
Setelah membunuh Robin, dada Raka baru merasa lega. Walau itu terlihat sadis tetapi itu pantas didapat oleh pria yang telah menyakiti adiknya dan yang membawa pergi istrinya.
Tidak ada jejak yang menerangkan dia membunuh mereka. Semua saksi dia bungkam. Walau begitu istri dari Albert merasa tidak terima dengan apa yang terjadi. Dia berkata jika dia akan melakukan hal yang sama menyakitkan dengan yang Raka lakukan.
Raka tidak menanggapi perkataan wanita itu. Baginya hidup Faira yang aman itu lebih penting dari hidupnya sendiri.
Kini yang dia pikirkan adalah Intan, istri tidak resminya. Walau semua orang mengatakan agar dia mencari wanita lain rasanya dia masih enggan. Bayangan Intan selalu berada dalam benaknya. Menghantui bahkan membuatnya hampir gila. Hingga akhirnya dia sering menjadikan pekerjaannya sebagai pelarian dari masalahnya ini.
Mengapa bisa seperti itu? Itu yang selalu Raka tanyakan dalam hati. Mengapa tidak ada yang bisa menggantikannya di hati padahal tujuh bulan sudah berlalu?
Raka mendesah.
"Ya, Tuhan Ello. Mom sudah lelah. Kak, tolong aku mengurus Ello, aku sudah tidak kuat lagi untuk mengejarnya," pinta Faira duduk di sebelah Raka yang sedang merenung di pinggir kolam renang.
Raka melihat Ello yang sedang berlari mengejar kupu-kupu yang terbang.
"Biar saja dia sudah besar. Sudah waktunya dia sekolah Faira, di tempat sekolah dia akan memperoleh teman yang seusianya dan bermain dengan bebas."
Usia Ello sudah menginjak lima tahun sudah saatnya dia sekolah. Kemarin Faira belum memikirkannya karena mereka masih berpindah dari Indonesia ke Amerika. Kadang sebulan di sini sebulan kemudian di sana. Kini dia ingin melahirkan di negaranya sendiri dan memaksa Evan untuk pindah ke sini sementara waktu.
"Ya, rencananya aku juga akan memasukkan dia ke sekolah hanya saja aku tidak tahu sekolah mana yang bagus untuknya," kata Faira.
Faira duduk dengan menjadikan satu tangannya sebagai tumpuan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mengusap perutnya.
Raka melihat perut Faira dan teringat akan Intan. Jika mereka masih bersama mungkin dia juga sedang hamil seperti Faira. Rasa nyeri mampir di hati Raka.
"Kehamilanku kali ini membuatku mudah lelah. Mungkin karena ini kehamilan kedua ku," keluh Faira tiba-tiba. Dia merenggangkan tubuhnya ke belakang lalu menegakkan lagi punggungnya sembari mengusap punggung bagian bawah.
"Setiap malam aku meminta dipijat oleh Evan karena kakiku terasa sakit dan pegal," tunjuk Faira pada kedua kakinya yang bengkak.
"Apakah itu berbahaya Faira?" tanya Raka khawatir. Kaki Faira yang kecil sekarang menjadi besar.
"Tidak ini efek hamil besar, setiap wanita yang hamil mempunyai keluhan sendiri Kak. Kalau aku, ya kakiku ini yang bengkak, ada yang giginya sakit, ada yang menderita gatel di sekujur tubuhnya, ada yang sakit apa, ada pula yang tidak merasakan apapun," terang Faira.
"Oh, aku tidak tahu."
"Karena kau belum menikah dan punya istri yang sedang hamil." Faira menggigit bibirnya sendiri menyesali kalimat yang baru dia ucapkan.
"Kau sudah menikah hanya saja pernikahan itu hanya sebuah permainan untuk menutupi aib mu kan?" Raka terdiam hanya mengatupkan dua bibirnya rapat.
"Menikahlah dengan wanita yang tepat, cari istri yang baik yang bisa menjagamu di kala senang dan sulit. Apalagi jika kau sakit, kau pasti butuh seseorang untuk mengurusmu," ujar Faira.
Deg!
