
"Kau benar, dia cerdas sepertu ayahnya," kata Dokter itu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.
"Kenalkan saya Atalarik pemilik dari klinik ini." Pria itu mengulurkan tangannya menyalami tangan Raka yang sedang diinfus.
"Saya ... ," belum juga Raka menyelesaikan ucapannya Dokter itu sudah menyela.
"Anda Raka Permana, siapa yang tidak kenal Anda, wajah Anda wara-wiri dilayar televisi dan masuk ke dalam pemberitaan."
Raka tersenyum.
"Aku tidak kenal," sela gadis kecil itu.
"Kalau begitu kita kenalan, siapa namamu gadis manis." Raka mengangkat tangannya ke arah gadis kecil itu.
Gadis itu lalu mencondongkan tubuhnya meraih tangan Raka. Tiba-tiba ada getaran hangat yang menjalar pada tubuh Raka.
"Namaku Laura saja," katanya. Sebuah senyum manis terukir dari bibirnya.
"Hanya Laura?"
"Ibu yang tahu nama panjangku, aku lupa," katanya lirih.
Raka dan Dokter itu tertawa.
"Namamu Mutiara Laura Kamila."
"Ya, itu Mutiara Laura Kamila," ulang anak itu. "Kenapa Ibu memberi nama yang susah untukku," sungut anak itu.
"Biar ayah berbicara dulu dengan Tuan Raka kau tunggu ayah saja di luar.
"Biar dia di sini saja kalau boleh Dokter, untuk menemaniku," celetuk Raka yang tertarik pada Laura.
"Nanti Ibu marah lho sama, Om, kalau Laura pulang terlambat," kata anak itu.
"Begini Tuan Raka,"
"Panggil saja Raka terdengar lebih bersahabat," potong pria itu.
"Begini Tuan Raka, Anda harus dibawa ke rumah sakit pusat untuk memperoleh penanganan yang lebih lanjut," terang Dokter itu.
"Kalau boleh saya mau disini saja sampai keadaan saya sedikit pulih untuk bisa kembali ke ibukota," pinta Raka.
"Ya, sudah jika itu keinginan Anda. Namun obat yang tersedia di sini tidak selengkap yang ada di kota," terang Dokter Atalarik.
"Tidak apa-apa, Anda bisa menulis resep apa yang dibutuhkan biar asisten saya membelinya," cetus Raka.
"Baiklah seperti itu juga baik." Entah mengapa nada bicara Dokter itu terdengar berat.
"Jadi Om, akan tidur di sini?" tanya Laura lagi.
"Ya," jawab Dokter itu.
"Aku bisa lihat Om ganteng lagi besok," ujar gadis itu.
"Kau harus sekolah, Sayang," kata dokter itu.
"Aku bisa kesini setelah pulang sekolah," kata Laura.
"Dia sangat keras kepala."
"Aku bisa melihatnya."
"Saya akan pergi ke ruangan lain Tuan Raka, Anda akan dipindah ke ruang perawatan kami yang sangat sederhana. Maklum ini daerah perbatasan jadi tidak seperti di kota besar keadaannya," kata Dokter itu.
"Saya tidak keberatan untuk dirawat di sini. Lagian di sini jauh dari kebisingan kota saya harap bisa istirahat dan menenangkan pikiran sejenak."
"Bagus kalau begitu."
Dokter itu lalu membawa putrinya pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara datang beberapa perawat dengan membawa kursi roda. Mereka akan memindahkan Raka ke ruangan lain.
Setelah ruangannya di pindahkan beberapa orang mulai menjenguknya. Bukannya beristirahat Raka malah harus berbasi-basi dan melayani pembicaraan mereka semua dengan baik. Raka adalah seorang tokoh penting baginya untuk menampilkan citra baik pada masyarakat luas.
Masalalunya yang sempat tercoreng kini telah tertutup oleh prestasi yang dia torehkan semasa hidupnya.
Raka lalu meminta pada Dokter yang berjaga untuk melarang tamu datang ke ruangannya karena dia ingin beristirahat ketika waktu sudah petang.
Raka terbangun ketika mendengar suara plastik dibuka. Dia mulai membuka mata dan melihat gadis kecil itu sedang kesulitan membuka sebuah Snack.
