Affair (Faira)

Affair (Faira)
Demo Warga



"Demi Tuhan aku yang memaksanya menikah, Pak. Anak Anda tidak bersalah sama sekali. Semua kesalahan itu ada pada diri saya. Bukan dirinya. Dia bukan wanita murahan yang mau di sentuh oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Untuk itu aku memintanya menikah agar seandainya ada kejadian diluar batas kami telah mensahkannya secara agama."


"Dan kalian melakukan hal diluar batas, lalu tersebar di dunia Maya?" tanya Pak Noto.


Dalam hatinya Intan ingin berseru jika bukan dirinya yang beradegan dalam video itu, namun jika itu dilakukan maka semuanya rencana akan gagal. Pernikahannya dengan Raka dipastikan tidak akan terlaksana. Itu memang yang dia inginkan.


Namun, apakah dunia mau mendengarkan penjelasannya. Sepertinya itu sulit. Cara terbaik adalah menutup masalah ini dengan pernikahan.


"Entah siapa pelaku yang merekam adegan itu tanpa kami ketahui, tetapi aku pastikan pelakunya akan mendapatkan balasan yang lebih keji dari yang dia lakukan," kata Raka penuh dendam. Cindy telah dirayah oleh beberapa pria suruhannya setelah itu dia ditinggal di tengah hutan. Seorang bintang harus hidup di hutan agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Pikir Raka.


Intan lalu bangkit dari tempat duduknya dan bersimpuh di kaki ayahnya. "Pak e, maafkan Intan. Sungguh dalam hati Intan tidak terbesit rasa untuk menyakiti kalian. Intan juga tidak menduga dengan semua yang terjadi. Intan malu, panik dan shock, namun Intan tidak tahu harus berbuat apa."


"Mungkin kalian juga merasakan berkali-kali lipat apa yang Intan rasakan, maaf Pak, Maaf,"


Tidak ada orang tua yang bisa benar-benar marah ketika melihat anaknya mengakui kesalahan. Mereka pasti akan luluh begitu saja.


"Intan, sudah sudah Pak e akan memaafkan kesalahanmu hanya saja jadikan ini pelajaran berharga bagimu. Karena tidak selamanya kesalahan bisa termaafkan."


"Terima kasih, Pak," kata Intan memegang tangan Ayahnya. Raka lalu mengikuti jejak Intan dengan bersimpuh meminta maaf dan meminta restu juga.


Apapun niat pernikahan ini walaupun hanya untuk sandiwara tetapi tetap butuh restu kedua orang tua.


Ketika acara meminta maaf dan restu itu selesai di saat itu pula beberapa warga membuat keributan di luar mereka melakukan demo di depan rumah.


Untung Raka membawa barisan pengawal dari partainya sehingga orang-orang itu tidak dapat langsung masuk ke dalam.


Pak Noto dan Raka segera keluar rumah sedangkan Ibu Intan memeluk anaknya.


"Ibu," panggil Intan khawatir.


"Tenang, tenang semuanya. Katakan pada saya ada apa ini? Mengapa kalian berbondong-bondong datang kemari?" tanya Pak Noto. Melihat beberapa orang warga datang dengan wajah yang murka.


"Kami ingin agar Bapak mengusir pasangan mesum dan zina itu dari kampung ini!" teriak semua orang yang ikut dalam rombongan ini.


Raka yang sudah terbiasa menghadapi para pendemo segera maju.


"Jangan Nak," kata Pak Noto memegang lengan tangan Raka. Raka hanya tersenyum dan maju ke depan.


Sebuah lemparan batu mengenai kepala Raka. Dia memegang kepalanya dan terlihat darah mengalir. Intan yang melihat dari jendela kaca menutup mulutnya. Dadanya berdegub kencang dan pegangan tangan pada ibunya semakin dipererat.


Semua orang yang melihat terperangah dan terkejut. Para pengawal lalu merapatkan penjagaan pada majikannya.


"Anda terluka Tuan," kata pengawal itu khawatirkan. Raka hanya merenggangkan tangannya.


"Alangkah baiknya jika kita membicarakan masalah ini di dalam dengan baik-baik," kata Raka penuh aura wibawa dan berkharisma.


