
Intan terbangun ketika sesuatu yang basah dan hangat menempel di bahunya. Tubuhnya bagian belakang terasa panas karena bersentuhan langsung dengan kulit Raka. Tangan pria itu melingkar di perutnya erat.
"Raka," kata Intan dengan suara yang terdengar aneh bagi dirinya saat kulitnya terasa di sesap.
Bibir itu bergerak lembut menelusuri kulitnya yang halus hingga sampai ditengkuknya. Tubuh Intan tiba-tiba menegang, sel tubuhnya bereaksi keras dan nafasnya terhenti.
Tangan Raka mulai bergerak mengusap perutnya yang datar menimbulkan gelenyar-gelenyar yang baru pernah dirasakannya untuk pertama kali.
"Raka jangan," kata Intan memohon.
"Aku membutuhkanmu saat ini Intan," pinta Raka. Kakinya mulai mengapit tubuhnya bagian bawah membuat gesekan antar kulit dan kulit.
Nafas Intan sudah tidak beraturan ketika mendapat serangan dari tiga arah. Raka lalu membalikkan tubuh Intan dan mengungkungnya. Dia menatap mata Intan yang telah sama-sama naik libidonya.
"Pelan dan gunakan pengaman," kata Intan jelas.
"Aku tidak punya saat ini," kata Raka.
"Kalau begitu aku tidak mau," teriak Intan masih sadar dan illfeel dengan Raka.
"Kenapa?"
"Aku takut kau punya penyakit itu," seru Intan. Perkataan Intan membuat darah Raka yang tadinya mulai panas kembali dingin.
"Aku tidak punya penyakit itu, aku sehat luar dan dalam."
"Cek dulu baru aku percaya dan jika kau pernah tidur bersama seorang wanita lain ketika bersamaku dan aku mengetahui maka hubungan kita akan putus. Kau tidak boleh menyentuhku lagi!" jelas Intan menyingkirkan Raka.
"Apa setelah ini kita memulai awal yang baru?"
"Tidak! Sebelum aku yakin jika kita saling mencintai."
"Apa kau belum jatuh cinta padaku?"
"Aku rasa belum. Dan soal hubungan ini hanya sebatas mungkin kebutuhan saja, kau membutuhkannya dan aku tergoda. Only that tidak lebih," ujar Intan lalu menyingkir dari dekat Raka dan bangkit mengambil bajunya yang ada di pinggir tempat tidur. Dia memakainya di depan Raka membuat pria itu menelan ludah melihat bentuk body Intan yang aduhai.
"Jika pun suatu hari kita melakukannya aku tidak mau hamil sebelum aku yakin dengan hatiku dan hatimu."
Salah satu alasan Bram meninggalkannya adalah dia tidak pernah mau melakukan hubungan dengan pria itu. Lalu, pria itu mencari wanita lain dan jatuh cinta padanya.
"Intan kau membuat hasratku turun," ujar Raka.
Intan tertawa.
"Aku tidak akan menolakmu jika kau pakai pengaman atau menunjukkan surat bahwa kau sehat," janji Intan. "Tapi itu hanya sekedar memenuhi kewajibanku saja untuk urusan hati aku belum yakin padamu, selama itu pula aku akan menutup hati padamu," terang Intan lalu masuk ke kamar mandi.
Raka menahan senyumnya. Itulah lebihnya Intan punya pendirian yang kuat dan tidak terbantahkan. Dia benar-benar menjaga prinsip hidupnya. Dia beruntung memiliki wanita yang masih terjaga dengan rapi.
Dia memang berbeda dari banyak wanita dan itu membuatnya makin penasaran. Merasa seperti tertantang untuk bisa menaklukkan hatinya.
Beberapa saat kemudian Intan keluar kamar mandi dengan memakai bathrobe. Dia lupa membawa pakaian dari kamarnya. Raka terus memandanginya sembari duduk bersandar di tempat tidur.
"Kau tidak usah ke kantor," ujar Intan mengambil pakaian di dalam lemari. Intan sangat terkejut ketika Raka memeluknya dari belakang dan memperlihatkan sebuah kertas di depannya.
"Aku sudah mengecek kesehatanku ketika dulu kau mempertanyakan tentang diriku," kata Raka mencium rambut Intan dalam.
Tangan Raka mulai melepas kaitan di bathrobe tubuh wanita itu lalu membalikkannya. Intan masih memegang bathrobe itu dengan kedua tangannya.
"Jangan rusak hari indah ini dengan penolakanmu," kata Raka.
"Kau hanya begitu karena menginginkan hal itu. Berikan itu pada laki-laki maka hari mereka akan menjadi hari paling indah," sarkas Intan.
"Ya itu benar, tetapi bukan itu yang kuinginkan, aku ingin lebih dari itu."
Wajah Intan merona bahagia mendengar ketulusan dari nada bicara Raka. Pria itu membantunya meyakini hal-hal yang sepertinya membuat dia gila, misalnya mereka bisa menyelesaikan masalah yang menghadang nanti.