Affair (Faira)

Affair (Faira)
Satu Bulan Saja



Evan melihat Faira dari bawah hingga ke atas. Sangat segar dan seksi. Pikirnya.


Faira mengabaikan Evan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai bajunya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan melihat Evan yang tertidur sembari memeluk Ello. Pemandangan yang sangat menyesakkan hati.


Faira lantas berjalan keluar kamar tanpa alas kaki. Dia mulai mencari telepon untuk menghubungi keluarganya meminta bantuan.


Dia lalu masuk ke ruang kerja Evan. Dia pikir di sana pasti ada telepon atau laptop yang bisa digunakan untuk mengirim pesan.


Faira lantas segera masuk ke ruangan itu dan menemukan laptop Evan. Dia mulai membukanya. Faira terkejut melihat layar pada laptop yang memperlihatkan foto dirinya dengan Evan saat mereka ada di Bedugul beberapa tahun yang silam. Foto ketika Evan memeluknya erat dari belakang. Di sana mereka terlihat bahagia.


Faira mendesah lalu menutupnya kembali setelah tahu jika laptop itu mempunyai kata sandi yang dia tidak tahu apa jawabannya.


Netra Faira beralih pada telephon di atas meja. Dia mulai mengangkatnya dan menekan tombol sambungan internasional. Mencoba menghubungi ayahnya. Seseorang mengangkatnya namun hanya seorang pelayan saja yang mengatakan bahwa ayahnya sedang berada di luar kota.


Faira lalu mencoba untuk menghubungi Raka kakaknya. Tidak lama kemudian sambungan itu sampai pada kakaknya.


"Hallo, Kak!" kata Faira penuh harap.


"Ya, Fay, ada apa?"


"Kak tolong aku," kata Faira.


"Memang kau dimana?"


"Aku ada di Amerika. Seorang pria menculik aku dan Ello lalu membawa ke rumahnya."


Terdengar ******* dari Raka. "Evan."


"Kak kau sudah tahu," tanya Faira terkejut.


"Pria itu menghubungiku kemarin mengatakan jika akan membawamu pergi."


"Dan kau hanya diam saja tidak mencoba menolongku?" tanya Faira.


"Di negara itu bukan ranahku Faira," jawab Raka.


"Kak! Aku ingin pulang," ungkap Faira dengan nada sedih.


"Apa dia memperlakukanmu buruk?" tanya evan.


Faira terdiam.


"Tidakkan! Dia berjanji akan mengembalikan mu setelah satu bulan dan berjanji tidak akan melukaimu."


"Kak, aku tidak mengira jika kau bersekongkol dengannya," ungkap Faira kecewa, dia sangat sedih mendengar penuturan kakaknya.


"Hidup dengannya lebih baik dari pada kau hidup dengan Ditya yang telah beristri lagi," kata Raka.


"Kak, dia bukan pria yang baik. Dia telah menelantarkan aku, kau tahu sendiri apa yang kualami," Isak Faira tidak tertahankan jika mengingat saat terburuk dalam hidupnya.


Evan yang mendengarkan kata-kata Faira Daru balik pintu yang sedikit terbuka hanya bisa menghela nafas. Dia faham bagaimana terlukanya Faira pada saat itu. Dia pun merasakan sakit yang sama berpisah dengan cintanya.


"Tanyakan padanya alasan mengapa dia meninggalkanmu. Jika kau tidak menerimanya, kau bisa meninggalkannya lagi. Dia hanya meminta waktu satu bulan untuk berbicara denganmu dan untuk mengenal Ello, anak kalian," ucap Raka.


"Kak," panggil Faira serak. Lalu terdengar Isak tangis dari bibirnya.


Tak ada jawaban yang terdengar dari Faira.


"Aku hanya ingin kau hidup bahagia. Tinggal bersama Ditya tidak menjamin kebahagiaanmu. Kau itu wanita pandai, berkelas dan dari keluarga kalangan atas, menerima saja ketika diduakan. Apakah kau tidak merasa jika itu menghancurkan kami keluargamu, harga diri kami seperti diinjak-injak oleh suamimu? Dia seperti tidak menghormati kau dan keluarga kita. Ayah dan aku tidak akan menerimanya sampai kapanpun!" ungkap Raka.


