Affair (Faira)

Affair (Faira)
Perpisahan



"Hem, kata ibu aku akan kesana kalau sudah besar," cerita Laura.


"Lalu kapan kau besar?"


"Aku tidak tahu, mungkin jika aku sudah sekolah," jawabnya berpikir. Dia lalu mengoyak isi plastik Snack kentang dan melihat ke dalam isinya. Sudah habis. Setelah itu dia menjilati tangannya sendiri sama seperti Intan. Pikir Raka.


Mengapa dia tiba-tiba berpikir tentang Intan. Jika anaknya perempuan pasti sebesar anak ini. Pikir Raka menatap Laura.


"Kau tidak cuci tangan?" tanya Raka.


"Sudah bersih," jawabnya memperlihatkan lima jarinya yang padat dan berisi seperti tubuhnya.


Raka meraih tissue di sebelahnya lalu mengelap seluruh tangan anak itu.


"Kau tidak boleh melakukannya, itu sangat tidak sopan dan jorok," kata Raka.


"Ayah juga mengatakannya tetapi Ibu melakukan apa yang kulakukan." Pipi Laura mengembung besar karena menahan tawa.


"Ibumu itu mengajarkan yang tidak baik."


"Hmmm, Om jangan menjelekkan ibuku. Dia itu Ibu paling baik di dunia ini. Ibuku juga cantik pokoknya paling cantik."


"Lebih cantik mana denganmu?"


"Cantik Ibu, imut aku." Anak itu meletakkan dua jari telunjuknya di pipi seraya berkedip-kedip.


Pintu kamar dibuka Kenan masuk dengan seorang perawat.


"Kau di sini anak cantik, Ibumu mencarimu hingga menangis," kata perawat.


"Ish Ibu memang menangis sedari tadi. Setiap malam juga menangis," gerutu Laura membuat Raka mengerutkan kening. Semua tingkah ini mirip dengan siapa Raka belum mengingatnya.


"Kau tidak boleh seperti itu pada ibumu Sayang. Jika dia menangis kau harusnya menemani."


"Dari tadi siang Ibu menangis terus sampai Ayah bingung," cerita Laura.


"Dan kau meninggalkannya sendiri?" tanya Raka menggelengkan kepalanya.


"Ayo, Sayang. Aku anatarkan kau pulang pada ibumu," kata Perawat itu lagi tidak sabar menggendong Laura.


"Maaf Tuan dia anaknya memang ramah dan suka bercerita maaf bila mengganggu Tuan," pinta perawat itu.


"Tidak apa-apa aku suka. Besok kau main ke sini lagi agar om tidak bosan sendirian di kamar." Raka lalu melihat Kenan dengan bungkusan plastik berisi aneka makanan. "Kenan serahkan jajan Laura padanya," kata Raka.


"Nanti Ibu marah kalau aku bawa ini ke rumah. Om simpan dulu saja, besok biar aku kemari untuk memakannya."


"Oh, begitu baiklah kalau begitu."


Laura lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Raka melihatnya hingga hilang dibalik tembok.


"Anak yang manis," kata Kenan.


"Ya dan lucu," ujar Raka. Dia lalu duduk mengambil ponsel lalu melihat foto-foto milik Intan yang dia simpan rapi di galerinya.


Efek obat yang dia konsumsi membuat dia tidur dengan mudah.


Pagi harinya dia terganggu dengan suara orang yang sedang makan. Raka membuka mata rupanya malaikat kecil sudah duduk di sampingnya sembari memakan jajan yang dia simpan di atas nakas. Padahal langit masih belum terang. Kenan pun masih tertidur lelap di kursi sofa.


"Om, sudah bangun? Aku kemari untuk mengambil jajanku."


"Kau sudah memakannya," kata Raka mengusap wajah dan duduk dengan bersandar di tembok.


"Apa kau menyelinap pergi lagi kemari tanpa berpamitan pada ibumu?"


"Om, jangan keras-keras nanti ada perawat yang datang dan mendengar." Raka menganggukkan kepalanya.


"Apakah ibu dan ayah tidak akan mencarimu?"


"Ibu sedang di dapur dan ayah sedang berolahraga di depan rumah."


"Kau itu harusnya minum susu dan sarapan pagi sebelum memakan jajan itu," kata Raka. Namun, dia juga teringat kelakukannya di waktu kecil yang akan mencuri Snack dalam lemari pendingin malam hari.