Mata Raka terasa panas teringat bagaimana Intan menjaganya ketika sakit. Hari-hari mereka bersama. Nafasnya mulai sesak.
"Aku mau pulang dulu, ada urusan yang harus aku lakukan," kata Raka bangkit berjalan meninggalkan Faira.
"Kak, kau kenapa pergi tiba-tiba, tunggulah dulu hingga Evan pulang," panggil Faira.
"Tidak apa-apa, aku hanya teringat ada pertemuan penting dengan seseorang. Aku bisa bertemu dengannya besok lagi," teriak Raka tanpa melihat ke belakang. Ujung jari telunjuknya dia gunakan untuk menyeka buliran bening yang keluar dari sudut matanya.
"Sayang, dimana kau berada?" panggil Raka pada Intan dalam hatinya. Sambil berusahan mengisi oksigen di dada. Handphone di tangannya tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk dari nomer tidak dikenali. Raka mengernyitkan dahi. Mungkinkah ini dari anak buah yang sedang mencari keberadaan Intan.
Dua foto terpampang jelas di layar handphonenya. Sebuah foto hasil USG dan foto Intan yang sedang menghadap samping dengan perut buncitnya memakai gaun putih.
Dia melihat lagi foto itu memperbesarnya. Apakah ini anaknya? Hatinya senang sekaligus sedih bercampur aduk menjadi satu. Senang karena tahu keadaan wanita itu baik-baik saja sedih karena dia tidak tahu dimana keberadaannya.
Dia mencoba menghubungi nomer itu lagi namun sayang langsung di matikan dan diblokir.
"Tidak... tidak... ," gumamnya seperti orang gila.
Kepalanya ditengadahkan ke atas, dengan lantang dia berteriak keras. "Intaaaaan..." terdengar hingga sampai ke semua sudut rumah Faira.
Tubuhnya luruh ke tanah jatuh. Dia menangis sembari memegang handphone yang dia letakkan di dada.
Faira yang mendengar teriakan Raka lalu berlari berjalan mendekat ke arahnya. Dia terkejut melihat Raka duduk di lantai ubin terisak.
Langkah kakinya terhenti. "Kak ... ," panggil Faira.
Raka melihat ke arah Faira, Faira bisa melihat mata pria itu yang memerah dan tatapan putus asa darinya.
"Dia .... dia ... ," Raka tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia hanya memperlihatkan handphone itu dengan gemetar.
Faira lalu mendekat dan mengambil handphone kakaknya. Faira menutup mulutnya melihat foto itu. Haruskah dia mengatakan selamat pada kakaknya?
Faira ikut menangis dan berjongkok memeluk Raka.
"Kau juga akan jadi seorang ayah?" kata Faira.
Raka hanya terisak. Faira menarik nafas.
"Kau itu pria kuat tidak pernah menangis mengapa kau menangis di saat yang bahagia ini?"
Raka mempererat pelukannya pada Faira.
"Dia begitu tega melakukan ini padaku menyiksa batinku," ungkap Raka.
"Kita akan memberi pelajaran padanya jika telah menemukannya," kata Faira.
"Ya, aku akan memberi pelajaran keras padanya karena telah mempermainkan aku," lanjut Raka.
"Kau harus bahagia karena menjadi ayah bukannya malah bersedih. Gunakan ini sebagai cambuk agar kau lebih semangat lagi mencarinya," kata Faira.
"Apa kau ingin dia kembali?" tanya Faira kemudian sembari tertawa.
"Dia harus kembali padaku," gumam Raka.
"Kalau begitu bangkit dan cari dia. Kau bisa mencari jejak nomer ini," kata Faira.
"Kau benar," ucap Raka.
"Apa kau merindukannya?" tanya Faira pada kakaknya. Raka memandangi Faira.
"Aku bisa melihatnya. Sepertinya kau jatuh cinta padanya. Padahal aku sudah mau mengenalkan dengan temanku yang tidak kalah cantiknya dengan Intan," goda Faira.
Raka menatap tajam Faira.
"Okey aku tidak akan melakukannya. Raka Permana jatuh cinta, itu hal baru dan patut untuk dirayakan." Faira menangis sembari memeluk kakaknya.