"Om sudah bangun?" tanya anak itu. Raka lalu bangkit dan mencoba duduk.
"Tuan sudah bangun?" tanya Kenan yang baru masuk ke dalam ruangan. Dia langsung dengan sigap membantu Raka duduk dan menata bantal di belakang tubuhnya untuk bersandar.
Kenan mengikuti arah mata Raka yang menatap gadis itu.
"Dia putri dari Dokter Arik, katanya dia ingin melihat Tuan, jadi saya memperbolehkan masuk," terang Kenan.
"Bukan itu maksudnya kenapa dia ada disini pada malam hari?"
"Oh, rumahnya ada di sebelah klinik ini. Tanpa ada pagar penghalang," tunjuk Kenan ke arah jendela kamar yang mengarah ke samping klinik ini yang dia buka sedikit.
"Begitu."
"Apakah ayah dan ibumu tahu kau ada di sini?" tanya Raka.
"Ayah sedang pergi menemui pasien lain sedangkan Ibu sedang ada di kamarnya tadi. Aku sendiri dan melihat klinik ramai jadi aku kemari ternyata kamar Om ditunggu banyak orang," kata Laura.
Raka tersenyum. Hanya itu jawaban yang bisa dia katakan pada anak itu. Tangannya lalu menepuk tempat tidur di sebelahnya agar Laura mendekat. Dia sangat gemas pada anak ini ingin mencubit pipinya yang chubby.
Anak itu menurut, hendak naik tapi kesulitan. Kenan membantunya untuk duduk di sisi ranjang.
"Kau tidak ijin pada ibumu?" tanya Raka.
"Tidak, Ibu tahunya aku sudah tidur," kata Laura memakan seraya memakan Snack ditangannya.
"Dasar anak nakal," ucap Raka mencubit hidungnya.
"Om, itu yang suka masuk di televisi?" tanya Laura.
"Oh iyakah?"
"Ish," ucap gadis itu kesal.
"Kalau iya kenapa anak cantik?" Raka memberitahu Kenan agar mengambil minum untuk mereka dengan bahasa isyarat.
"Kalau ada belikan susu di luar," perintah Raka.
Laura melihat ke arah Kenan."Cokelat, aku suka rasa itu." Kenan mengacungkan jempolnya. Lalu pergi. Setelah itu Laura kembali melihat ke arah Raka.
"Kalau suka masuk ke televisi, Om tahu kenal dong dengan Upin Ipin?"
"Upin Ipin," Raka mulai berpikir dan seperti akrab di telinganya.
"Masa Om tidak kenal Upin Ipin yang ada di televisi sih? Kan kalian sama-sama di sana?"
Oh, dia ingat dengan cerita Enya kalau Upin dan Ipin adalah tokoh kartun kesukaannya selain tokoh dalam film Frozen yang dia sering lihat ketika bersama putri Faira.
"Ya, Om tahu Upin dan Ipin."
"Aku ingin berkenalan dengan mereka?" kata Laura polos membuat Raka membuka mulutnya lebar. Okey, ini imajinasi anak menganggap bahwa tokoh kartun itu nyata.
"Sayangnya mereka tidak tinggal di negara ini mereka tinggal di negara sebelah, Malaysia," terang Raka.
"Oh, tapi Om juga pasti pernah bertemu mereka ketika masuk ke televisi kan?" cecar Laura.
Raka tertawa. Ya Tuhan, imajinasi mereka tinggi sekali. Dia harus sama-sama punya imajinasi konyol agar bisa menyamai pembicaraan anak ini.
"Ya."
"Aku juga ingin bertemu mereka," kata Laura antusias.
"Wah, kau harus ikut Om ke ibukota agar bisa bertemu dengan mereka."
"Ibukota? Itu jauhkah?"
"Sangat jauh kau harus naik mobil terlebih dahulu menempuh perjalanan beberapa jam lamanya. Lalu naik pesawat setelah itu kau tiba di ibukota Jakarta."
"Jakarta? Ayah juga suka ke sana tetapi tidak pernah mengajakku atau Ibu," kata Laura.
"Kata ibu kakek dan nenekku juga ada di pulau dekat Jakarta," imbuh Laura lagi.
"Oh, ya kalau begitu kau ikut Om saja untuk bisa ke Jakarta lalu bertemu kakek dan nenek," ajak Raka.