
Perjalanan ini terasa sangat lama untuk Faira, dia kesal setiap kali dia tidak sengaja melihat spion di saat itu pula dia melihat Ditya sedang bercanda dengan Cintya dengan bahasa tubuh mereka. Saling sentuh atau saling tersenyum dan tertawa. Mereka seperti hanya menganggapnya seorang sopir saja. Dia menyesali tindakannya yang ingin mengantarkan pulang Ditya bersama Cintya. Bodohnya kenapa dia tidak pulang sendiri saja dan menyuruh sopir untuk menjemput mereka.
"Apakah di mobil tadi tidak cukup" gumam Faira
meninggalkan mobil ketika mobil telah di parkir di halaman rumah.
"Nyonya... " sapa Mbok Nah ketika dia berjalan melewatinya.
"Huft! Bukan aku bermaksud tidak sopan tapi aku muak dengan tingkah Ditya. Suamiku itu seperti kucing yang tak pernah diberi ikan jadi ketika melihat ikan disampingnya langsung mengeong- ngeong tangannya selalu bergerak aktif menjangkau keberadaan ikan," gerutu lirih Faira sepanjang jalan masuk ke kamarnya.
Faira menutup kasar pintu kamarnya dan pergi ke ranjang dan melemparkan diri ke sana. Dia mengacak rambut kasar. Dia kesal, marah, cemburu dan sakit hati.
Faira lalu duduk di tempat tidur, dia berpikir mungkin berendam di bathtub kesayangannya akan merilekskan tubuhnya yang tegang dan mendinginkan perasaannya yang panas.
Ciuman yang dilakukan Ditya pada Cintya terus saja mengganggu pikiran Faira. Begitu lama dan dalam seolah dia hanya sopir saja bagi kedua insan itu. Terluka ? istri mana yang tidak terluka, bahkan sampai sekarang semua yang ada dalam tubuhnya, ini masih tersegel belum terjamah sama sekali. Perlakuan Ditya tadi seolah menggambarkan jika Faira itu bukan wanita yang menarik.
Mentalnya jatuh dan harga dirinya tercabik-cabik. Dia akan menikahkan mereka bukan berarti mereka bisa berbuat seenaknya di depannya. Setidaknya mereka bisa menjaga perasaan Faira.
"Suatu hari aku akan membalas perlakuanmu Ditya, aku bersumpah, hingga kau akan menyesali semua perbuatanmu padaku."
Dia tidak mengerti bagaimana caranya untuk membalas perbuatan Ditya. Ada saatnya nanti, sekarang yang harus dipikirkannya adalah bagaimana caranya untuk menata hati.
Faira mulai menyetel sebuah lagu dalam handphonenya sesuai perasaan hatinya saat ini.
Biarlah aku menyimpan bayangmu...
dan biarlah semua menjadi kenangan..
yang terlukis dalam hatiku
meskipun perih tapi tetap selalu ada di hati...
Lagu ini terasa pas dengan keadaannya saat ini. Dia tidak tahu mengapa masih bersama Ditya walau pria itu telah menyakitinya. Lelaki yang tidak pernah memberi sedikit rasa bahkan sebuah rasa persahabatan pun tidak dia berikan.
Kemarin dia masih menangis, menyesali nasibnya dan menghujat Tuhan karena bersikap tidak adil padanya. Ingin dia mati tetapi apakah akan menyelesaikan masalahnya yang ada hanya akan membuat orang-orang yang menyayanginya akan bersedih. Masih ada Kak Raka dan Ayahnya yang sangat menyayangi Faira.
"Tuhan ... berikanlah padaku orang yang benar benar mencintaiku dan berikanlah padaku kebahagiaan walau sekejap saja, aku ingin rasanya dicintai ... ," doa Faira.
Dia lalu masuk ke kamar mandi, membuka keran dan mulai membasahi tubuhnya masih dengan pakaian lengkap.
"Kenapa Ditya? Kenapa kau tidak menyentuhku apakah aku begitu buruk di depanmu? Apakah tubuhku tidak menarik bagimu hingga kau seperti merasa jijik jika berada di dekatku," ujar Faira sembari memukul tembok.
