Affair (Faira)

Affair (Faira)
Meminta lebih



Setengah jam kemudian Intan menyelesaikan ritual mandi dan berendamnya. Dia masuk keluar dari kamar mandi dan menemukan Raka dalam kamarnya.


"Akh!" teriak Intan.


"Sudah kukatakan agar pergi dari rumah ini kenapa malah masuk ke kamarku," teriak Intan kesal setengah mati. Sedangkan Raka terperangah melihat Intan yang baru saja mandi. Tubuh gadis itu terlihat segar dengan air yang menetes dari rambutnya, kulitnya bersinar terang. Wajahnya terlihat berkali lipat cantiknya.


"Kelu... ," usir Intan tetapi kembali lagi mulutnya dibekap oleh Raka.


"Jangan berteriak, ada banyak wartawan di luar, aku tidak bisa keluar dari rumah ini."


"Awww," teriak Raka ketika tangannya digigit wanita itu.


"Kau itu sudah masuk rumah tanpa ijin, mencuri rotiku kini membuka semua barang milikku," murka Intan dengan suara tertahan. Matanya melebar dengan tatapan yang sangat tajam. Namun, bukannya takut Raka malah merasa geli dan senang ketika melihat wanita itu marah.


"Aku belum membuka handukmu," ujar Raka tanpa sadar. Lalu menutup mulutnya sendiri. Wajah Intan memerah seketika. Intan memukul lengan pria itu dan mendorongnya keluar.


"Pria me-sum, kurang ajar, playboy kelas teri, tidak punya adap, bppph...," suara Intan habis ketika mulutnya dicium oleh Raka. Intan membelalakkan matanya mendapat serangan tidak terduga. Dia mendorong tubuh pria itu tetapi pelukan Raka malah semakin dalam.


Niat hati Raka untuk membuat wanita itu terdiam malah membuat dia terlena sendiri. Dia menggoda bibir yang masih terasa mint itu, menggigit pelan sehingga Intan terkejut dan membuka mulutnya lalu masuk dan menelusuri ke dalam, lidahnya menggelitik, menarik dan bermain di dalamnya. Setelah puas, Raka melepaskan tautan bibir itu.


Plak!


Pipi Raka memerah terkena tamparan keras dari Intan. Buliran kristal meleleh dari sudut matanya.


"Keluar!" ucap Intan lemas menunjuk ke arah pintu. Raka terdiam sejenak. Pikirannya menjadi kosong melihat Intan menangis.


"Maaf," ucapnya.


"Keluar sekarang!" isak Intan. Dengan langkah berat Raka meninggalkan kamar itu. Di luar dia mendapat pesan jika orangnya telah menyiapkan mobil di depan rumah Intan dan mereka sedang menunggu di depan pintu.


Raka melihat ke arah pintu kamar Intan. Lalu dia berjalan ke bawah mencari ruang tamu dan berjalan ke arah pintu. Dia bisa melihat melalui kaca rumah banyaknya wartawan yang duduk di depan rumahnya bahkan di halaman rumah Intan yang tidak berpagar.


Raka lalu membuka pintu itu. Pengawalnya membawakan dia sebuah paper bag. Raka memeriksanya. Di dalam tas itu, ada jaket Hoodie dan topi, dia lalu memakainya.


Raka kembali lagi mengintip keluar. Melewati halaman rumah sepanjang lima meter tanpa menimbulkan kecurigaan akan sangat sulit.


Raka melihat sebuah motor Scoopy berwarna cokelat yang terparkir di garasi sebelah kanan samping rumah. Sebuah ide terbesit dalam hatinya. Akan lebih aman keluar dari rumah ini memakai helm dan motor, tidak terlihat mencolok.


Raka lalu kembali ke kamar Intan. Mengetuk pintu. Intan lalu membuka pintu sedikit.


"Apalagi?" tanyanya dengan suara masih serak dan wajah yang sembab.


Raka merasa tidak enak mengatakannya. "Aku ingin meminjam motormu?''


"Ya Tuhan, apakah kau tidak bisa membuatku tidak emosi. Setelah apa yang kau lakukan kau masih tidak punya malu meminjam motor yang kupunya?" geram Intan membuka pintu lebar.


