Affair (Faira)

Affair (Faira)
Menemui Mertua



Intan dan Raka akhirnya tiba di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Mereka melakukan perjalanan dari bandara Halim Perdanakusuma hingga ke Bandara Tunggul Wulung yang ada di kota Cilacap. Dari sana mereka masih menempuh perjalanan selama satu jam lebih untuk sampai di rumah Intan.


Mobil memasuki jalan pedesaan yang sepi. Beberapa penduduk yang sedang berada di sekitaran desa itu memerhatikan dua mobil mewah yang masuk ke jalanan sempit itu.


Intan sendiri terlihat cemas dengan meremas bajunya ujung sendiri. Raka yang melihat memegang tangan Intan. Sebenarnya Raka adalah tipe pria yang dingin terhadap wanita walau dia membutuhkan mereka untuk menyalurkan hasrat prianya. Tetapi, rasa bersalah yang mengusik sanubarinya membuat dia melakukan perhatian lebih untuk wanita itu. Dia tidak ingin menambah masalah Intan lebih banyak lagi yang di sebabkan olehnya.


''Bagaimana jika Ayah dan Ibu mengusirku," kata Intan menatap Raka


"Mereka tidak akan melakukannya. Percaya padaku!"


Intan menganggukkan kepalanya dan menghela nafas.


"Rumahnya di sebelah mana, Tuan?" tanya sopir Raka.


Intan lalu memajukan tubuhnya dan melihat ke arah depan.


"Gang itu belok kanan, lalu ada rumah dengan halaman yang luas dengan pohon rambutan di depannya."


Intan lalu duduk kembali dengan perasaan yang cemas sembari melihat keluar jendela. Mobil berhenti tepat di depan rumah Intan. Beberapa tetangga mulai keluar dari rumah dan sebagian melongok melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah tetangga mereka yang sedang bermasalah. Ibu Intan yang sedang menyapu depan rumah lalu menghentikan kegiatannya. Beberapa orang dari mobil satunya mulai keluar mereka berjaga di sekitar tempat itu.


Sedangkan sopir membuka pintu mobil bagian penumpang dan Raka keluar lalu diikuti oleh Intan.


Ibu Intan yang melihat tidak mengatakan apa-apa dia hanya membalikkan tubuh dan masuk ke dalam rumah lalu menutupnya.


Intan menatap ke arah Raka, matanya sudah berkaca-kaca. Raka memeluknya. "Kau lihat, Mak bahkan tidak mau menemuiku."


"Aku janji semua akan baik-baik saja setelah ini, cukup minta maaf dan dengarkan apa yang mereka katakan. Mereka pasti tidak akan tega melihat anaknya menderita."


Raka lalu membawa Intan ke depan pintu rumah. Mereka mulai mengetuk pintu.


"Assalamualaikum."


Satu kali ketukan tidak dibukakan pintunya. Mereka mengulangi hingga yang ketiga kali lalu muncullah pria paruh baya bertubuh kurus dan tinggi. Tetapi tidak lebih tinggi dari Raka.


Pria itu menatap Raka dari ujung bawah hingga pucuk rambutnya dengan tatapan tajam lalu melihat ke arah Intan.


"Kau untuk apa kau kemari setelah mempermalukan kami?" ucap Ayah Intan.


"Bapak!" panggil Intan lirih.


"Biar saya jelaskan dulu Pak semuanya. Saya mohon," pinta Raka.


Pak Noto melihat beberapa tetangga mulai berdatangan dan berdiri di pinggiran halaman rumahnya. Dia menghela nafasnya. Berpikir tidak baik membuat keributan malah akan membuat masalah semakin bertambah runyam. Tetangga pun akan bergosip lebih gila lagi.


"Mak buatkan minum untuk semuanya," teriak Pak Noto lagi.


Raka melihat keadaan rumah Intan yang cukup luas walau jauh dari kata luas jika dibandingkan rumahnya. Ruang tamu yang lumayan besar untuk kalangan orang biasa, kursi sofa dan beberapa kursi lainnya di susun melingkar dalam ruangan itu. Sedangkan di ujungnya ada kursi kayu untuk dua orang. Ditengah kursi itu berderet tiga meja dengan camilan beberapa kue kering di dalam toples.


