Affair (Faira)

Affair (Faira)
Dua Malaikat Kecil.



Akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan itu. Dia mulai membuka masker dan berdiri di depan Ditya.


"Apakah Anda suaminya?" tanya Dokter itu.


"Iya saya suaminya Dokter," ucap Ditya.


"Saya heran, kenapa istri Anda bisa meminum obat penggugur kandungan?''


"Apa Dokter? Obat penggugur kandungan?" tanya Ditya.


Dokter itu menganggukkan kepalanya. Tubuh Ditya limbung ke belakang. Dia menarik rambutnya ke belakang.


"Sebenarnya apa masalah yang kalian hadapi hingga dia bisa sefrustasi itu dan ingin mengakhiri kandungannya sendiri. Untung saja anda cepat membawanya kemari dan kami bisa mengeluarkan sebagian obat dalam perutnya."


"Lalu bagaimana keadaan mereka Dokter?" tanya Ditya.


"Kondisi janin dan ibunya baik-baik saja. Kami memberikan obat bius jadi kemungkinan besar dia akan terbangun esok hari," terang dokter itu.


"Dokter berapa usia kehamilannya?" tanya Ditya membuat air muka dokter itu terlihat berubah.


"Jadi Anda belum tahu jika istri Anda sedang hamil?" tanya dokter itu lagi terkejut.


Ditya menganggukkan kepalanya dengan lemas.


"Bagaimana sih Anda sebagai seorang suami Anda benar-benar tidak memperhatikan kondisi istrinya sampai istri hamil dan mau menggugurkan kandungannya saja tidak tahu. Sungguh ceroboh!" omel dokter itu.


"Maaf Dokter!" kata Ditya menunduk. Dia mengakui ketidak becusannya dalam menjaga Faira. Mungkin ini semua juga terjadi karena dirinya.


"Usia kandungannya sudah memasuki Minggu kelima. Usia kandungan yang sangat muda dan masih butuh perhatian lebih."


"Baik Dokter mulai saat ini saya akan menjaganya dengan baik."


Dokter itu lalu menerangkan pada Ditya apa yang harus dikerjakannya untuk merawat Faira. Ditya mendengarkan semuanya dengan baik.


Sesekali dia menghela nafas dan tersenyum canggung. Akalnya hilang untuk sejenak tidak bisa berpikir lagi.


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan Faira? Mengapa kau sampai mau bertindak nekat? Kita bisa membicarakan hal ini dengan baik."


"Faira, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku kembali. Aku cukup sadar dengan perbuatan burukku selama ini yang selalu menyakitimu tidak bisa dimaafkan." Ditya menundukkan wajahnya dan menyeka air mata yang sempat keluar.


"Kau selalu sabar dalam merawat serta membantuku walau kata-kata tajam yang menyakitkan selalu aku lontarkan tetapi tidak membuatmu gentar, kau tetap berbuat baik padaku," kata Ditya.


"Aku akan merawatmu sebagai bentuk rasa terimakasih entah kau akan menerimaku kembali atau tidak tetapi selama anak itu masih ada dalam kandunganmu aku akan ikut menjaganya." Ditya menghela nafasnya berat.


Dering bunyi telepon kembali terdengar. Ditya lalu mengambil handphone yang ada di saku bajunya. Membuka siapa nama pemanggil.


"Hallo, Ya?"


"Ditya bagaimana keadaan Faira mengapa dia harus di bawa pergi seperti itu? Sebenarnya dia sedang sakit apa?" tanya Cintya panik.


"Faira mengalami gejala kehamilan hanya saja kondisi tubuhnya yang lemah membuat dia pingsan tidak sepertimu yang tetap kuat dalam masa kehamilanmu?"


"Faira hamil?" tanya Cintya dengan suara yang terdengar bergetar.


"Iya, aku juga baru tahu." Ditya mengatakannya dengan lemas tidak terdengar antusias.


"Kalau begitu selamat Mas."


"Terima kasih Cintya di rumah kita nanti akan hadir dua malaikat kecil, anakmu dan anak Faira. Aku harap kau mau bersikap baik pada Faira dan bayinya," ujar Ditya.


"Tentu saja aku akan menganggap Faira sebagi kakakku dan anak Faira juga anakku," ucap Cintya.


"Aku berterima kasih atas pengertiannya Cintya," ucap Ditya tanpa mau mengatakan jika ini bukan anaknya.


"Iya Mas, kita adalah satu keluarga seharusnya kita saling bahu membahu dan tolong menolong serta berbagi dalam suka dan duka."


"Aku bangga mempunyai kalian dalam hidupku," kata Ditya.