
"Hai, Dude!" ucap Raka menyambut temannya. "Wah acaranya sangat meriah," puji Raka membuat Faira menyatukan dua alisnya.
"Semoga kalian bisa menikmatinya. Jika ada yang kurang kalian bisa bicara dengan pelayan yang ada," ujar Evan. Dia lalu melirik ke arah Faira. Raka yang melihat itu langsung mengenalkannya pada Faira.
"Kenalkan ini adikku, Faira."
"Cantik," ucap Evan melihat ke arah bola mata kelam Faira dihiasi dengan bulu mata yang panjang dan lebat. Faira menatap tajam pada Evan.
"Dia sudah menikah dan mempunyai anak, Dude. Jangan mengganggunya," kata Raka sembari menyesap kembali minumannya.
"Tidak aku hanya mengagumi keindahan yang ada di depan mataku," kata Evan membuat perut Faira mulas.
Evan hendak mengulurkan tangannya namun Faira segera berbalik.
"Kak, aku mau ke tempat Mas Ditya saja mungkin dia sedang mencariku," pamit Faira pada kakaknya.
"Oh, kau selalu saja menempel pada pria itu seperti perangko, kemana-mana selalu bersama."
"Karena dia suamiku, Kak," ucap Faira lalu pergi meninggalkan Evan sendiri tanpa menatap ke arahnya.
Evan meremas tangannya sendiri dengan kesal. Dia menghela nafas panjang.
Evan lalu duduk di dekat Raka dan melihat Faira yang sedang berjalan mendekati suaminya. Dari gestur tubuhnya Faira sedang memperlihatkan kemesraannya dengan Ditya.
"Kau tidak pernah bercerita jika mempunyai seorang adik yang cantik," kata Evan yang berteman dekat dengan Raka semenjak mereka kuliah di Harvard university.
"Faira? Kami memang merahasiakannya selama ini. Kami menjaga privasinya dengan baik. Faira baru membuka dirinya setelah menikah dengan suaminya tetapi tidak mengatakan jika dia anak dari Ardianto, seorang ketua DPR negeri ini," jelas Raka.
"Mengapa?" tanya Evan heran. Biasanya orang akan suka jika membuka identitas pribadinya.
"Dia tidak ingin pergerakannya dibatasi karena berurusan dengan wartawan yang akan selalu mencari berita tentang Ayah.''
Tepat seperti dugaan Evan. Pria itu lalu menghela nafas panjang.
"Kau sendiri mengapa mengadakan pesta ini di sini kau biasanya mengadakan pesta ini di negaramu!"
''Jangan bilang jika ini karena seorang wanita, tetapi memang wanita dari negeri kami itu cantik-cantik, pantas jika kau mulai tergoda dan jatuh cinta pada mereka," ujar Raka.
Evan tersenyum kecut. Bagaimana jika Raka tahu jika dirinya mencintai adiknya yang telah menikah. Pasti akan habis.
Wajah Evan mulai memanas ketika melihat Faira pergi ke lantai dansa dan berdansa bersama Ditya. Hatinya mulai meradang. Dia tahu jika Faira sudah bersuami namun dia bertekad jika wanita itu harus jadi miliknya entah apapun caranya.
Dia tidak bahagia karena merindukan wanita itu dan wanita itu malah hidup bahagia dengan pria lain. Ini terasa tidak adil untuknya.
Evan lalu meneguk minumannya dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik di tenggorokannya. Acara terus berlangsung dengan meriah, berbagai sambutan dari pembesar negeri ini di dapatkan oleh Evan. Dia juga memberi sambutan dan di sambut dengan tepuk tangan yang meriah dari semua orang yang hadir.
"Aku mau ke toilet dulu," pamit Faira pada Ditya. Pria itu lalu menganggukkan kepalanya.
Faira lalu berjalan menuju ke arah toilet, dia masih bisa merasakan tatapan Evan sedari tadi di atas panggung yang membuatnya tidak nyaman jadi dia memutuskan untuk menghindarinya. Evan hanya masa lalunya yang buruk yang harus dia singkirkan. Batin Faira sakit.
Di dalam toilet wanita Faira membasuh wajahnya dengan air dingin dari keran. Dua wanita di sebelahnya sedang merapikan dandanannya.
"Aku harap pria itu akan takluk padaku malam ini," ujar sang wanita.
"Kau terlalu berharap Evan bukanlah pria yang mau didekati oleh semua wanita. Aku tidak pernah melihat dia mendekati seorang wanita pun," ucap wanita berbaju biru.
"Atau dia gay!" seru seorang dari mereka. "Kau tahu banyak pria yang lebih memilih bersama pria lain karena mereka bosan didekati wanita cantik."
"Sayang sekali jika rumor itu benar, padahal dia tampan dan sangat mapan bahkan jauh di atas mapan," balas wanita berbaju biru itu.
"Aku lebih suka mendekati Raka, aku tadi sempat membuat janji dengan pria itu nanti," kata wanita tadi sembari pergi meninggalkan toilet bersama wanita berbaju biru.
"Gay?" Faira tersenyum sinis. Pria itu lebih berbahaya dari Raka. Dia sungguh tidak punya hati meninggalkan seorang wanita sendirian setelah merengut hal berharga. Membuat Faira seolah merasa menjadi wanita tidak berharga setelahnya.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet Faira lalu berjalan keluar dari sana. Namun seseorang membekapnya dari belakang dengan obat bius membuat dia tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan setelah memberontak. Wanita itu lantas di bawa pergi dari tempat itu.