Dari informasi yang dia dapatkan ayah Intan adalah mantan lurah di desanya jadi mungkin posisi ini memudahkan dia untuk bertemu tamu yang banyak atau mengadakan pertemuan dengan para warganya.


Ibu Intan lalu datang dengan membawakan baki besar berisi cangkir untuk semua tamu. Dia meletakkan empat cangkir di meja itu. Selebihnya dia bawa keluar untuk para pengawal yang Raka bawa.


Dia sudah tahu siapa yang datang ke dalam rumahnya. Anak pembesar negeri ini. Tidak pernah terbesit atau terbayangkan sebelumnya jika Intan akan mempunyai hubungan lebih dengan orang seperti Raka.


Ibu Intan lalu masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sebelah suaminya tanpa mau melihat ke arah anaknya.


Raka menghela nafas, melihat Intan yang masih menunduk dan menangis. Dia kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah kedua orang tua Intan.


"Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Raka Eka Permana, anak sulung dari Ardianto Permana. Mungkin Bapak dan Ibu sudah tahu jika kami akan datang ke rumah ini sekarang."


"Ya, utusan Ayahmu telah datang dan Ayahmu juga telah berbicara denganku melalui sambungan video," ujar Pak Noto tenang. Walau dalam hatinya timbul kemarahan yang amat sangat dan kekecewaan yang besar.


"Sebelumnya kami meminta maaf yang teramat sangat karena telah mengecewakan Bapak dan Ibu." Raka terdiam sejenak memikirkan kata-kata tepat untuk menyampaikan semua yang telah terjadi tanpa menimbulkan masalah lagi.


"Aku tahu semua berita ini pasti mengejutkan kalian semua. Terus terang kami berdua pun shock tetapi semua telah terjadi dan kami tidak bisa memutar waktu untuk memperbaikinya."


Pak Noto menatap Raka dengan raut wajah yang mengeras dan kulit wajahnya yang semu kecoklatan karena terkena sinar paparan matahari semakin memerah dan menggelap. Membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.


"Video mesum kalian sudah tersebar di dunia ini dan itu membuat saya hancur!" geram Noto tertahan. Tangis Intan semakin mengeras, Raka meraih tubuhnya dan memasukkannya dalam pelukan.


"Saya tahu dan saya meminta maaf sekali lagi. Tetapi itu kami lakukan sewaktu kami sudah menikah," kata Raka pelan diakhir kalimatnya. Sudah menikah ini pasti akan menjadi masalah panjang lagi.


"Jika kalian sudah menikah itu artinya Intan sudah tidak menganggap kami masih ada dan hidup! Lalu untuk apa kalian datang kemari!" seru Noto. Ibu Intan masih terdiam sembari menyeka cairan dari hidungnya. Hatinya pun merasa perih mendengar berita ini.


"Kami tahu kami salah melakukan itu tanpa memberitahu kalian. Saat itu yang ada dalam benakku adalah bagaimana caranya mengikat Intan terlebih dahulu, jadi saya yang memaksanya menikah siri setelah itu kami berencana untuk melanjutkan hubungan ini ke hubungan yang lebih serius."


Pak Noto terdiam. Ayah Ardianto memang sudah mengatakan hal itu semalam tetapi dia merasa sangat sakit hati atas tingkah keduanya.


"Kenapa kau mau melakukan pernikahan itu tanpa wali dan tanpa memberi tahu kami, Intan, sedangkan kau masih mempunyai kami," tanya Noto menyiratkan rasa sakit hati yang dalam sebagai orang tua.


Intan lalu duduk kembali ke posisi semula dan menatap suaminya. Raka menganggukkan kepalanya memberi dukungan pada wanita yang telah menjadi istrinya.


Intan melihat kepada ibunya yang masih menangis lalu beralih kepada ayahnya yang sedang marah. "Aku... aku ... ."