"Kau akan sakit perut nantinya percaya pada Om. Kau jangan makan makanan itu sekarang nanti saja setelah kau makan siang. Om juga pernah melakukan seperti yang kau lakukan dulu maka itu tahu benar akibatnya."


"Ibu dan ayah tidak pernah mengijinkan ku makan makanan ini jadi aku ingin mencobanya."


"Ya, sudahlah aku akan kembali lagi nanti. Ehm apakah Om akan pergi dari sini hari ini?" tanya Laura.


"Tidak tahu nanti ayahmu yang akan memberitahuku kapan aku boleh keluar dari sini. Om juga ingin jalan-jalan lagi keliling Indonesia."


"Apa Om punya anak?" tanya Laura tiba-tiba.


"Punya," jawab Raka.


"Dia sama sepertiku atau anak laki-laki?" Raka terdiam. Dia juga tidak tahu jenis kelamin anaknya hingga sekarang.


"Mungkin dia sudah besar dan sama sepertimu," kata Raka.


"Lho... memang Om belum melihatnya?"


"Dia ikut ibunya karena Om selalu pergi terus," kata Raka.


"Kenapa Om tidak melihatnya. Dia pasti rindu pada Om," ujar Laura.


"Om, juga rindu padanya dan ingin memeluknya hanya saja dia ada ditempat yang jauh yang tidak bisa Om jangkau," ucap Raka getir. Laura menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu peluk aku saja, Om," ucap Laura. Raka menatapnya sendu lalu menariknya ke tempat tidur dan memeluk anak itu. Ada perasaan tenang dan damai ketika memeluk Laura.


"Andai anakku perempuan pasti akan cerewet seperti anak ini," batin Raka. Matanya tiba-tiba merebak dan menetes tanpa dia sadari.


Laura melepaskan pelukannya. Di saat yang sama Dokter Atalarik masuk ke dalam kamar itu.


"Anak nakal, Ibumu mencari sedari tadi dan kau malah bersembunyi di sini. Ayo kita pulang? Kau harus pergi ke rumah nenek hari ini."


"Bukankah kita baru saja mengunjungi nenek kemarin?" tanya Laura. Dokter itu terlihat bingung untuk menjawab.


"Nenek katanya merindukanmu," ujar Dokter Atalarik.


"Oh, biasanya saja tidak."


"Maaf Tuan Raka saya harus membawanya kembali pada ibunya," kata Dokter Atalarik.


Raka menganggukkan kepalanya.


"Oh, ya sepertinya kondisimu telah membaik kau boleh pulang kembali hari ini," kata Dokter Atalarik tiba-tiba.


"Oh, begitu ya Dok. Nanti kami akan bersiap. Terimakasih atas bantuannya."


"Sama-sama, Tuan Raka," ujar Dokter itu.."Nanti akan saya konfirmasikan pada dokter yang bertugas.


"Kenapa rasanya Dokter itu ingin kita pergi dari sini secepatnya?" tanya Raka pada Kenan yang telah terbangun.


"Entahlah dia seperti menghindar dari kita."


"Mungkin dia tidak suka sepak terjang Anda di dunia politik, Tuan, atau juga kehadiran Anda membuat rumah sakit Anda gaduh karena banyaknya orang yang ingin datang berkunjung," lanjut Kenan.


"Ya, banyak yang tidak suka tetapi lebih banyak yang cinta."


"Terutama emak-emak, Tuan."


Mereka lalu bersiap untuk keluar dari rumah sakit ini. Sebelum keluar dia menunggu Kenan yang membereskan administrasi rumah sakit.


"Sudah?" tanya Raka ketika Kenan mendekat. Mereka lalu berjalan tetapi Raka sempat mendengar pembicaraan dua perawat di ruang informasi.


"Pak Dokter ikut ke Bangka?" salah satu perawat.


"Tidak hanya Ibu Intan saja dan putrinya Laura yang kesana," jawab temannya sembari berlalu pergi.


Raka berpikir mungkin banyak nama Intan di negara Ini. Istri Dokter pasti bukan Intan miliknya. Mengapa dia harus peduli.


Sesampainya di mobil dia masih terganggu dengan ucapan perawat itu. Hingga mobil berjalan menjauh pun kenangannya bersama Laura berputar dalam otaknya.


"Ada yang salah tapi apa itu?"