Perasaannya hancur. Setelah mandi dia lalu memakai baju dan bersiap turun ke bawah untuk makan siang. Dia ingat dia belum mengisi perutnya dengan apapun sedari tadi. Susu yang hendak dia minum juga dia semburkan lagi keluar. Ditya benar-benar membuat nafsu makannya hilang.
Baru beberapa langkah Faira mendengar suara aneh dari dalam kamar Ditya. Aku bukan tidak tahu suara apa itu tetapi aku mendekat untuk meyakinkan diri. Jantungnya berdegub kencang dan langkahnya semakin terasa berat, suara itu semakin terdengar jelas membuat bulu kuduknya geli dan perutnya terasa mual. Dia jijik namun rasa penasaran menjalar ke tubuh Faira membuatnya tetap berjalan ke arah pintu kamar Ditya.
Dia bagai seorang pencuri di rumahnya sendiri. Pintu kamar Ditya terbuka sedikit dan dia mendorong sedikit lagi agar lebih bisa melihat apa yang terjadi disana. Nafasku sesak padahal aku belum melihat apapun.
Wajahnya terlihat merah padam karena marah.
"Ada apa nyonya kenapa muka anda merah sekali apakah anda demam?" tanya mbok Na.
Faira menggelengkan kepala, "Rumahku seperti nerakaku, Mbok" ujar Faira lalu duduk dengan kasar di kursi makan. Wajahnya yang memerah di tekuk. Dia menarik nafas keras lalu menghembuskan dengan kasar.
Mbok Nah lalu melihat ke atas tangga mengerti apa yang baru saja terjadi. Mungkin majikannya melihat suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain.
"Yang sabar ya Nyonya..." kata mbok Nah sambil mengelus kepala Faira. Dia lalu duduk di sebelah Faira.
"Tak apa aku bisa melaluinya kalau aku sudah tidak tahan aku akan keluar dari rumah ini sendiri." Namun Mbok Nah bisa melihat kepedihan di mata gadis itu.
"Jika nyonya pindah bolehkah saya ikut menemani nyonya," pinta Mbok Nah.
"Dengan senang hati Mbok. Namun, jika aku pergi keluar negeri apakah mbok juga ikut," tanya Faira kepada orang yang telah menemaninya selama setahun ini.
"Mbok akan ikut jika nyonya tidak berkeberatan.''
Mereka lalu terdiam.
"Nyonya tidak sakit hati melihat kemesraan tuan muda," tanya Mbok Nah tiba-tiba. Membuat Faira terkejut.
"Tentu saja Mbok tapi aku ingin Tuanmu juga bahagia dalam hidupnya."
"Suami mbok juga dulu selingkuh tapi mbok tidak sesabar nyonya, Mbok langsung pergi dan menggugat cerai dirinya," cerita Mbok Nah berapi-api.
"Setiap orang itu berbeda beda Mbok."
"Tapi jika kita mencintai seseorang kita ingin memiliki sepenuhnya. Jika milik kita disentuh saja maka rasa cemburu akan datang secara berlebihan. Dari yang Mbok lihat nyonya ini yang ada hanya rasa sakit hati tapi tidak cemburu,coba tanyakan pada hati nyonya apakah nyonya mencintai tuan atau hanya karena dia sebagai obsesi nyonya saja."
"Aku tidak tahu karena selama ini hanya Mas Ditya lelaki yang dekat denganku. Aku tidak bisa membedakan apakah itu obsesi atau cinta mungkin aku butuh pria lain untuk tahu perasaan hatiku," jawab Faira asal
"Nyonya bisa saja," tanggap Mbok Nah.
"Semoga yang kurasakan pada Mas Ditya bukan perasaan cinta karena jika itu cinta maka akan melukaiku lebih lama lagi dan aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
"Akhirnya kalian datang juga...?" kata Faira sinis ketika melihat dua orang itu turun dari lantai atas. Mbok Nah langsung berdiri dari kursinya memberi hormat pada tuannya.
Faira menganggap Mbok Nah sebagai orang tuanya sendiri. Nyonya mudanya akan marah jika dia memperlakukan Faira sebagai seorang majikan. Ditya pun faham dengan keinginan Faira dan mengijinkan wanita itu berbuat sesuka hatinya.
"Faira apakah kau sudah lama menunggu kami ?" tanya Cintya.
''Sangat lama sehingga membuatku panas dan gerah," jawab Faira ketus.