Affair (Faira)

Affair (Faira)
Barang Berharga



Sesuatu bau yang menyengat menusuk ke hidung Intan membuat kesadarannya kembali pulih. Kelopak matanya mulai bergerak dan dengan pelan mulai membuka mata. Di depannya sudah ada wajah Raka yang berjarak sangat dekat. Membuat Intan terkejut. Dia lalu bergerak ke belakang namun sudah tersudut.


"Dia melihatmu seperti melihat hantu saja," kata Ardianto membuat semua orang tertawa.


Wajah Raka tampak masam sejenak. "Kau baik-baik saja?" tanya Raka.


"Dimana aku?'' tanya Intan lalu mulai berpikir. Dia ingat tadi dia kemari bersama Raka.


Intan menarik rambutnya ke belakang. "Aku ingin pulang," katanya bingung.


"Bukan waktu yang baik untuk kembali saat ini, Nak?"


Raka mengambil segelas air putih di berikan pada Intan. "Minum dulu."


"Aku tidak mau!'' tolaknya. Matanya sudah mulai memerah, ingatannya kembali lagi.


Ardianto memerintahkan semua orang yang ada di sini untuk pergi dengan pandangan matanya.


Dia juga menyentuh tangan Raka untuk meninggalkan mereka berdua. Dengan hati yang berat Raka meninggalkan Intan. Dia tidak tahu harus melakukan apa jika wanita itu menolak menikah dengannya.


Sepeninggal semua orang Ardianto lalu duduk di depan Intan menggantikan posisi Raka tadi. Intan lalu sedikit menegakkan punggungnya, duduk dengan bersandar pada lengan sofa. Di depannya duduk Ardianto di pinggiran sofa.


''Namamu Intan Lavanya?" Intan menganggukkan kepalanya.


"Nama yang bagus, gadis cantik yang berkilau laksana intan permata, begitu kan artinya?


Intan menganggukkan kepalanya lagi. Ardianto terlihat menghela nafas panjang.


"Raka sudah menceritakan semuanya, jika kau dan pernah berhubungan jauh. Dia memang pria brengsek. Namun, dia punya niat bagus ingin memperbaiki diri dengan menikahimu. Alangkah baiknya kau menerima ajakannya untuk menikah."


Intan menundukkan wajahnya, hatinya berseru tidak ingin melakukannya.


"Raka khawatir jika kau mengandung anaknya," imbuh Ardianto. Intan lalu menegakkan kepalanya melihat ke arah Ardianto sembari meremas ujung bajunya. Menahan tangis yang hendak keluar.


"Belum lagi namamu ikut tercoreng karena masalah Raka karena itu ada baiknya kalian membuatnya baik kembali dengan mengadakan pernikahan secepatnya. Kita bisa mengatakan jika itu dilakukan saat kalian sudah menikah secara siri. Namamu akan membaik dan nama Raka juga akan kembali pulih."


Dada Intan sudah naik turun dengan cepat. Nafasnya pun sudah mulai tersengal. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan di tenggorokan.


Akhirnya Intan menunduk dan menangis. "Kenapa semuanya bisa sampai seperti ini?" batinnya.


"Masalah orang tuamu biar aku yang urus, aku yang akan meminta ijin padanya. Tetapi kau harus melakukan nikah siri dulu dengan Raka setelah itu kita ke rumah orang tuamu untuk melamar," terang Ardianto mengutarakan rencananya.


"Apakah kau setuju?"


"Tidak ada pilihan lain lagi, mau tidak mau aku harus setuju. Toh, namaku juga sudah hancur untuk perbuatan yang tidak kulakukan. Tetapi bisakah aku meminta satu hal?" tanya Intan.


"Apa pun yang kau inginkan akan kuberi," kata Ardianto.


"Aku tidak ingin Raka mendekatiku setelah kami menikah, aku juga tidak ingin tinggal satu atap dengannya."


"Namun, kalian sudah menikah alangkah baiknya jika tinggal satu atap, apa kata orang?"