"Sudahlah, aku tidak tahu Evan itu baik untukmu atau tidak hanya kau sendiri yang tahu hatimu. Jika kau telah buta karena cintamu pada Ditya, aku bisa apa? Aku sudah lelah memberitahu semua ini padamu berkali-kali."


"Ingat Ello butuh ayahnya dan Ditya bukan ayah kandungnya walau dia telah merawat Ello dari dulu."


"Jaga diri baik-baik jangan ulangi kesalahan sama. Semoga ketika kau jauh dari Ditya, bisa berpikir dengan tenang dan bisa menentukan arah hidup mana yang akan kau lalui nanti dengan benar."


"Sudah, aku matikan sambungan telepon ini, aku baru saja pulang bekerja dan masih di jalan." Panggilan lalu di matikan oleh Raka. Faira meletakkan gagang telephon di tempatnya dan menelungkupkan wajah ke meja.


Suara tangisnya terdengar hingga keluar kamar. Evan yang mendengar hanya bisa menyandarkan diri ke tembok. Dia terlalu pengecut untuk mendekati Faira dan mencoba menenangkannya. Mengurus satu wanita itu semudah menjalankan perusahaan miliknya. Jika dia salah melangkah saja maka usahanya kali ini akan sia-sia belaka.


Setelah lelah menangis Faira berjalan keluar dari ruang kerja Evan. Dia hendak ke dapur untuk membuat sarapan bagi Ello namun dia malah menemukan Evan sudah di dapur dengan celemek yang sudah melekat di tubuh. Satu tangannya memegang spatula dan tangan lain memegang teflon.


Faira lantas duduk di meja bar melihat apa yang dilakukan oleh Evan. Nyatanya, pria itu malah menggosongkan roti yang dia masak, api menjilat hingga ke atas wajan membuat pria itu membuang teflon itu begitu saja lalu mematikannya.


Faira menahan tawanya.


"Ekhem!" dehem Faira membuat terkejut Evan.


"Aku ingin membuat sarapan untuk kalian namun gagal. Sebaiknya kita pesan saja di dapur umum," ujar Evan mau memencet interkom yang langsung ke dapur umum di restoran bawah apartemen.


"Di mana Nona Lin, aku tidak melihatnya lagi?" tanya Faira.


"Dia sudah pulang," ucap Evan cuek.


Pria itu lalu memesan tiga porsi sarapan pagi bagi mereka.


"Aku akan buatkan susu untuk Ello," kata Evan.


"Biar aku saja, kau akan mengacaukan semuanya."


Faira lalu bangkit dan mulai masuk ke dapur. Dia mencari susu di dalam lemari pendingin dan mulai menghangatkannya di atas kompor.


Evan melihat ke arah Faira, mengamatinya setiap gerakan yang dilakukan wanita itu. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan rapih. Wajahnya masih tampak natural tidak memakai make up sama sekali namun masih terlihat cantik.


Gerakan tubuhnya pelan dan teratur, memancarkan keanggunan yang natural tanpa dibuat-buat. Faira lalu meletakkan tiga gelas di atas baki dan mulai menuangkan susu itu.


"Kami terbiasa meminum ini sewaktu pagi," ucap Faira membawa baki itu ke depan Evan.


"Aku akan membangunkan Ello," kata Faira.


"Faira, aku tidak akan memaksamu tinggal di sini selamanya, aku hanya ingin kau ada di sini selama sebulan saja. Jika kau tidak suka lakukan ini demi Ello. Aku ingin mengenalnya. Satu bulan dari lima tahun bukan waktu yang lama bukan?" ucap Evan dengan dada yang mendesir sakit.


Apa yang diharapkannya tidak bisa serta merta dia miliki secara langsung , dia harus bisa mendapatkan semuanya dengan usaha keras dalam waktu satu bulan ini?


"Evan aku," Faira terlihat keberatan untuk menjawab 'ya'.


"Aku hanya meminta hakku bersama Ello selama satu bulan ini. Jika kau keberatan dia tahu siapa aku dan ingin merahasiakannya, itu tidak jadi masalah tetapi ku mohon beri aku sedikit waktu itu. Aku ingin membuat kenangan indah padanya tentang siapa ayahnya," pinta Evan memelas.