Affair (Faira)

Affair (Faira)
Virus Berbahaya



Raka benar-benar memperlihatkan keperkasaannya lagi pada Intan. Bukan hanya di kamar mandi mereka melakukannya tetapi dikamar pun Raka masih saja membuat wanita itu mengerang. Hingga lemas dan tidak bertenaga. Menunggu ******* pria itu namun belum sampai juga. Padahal kakinya sudah gemetar tidak bisa menopang lagi berat tubuhnya.


"Raka, aku lelah," ungkap Intan menyerah. Dalam hatinya percuma saja mereka mandi karena mereka belum menyelesaikan pertempuran panas ini. Dia nantinya juga harus mandi lagi.


Raka menyeringai senang melihat pasangannya telah jatuh dalam dirinya. Dia mulai fokus dan mempercepat irama dari gerakan panggulnya.


Intan meremas kuat seprai sembari melenguh keras berbarengan dengan erangan puas yang keluar dari tenggorokan Raka ketika mereka merasakan puncak kenikmatan bersama-sama.


Seketika tubuh Raka jatuh diatas tubuh Intan. Sedangkan Intan langsung menatap Raka dan menutup matanya karena lelah.


Raka yang gemas mencium pipi Intan dengan keras.


"Raka biarkan aku tidur. Aku tidak kuat lagi untuk membuka mata," ucapnya lirih.


Raka lalu bangun dan membiarkan istrinya itu terlelap. Dia memang selalu lepas kendali bisa bersama Intan. Seperti seorang macan yang kelaparan tidak puas walau mereka telah melakukannya lama dan dalam berbagai cara.


Dia suka melihat Intan yang jatuh lemas dan kelelahan itu membuatnya merasa menjadi pria sejati karena bisa membuktikan bahwa dia adalah pria tangguh yang tidak terkalahkan.


Raka lalu kembali pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian dia telah rapi dengan stelan kemeja hitam kesukaannya dan celana kulit. Raka membetulkan selimut yang tersingkap memperlihatkan sebagian tubuh istrinya. Dia mengecup bibir wanita dan melangkah keluar kamar.


Raka lalu pergi ke kamar Laura dan mendapati anak itu pun sedang tidur setelah mandi. Mungkin dia lelah setelah melalui hari yang berat tadi. Raka mencium anaknya lalu membetulkan selimut Laura. Setelah itu, dia keluar dari kamar Laura dan turun ke bawah.


Di sana ada Faira dan Enya yang sedang makan eskrim. Ello sendiri sedang memegang handphone kesayangannya. Sedangkan Evan sedang berbicara dengan ayahnya.


"Dimana istri dan anakmu, Ka?" tanya Ardianto.


"Mereka sedang tidur karena lelah," ujar Raka duduk di dekat Ello. Dia mengambil handphone anak itu membuat Ello kesal.


"Akh, Om ini aku hampir saja menang," gerutunya mengambil kembali handphone dari tangan pamannya yang selalu jahil jika mereka bertemu.


"Kau itu selalu main handphone jika di rumah," ucap Raka mengusap kasar kepala Ello satu hal yang paling tidak dia sukai.


"Kau tadi berkata jika Intan sedang tidur karena lelah? Aku curiga kau yang telah membuatnya lelah. Tadi aku melihatnya baik-baik saja tidak terlihat lelah," goda Faira.


"Ayah kau tidak harus menyudutkan anakmu yang paling cantik ini," ujar Faira. "Ayah sam saja menjatuhkan namaku di depan kedua anakku ini."


"Itu kenyataan yang bagus bukan. Mungkin besok akan hadir Ello atau Enya lainnya Yanga akan membuat rumah ramai."


"Kita sedang membicarakan tentang Kak Raka bukan aku, Ayah," rajuk Faira manja.


"Iya aku tahu, tetapi aku juga ingin mengingatkanmu jika harus ingat anak kalau sedang bersama Evan di dalam kamar. Kau sampai tidak mendengar suara tangis Enya."


Evan hanya diam mengambil segelas air dan melihat perdebatan ayah dan anak itu seperti biasanya.


"Aku dengar Lusi hampir membunuhmu tadi," kata Evan. Raka mengambil keripik dan menganggukkan kepala.


"Bukan hanya aku tetapi istri dan anakku," ungkap Raka. Evan terlihat geram.


"Sebenarnya apa mau mereka. Aku pikir latihan Ayah dan Robin akan membuat damai nyatanya itu malah membuatmu hidup sengsara selama empat tahun ini. Maaf Raka," ucap Evan.


"Bukan kau yang salah di sini hanya takdir saja yang sedang mempermainkan kita. Bahagia dan sedih akan silih datang berganti."


"Kau benar," ucap Evan.


"Ayah apakah kau punya kenalan Dokter hebat tentang penyakit dalam?" tanya Raka tiba-tiba.


Semua mata menatap curiga pada Raka. Anak itu tidak biasanya bertanya soal Dokter. Apa ini berkaitan dengan penyakit perutnya yang sering kambuh?"


"Memangnya ada apa sampai kau mencari Dokter?"


"Lusi mengatakan jika seorang dokter telah memasukkan sebuah virus mematikan dalam tubuhku. Aku ingin cek medis lengkap," ucap Raka santai namun semua orang dalam ruangan itu yang berubah menegang.


"Virus mematikan?!" ucap tiga orang dewasa di depan Raka bersamaan dengan ekspresi terkejut.