"Kalian belum menikah tetapi kau sudah membicarakan tentang perceraian," ujar Ardianto. Wanita ini memang terlihat berbeda. Dia terang-terangan mengatakan tidak suka pada Raka dan tidak ingin dekat dengannya. Apakah anaknya kurang tampan atau kurang rupawan sehingga anak ini tidak tertarik pada putranya? PR besar bagi Raka untuk membuat wanita itu luluh tetapi Ardianto yakin Raka bisa meluluhkannya. Namun, apakah wanita ini bisa mencuri hati Raka, membuatnya berubah menjadi pria yang lebih baik, dan menghentikan kebiasaannya bermain wanita.


"Sebaiknya kita bicarakan ini dengan Raka," kata Ardianto. Pria itu lantas memanggil putra sulungnya dan menerangkan keinginan Intan. Raka menatap tidak percaya pada permintaan Intan yang terdengar konyol untuknya.


"Lalu apa artinya jika kita menikah tetapi tinggal berbeda atap?" kata Raka tersinggung.


"Jika kau menolaknya juga tidak masalah bagiku. Kau bisa pulang saat ini juga dan terima hujatan dari semua orang. Sedangkan bagiku berita itu hanya akan mengganggu satu atau dua bulan saja. Bukankah hal biasa jika seorang pria sepertiku berhubungan dengan wanita, tetapi hal lain akan kau peroleh karena kau seorang wanita."


Mendengar hal itu membuat mata Intan membelalak lebar. Intimidasi itu sepertinya bisa membuat Intan berpikir realistis.


"Semua orang tua tidak akan mengijinkan putranya menikahi wanita yang sudah tercoreng walau sebenarnya berita itu tidak benar tetapi hanya kau yang tahu dan kau tidak bisa membuktikan pada semua orang tentang kebenarannya. Selamanya hingga akhir hayat, hal itu tetap akan melekat di dirimu!"


"Sekarang aku terserah denganmu, jika kita menikah maka ikuti aturanku!" nada diktator dan arrogan dari Raka mulai terlihat.


Intan yang tidak suka diperintah dan ditekan berdiri.


"Aku lebih baik tercemar nama baiknya dari pada harus hidup menderita denganmu. Belum apa-apa kau sudah mulai mengatur, pernikahan itu menyatukan dua hati dan dua kepala menjadi satu agar bisa berjalan beriringan. Jika kau ingin selalu mengatur dan menjadi penguasanya, aku mundur saja. Soal kehamilanku, aku yakin bisa membesarkannya sendiri tanpa dirimu! Kau cari wanita lain saja yang setara dan sepadan denganmu, yang mau menunduk pada perintahmu, dan diam ketika kau bermain wanita lain di depannya!" Kata Intan maju menunjuk ke dada Raka.


Raka mundur ketika ditunjuk oleh Intan. Ardianto melipat tangannya di dada. Baru kali ini dia melihat Raka skakmat di depan seseorang selama ini dia selalu mendominasi semua orang entah itu tua atau muda.


Lalu berjalan keluar dari ruangan itu tetapi kerah lehernya ditarik oleh Raka sehingga dia mundur kembali.


Ardianto menahan tawa melihat interaksi dua orang ini.


"Kita belum selesai berunding dan kau sudah mau pergi!"


"Apa lagi yang harus dirundingkan?"


"Aku hanya ingin mengatakan jika kau berubah pikiran datang dan temui aku di rumah dan kau harus ikut aturan mainku," ucap Raka percaya diri jika Intan pasti akan datang padanya.


"Tidak akan kulakukan!" ucap Intan percaya diri.


"Jangan mengatakan tidak jika kau tidak tahu apa yang menunggumu di balik pintu gerbang keluar, dirimu dulu bukan dirimu sekarang. Percaya padaku!"


Intan lalu mendorong tubuh Raka dan pergi dari ruangan itu tetapi sebelum itu dia berpamitan dengan Ardianto dengan sopan.


"Kau apakan dia sampai bisa membencimu seperti itu?"


"Tidak ada Yah, dia memang berbeda dengan yang lainnya dari awal kita bertemu."


"Tetapi kalian pernah bersamakan?"


"Tetapi tidak melakukan hal itu, dia masih seputih kain. Aku hanya mempermainkan kepolosannya saja," kata Raka.


"Jadi semua tentang kehamilan itu?"


"Itu hanya sandiwara saja untuk menjeratnya."


Ardianto menganggukkan kepalanya. "Barang yang sulit didapatkan akan terasa berharga," ujar Ardianto menepuk bahu Raka dan pergi meninggalkannya.