tidur dan menikmati waktu kebersamaan itu. Menciptakan keheningan sejenak untuk istirahat dari kelelahan.
"Kak, mulai besok berarti harus Kila yang masakin buat kakak, ya?" ujar Kila memecah keheningan yang berulang agak lama. Dalam lamunannya tadi, ia berpikir panjang tentang tugasnya sebagai istri setelah pindah di rumah ini. Dan hal paling penting adalah seorang istri harus memasak untuk suaminya, makanya Kila menanyakan topik itu dulu pada Irsyad dibanding topik yang lain.
"Tidak perlu terburu-buru. Kalau kamu masih lelah, tidak usah memasak untuk saya. Saya bisa beli makan di luar. Dan kalau kamu lapar, kamu bisa hubungi saya. Biar saya yang belikan makanan untuk kamu," jawab Irsyad seraya menyampingkan kepalanya menghadap Kila.
"Nggak apa-apa, nih, Kak?" tanya Kila menyampingkan kepalanya menghadap ke Irsyad pula.
"Hmmm, sebenarnya saya ingin cepat-cepat merasakan masakan istri. Tapi, saya mengerti dikamu lelah. Besok juga ada kuliah, kan? Saya tidak ingin kamu terbebani belajarnya kalau sedang lelah dan memikirkan menu masakan," jawab Irsyad lembut seraya tersenyum dan mengusap kepala Kila.
"Gitu, ya, Kak? Ya udah kalau gitu, dua hari ke depan baru Kila mulai masak buat kita makan, ya? Kila nggak akan kelelahan kalau dua hari lagi mulai masakinnya," usul Kila. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan hati Irsyad untuk menghindari kewajibannya. Apalagi setelah mendengar keinginan Irsyad yang tulus ingin merasakan masakan istri. Kila jadi merasa berdosa sebagai seorang istri karena tidak dapat mewujudkannya.
"Kamu serius? Wah, senang sekali mendengarnya. Tapi kalau kamu masih lelah dan tidak sempat memasak, kabari saya, ya? Supaya menu masakan nanti dibeli saja. Sekali lagi, saya tidak ingin memaksa. Kamu juga jangan terlalu memikirkan tentang kewajiban sebagai istri setelah kita pindah ke sini. Saya takut itu akan mempengaruhi belajar kamu. Bersikaplah biasa saja seperti sebelum kita tinggal bersama. Jika saya perlu sesuatu, saya pasti bilang ke kamu. Jangan repot-repot memikirkan sesuatu yang harus kamu lakukan buat saya, ya? Ingat, bersikap biasa saja," balas Irsyad. Ia bisa mengerti pasti Kila menambah beban pikirannya tentang kewajiban sebagai istri semenjak tinggal bersama. Irsyad pikir, dengan bicara seperti itu dapat menenangkan Kila dari kegelisahannya dan tujuan untuk lulus cepat dapat tetap dalam target.
"Iya, Kak. Kila beruntung banget karena dapat suami yang nggak banyak menuntut seperti kakak. Terimakasih, ya, Kak. Oiya, Kak Irsyad mau dimasakin apa untuk dua hari ke depan nanti?" respons Kila bahagia dan makin antusias.
"Apa saja akan saya makan kalau istri yang masak. Tidak ada makanan khusus yang tidak saya sukai. Saya suka semua jenis makanan asalkan halal. Jadi, kamu bebas memasak sesuai kreasi kamu. Pasti akan saya makan apapun jenis makanannya," jawab Irsyad. Suami yang sederhana, tidak banyak meminta ini itu. Lagi-lagi Kila sangat bersyukur dengan kesederhanaan Irsyad.
"Oke kalau gitu, Kak. Tapi, Kak Irsyad jangan berekspektasi tinggi saat mencoba makanan yang Kila buat, ya? Kila jarang masak, soalnya waktu tinggal sama nenek, Kila cuma kebagian ngupasin bawang aja dan yang memasak cuma nenek. Jadi, Kila hanya bisa memperhatikan nenek masak tanpa pernah mencoba memasaknya," ungkap Kila.
"Ya sudah, kamu memasak yang paling kamu bisa saja," usul Irsyad.
"Wah..., nasi goreng, ya? Jadi tidak sabar menunggu kamu memasak itu untuk saya," ujar Irsyad seraya menyisipkan tawa kecil di akhir.
"Oiya, kamu selama ini, kan, ngekos tuh. Biasanya sering masak apa? Bukannya anak kos sering masak sendiri, ya? Terus, kenapa kamu tidak percaya diri dengan apa yang ingin kamu masakkan untuk saya?" tanya Irsyad.
"Umm, kebanyakan sih mie instan atau telur. Hehehe," jawab Kila. Mau apalagi yang bisa Kila masak? Mimpi ada bahan gratis yang diberi ibu kos, untuk apa beli lagi, coba? Jadi, Kila memanfaatkan apa yang ada saja di dapur umum yang sudah dibelikan Citra. Irit atau pelit itu? Tapi, Kila tidak pernah pikir panjang tentang uang kalau ingin membeli cemilan untuk dirinya.
"Makanan sehatnya tidak ada?" tanya Irsyad.
"Sering makan makanan sehat, kok. Tapi, nggak pernah Kila masak. Paling, kalau lagi pengen nasi bungkus atau nasi padang, Kila beli. Kadang juga Ira sama Risa sering ngajakin makan di luar dan sering traktir Kila makanan sehat," jelas Kila. Irsyad sempat khawatir saat Kila mengatakan sering mengkonsumsi makanan-makanan yang terbilang kurang sehat.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Irsyad tenang. Ia kembali mengarahkan kepalanya menatap langit-langit kamar kembali.
"Cie..., Kak Irsyad khawatir sama Kila, ya?" pikir Kila berbunga-bunga dalam hati.
"Oiya, besok coba saya yang masak untuk kita makan, ya? Saya ingin memasakkan makanan sehat untuk kamu," ucap Irsyad seraya menyampingkan kepalanya menatap Kila.
"Ee..., nggak jadi beli aja, Kak? Kalau mau makan makanan sehat, biar kita food delivery nya mesen makan yang sehat aja," usul Kila.
"Kalau kita bergantian memasak, kamu mau? Misalnya saat kamu banyak tugas atau sedang mengerjakan skripsi, biar saya yang masak. Sebaliknya, saat saya yang sibuk kamu yang memasak. Bagaimana?" usul Irsyad menyaingi usulan Kila.
"Kak, kakak nggak usah repot-repot. Kakak udah kerja keras untuk membiayai kebutuhan Kila, dan udah lelah bekerja. Sesibuk apapun Kila, pasti akan Kila usahakan untuk masak. Dan itu tugas seorang istri, Kila nggak mau menambah beban Kak Irsyad sebagai pencari nafkah," balas Kila kukuh.
"Baiklah kalau kamu bersikeras. Tapi, kalau kamu benar-benar sibuk saya siap membantu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan saya," ucap Irsyad mengalah.
Sepertinya rumah tangga mereka setelah memutuskan untuk tinggal bersama akan berjalan harmonis, setidaknya itu yang Kila pikirkan. Kila dapat melihat kalau Irsyad suami yang sangat pengertian, selalu ingin membantu Kila. Kila benar-benar merasa beruntung karena dapat berjodoh dengan Irsyad.
"Terimakasih banyak ya, Kak. Terimakasih atas semua kebaikan yang kakak tunjukkan ke Kila," ucap Kila haru. Irsyad segera mengecup kening Kila untuk membuat kenyamanan bagi Kila. Suasana hati Kila haru bercampur bahagia.
...****************...