"Untuk apa berbicara dengan kau seorang pezina, najis bagi kami untuk mendekatimu," ucap warga yang lain.


"Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu tanpa bukti nyata."


"Video itu memang benar aku pelakunya, dan sayangnya hubunganku dengan Intan sudah saja secara agama dan ada surat tertulisnya walau belum dipublikasikan secara umum. Namun, seseorang mengambil video tidak senonoh itu tanpa ijin dan menyebarkannya. Polisi sedang mengusut tuntas kasus ini. Jadi kalian tidak bisa menuduhku tanpa dasar bukti yang jelas karena Polisi sendiri hanya meminta penjelasan saja padaku," terang Raka tenang. "Karena di sini saya dan Intan sebagai korbannya."


Semua orang terdiam.


"Makanya saya minta perwakilan dari kalian untuk berbicara dengan saya secara baik-baik jika belum puas kalian bisa.''


"Bahkan saat ini saya bisa melaporkan kalian semua yang ada di sini melakukan kekerasan dan perundungan pada saya dan istri saya," balik Raka dengan nada tenang namun mengancam.


Beberapa orang mulai berbicara. Mereka nampak bingung dengan apa yang terjadi. Raka tersenyum samar. Sedangkan Pak Noto menatap bangga pada calon menantu eh menantunya sahnya itu. Intan tersenyum lega.


Pak Noto lalu maju ke depan.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu, sebaiknya masuk ke dalam dan membicarakan ini baik-baik sembari berkenalan dengan menantu saya ini."


Akhirnya mereka yang berdemo masuk ke dalam rumah. Anjani ditarik oleh ibunya untuk membuatkan minuman untuk mereka semuanya.


Acara mereka yang akan mengusir Raka dan Intan malah berakhir dengan acara perkenalan. Raka bergaul dengan mereka tanpa jarak dan tanpa terlihat sungkan dan sombong. Dia terlihat sangat merakyat seperti ayahnya.


"Berarti Pak Ardianto akan datang ke desa ini jika ketika acara resepsi itu diadakan?" kata seorang tetua desa ini.


"Insyaallah, Pak rencananya begitu. Besok setelah adik saya melangsungkan pernikahannya saya akan melamar Intan secara resmi lalu dilanjutkan dengan resepsi pernikahan satu bulan kemudian di sini. Saya juga tidak tahu jadwal pastinya karena hal ini bertabrakan dengan pernikahan Faira yang juga akan di rayakan di negara ini rencananya."


"Memang adik Mas Raka ada di mana?"


"Adik saya ada di Amerika besok saya sekeluarga akan pergi ke sana untuk menghadiri upacara pernikahan mereka."


"Oh, kami tidak tahu jika Pak Ardianto punya seorang putri karena yang sering terlihat dan wara Wiri keluar di televisi serta berita ya Mas Raka ini," celetuk yang lain.


Raka tersenyum mendapat sambutan hangat dari para warga. Setidaknya masalah Intan dengan keluarga serta masyarakat sekitarnya selesai. Ini sedikit banyak mengurangi beban pikirannya.


Sedangkan Pak Noto terlihat tertawa menimpali pertanyaan dan perkataan dari warganya. Hatinya merasa sedikit lega walau rasa kecewa masih menggelayut dalam hatinya.


Ajang ini malah menjadi curhat para warga tentang masalah mereka dan masalah perkembangan desa ini. Raka menanggapinya dengan baik dan akan membicarakan hal ini dengan petinggi partai lainnya agar desa ini mendapat dana segar untuk pembangunan desa.


Intan yang berdiri di kejauhan melihat Raka dan Raka balas melihatnya dan tersenyum namun wanita itu malah membuang muka ke arah lain seolah tidak melihatnya sama sekali.


Ya Tuhan dia menikahi wanita apa, yang tidak bisa menerima sikap manisnya sama sekali. Intan terkesan dingin dan anti pati padanya. Rutuk Raka dalam hatinya.


***


Udah baca tiga bab hari ini mari bantu vote, like dan komennya ya biar author semangat nulis.


Mampir ke Gadis Untuk Presiden ya, dan favoritkan.