"Kumohon," kata Raka memelas. Apakah kau tidak melihat banyaknya wartawan di depan rumah kita jika aku melewati halaman rumahmu untuk sampai ke mobil pasti akan tetap terlihat mencolok juga."


"Kau yang bermasalah kenapa harus menarik diriku ke dalam masalahmu, kau itu ikh... menyebalkan," ungkap Intan hendak membanting pintu lagi tetapi ditahan Raka.


"Demi bayi di dalam perutmu tolonglah aku," kata Raka membuat Intan menghentikan gerakannya. Terlihat bingung. Sedangkan Raka menahan tawanya dan bersikap datar seperti biasa.


"Ya, kita tidak tahu apa kau hamil atau tidak setelah apa yang kita lakukan bersama waktu itu," imbuh Raka mengamati ekspresi Intan. "Apa kau tega melihat ayah dari calon anakmu terkena masalah pelik?"


Intan memegangi dahinya. "Kau tidak sedang berbohong kan?"


Raka terdiam hanya menatap Intan.


"Pernikahanku akan dibatalkan dan aku hamil anak pria tidak jelas sepertimu, ini musibah dan kutukan kejam," ucap Intan.


"Musibah, kutukan," ulang Raka lirih. "Hei hamil anakku itu sebuah anugerah yang luar biasa. Kau bilang suatu musibah dan kutukan? Kau kira aku itu makhluk jadi-jadian!"


"Aku adalah Raka Permana, The Chairman Permana grup, semua wanita akan bangga bila mendapatkan diriku," kata Raka terhenti ketika Intan memukul kepalanya.


"Kenapa kau memukulku?"


"Biar kau sadar. Tidak semua wanita akan senang menikah denganmu, aku yakin wanita yang menikah denganmu akan merasa tertekan hati dan jiwanya, menderita dan akhirnya gila. Dan jika memang aku hamil anakmu maka aku akan menganggap hal itu sebagai musibah karena harus berhubungan denganmu!" ucap Intan.


Raka tersenyum baru ada wanita yang tidak ingin menikah dengannya. Dia wanita yang unik.


Intan lalu pergi ke meja rias miliknya dan merogoh tas yang berada diatasnya. Dia mengambil sebuah kunci dan memberikannya pada Raka.


"Satu jam lagi kembalikan padaku, karena aku harus pergi mencari lowongan pekerjaan," kata Intan. Raka baru ingat jika wanita itu keluar dari tempat kerjanya kemarin.


"Kau kembali lagi saja ke perusahaan milikku, tidak perlu mencari pekerjaan lain," kata Raka.


"Lalu bertemu denganmu lagi, oh tidak!" jawab Intan bergidik ngeri membayangkan bagaimana pria itu memaksa menciumnya tadi.


"Tidak harus jadi sekretarisku," tawar Raka.


"Lalu, menjadi direktur keuangan?"


"Menjadi asisten pribadiku," ledek Raka lagi. Intan hendak memukul lengan Raka lagi tetapi dicegah dengan memegang tangan wanita itu.


"Tangan wanita itu untuk mengusap dan menyentuh dengan kelembutan bukannya memukul," kata Raka. Intan lalu menarik tangannya dengan kasar.


"Kau terlalu banyak disentuh wanita sehingga layak mendapat pukulan dari wanita lain karena selalu bersikap kurang ajar," seru Intan.


"Keras kepala," kata Raka.


"Kau yang arrogant dan selalu ingin menang sendiri."


"Sudah kuberikan kunci motornya kenapa kau tidak segera pergi dari sini, aku pusing melihatmu terus menerus," ujar Intan mengusir Raka. Bukannya pergi Raka malah masih berdiri di tempat itu.


"Kita pergi bersama saja agar aku tidak perlu mengembalikan motormu." Raka mengatakannya tanpa rasa bersalah.


"Ya, Tuhan kau meminta hal lain lagi dariku?" decak Intan kesal. Dia harus menghela nafas panjang sembari mengurut dada jika berhubungan dengan pria ini.


"Kumohon," ucap Raka. "Jika kita mengendari kendaraan bersama-sama orang tidak akan curiga.


"Setelah ini apa yang akan kau minta? Aku malah khawatir kau juga akan meminta diriku nantinya."