Affair (Faira)

Affair (Faira)
Obat Sakit



"Maafkan aku," kata Intan.


"Kebodohanmu membuat masalah bagi kita," ujar Raka.


Intan ingin ikut emosi tetapi dia teringat jika percuma saja dia membalas perkataan pria itu.


"Aku akan menjelaskan pada Laura pelan-pelan," ujar Intan.


"Harus!" ucap Raka lalu pergi masuk ke dalam kamarnya dia lalu duduk di atas tempat tidur sembari memijat kepalanya.


Intan yang mengikuti Raka terlihat terkejut menatap keadaan suaminya yang nampak kesakitan.


"Raka, apa kau baik-baik saja," kata Intan.


"Entahlah, kepalaku terasa sakit."


Intan lalu duduk di sebelah Raka dan mulai menarik tubuh Raka agar berbaring di pangkuannya. Raka menurut. Intan mulai memijat perlahan kepala Raka.


"Aku merindukan ini," kata Raka memeluk perut Intan dengan satu tangan. Wajahnya menghadap perut Intan.


"Berpisah denganmu adalah hal terberat bagiku," ujarnya.


"Jika sudah tidak ada, baru terasa begitu berharga," ucap Intan.


"Ya, aku pun baru sadar jika aku mencintaimu. Tanpamu separuh hidupku pergi."


"Baru separuh, separuhnya lagi bisa digunakan untuk mendapat cinta yang lain," ledek Intan. Namun, di tanggapi serius oleh Raka. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Intan.


"Jika aku sudah tiada, apa kau baru percaya jika aku mencintaimu?"


Intan mengecup bibir Raka. "Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak di saat kita baru saja bertemu." Intan lalu mengusap bekas lipstik di bibir Raka.


"Aku percaya dengan apa yang kau katakan," ucap Intan lalu membalikkan tubuh Raka agar dia bisa memijat lagi kepalanya.


"Apa kau mencintaiku, Intan?" tanya Raka.


"Apa mesti harus dikatakan sedangkan apa yang kulakukan itu semua hanya untuk kebaikanmu," kata Intan. "Walau itu masih saja terlihat bodoh di matamu."


"Maaf jika kata-kataku membuatmu terluka."


"Bukan saatnya membuat luka. Saatnya kita merangkai kembali puing-puing rumah tangga kita yang pernah pecah akibat kesalahpahaman."


"Kenapa aku merasa kamu semakin dewasa saja dalam bersikap."


"Orang harus belajar dari kesalahannya. Aku mencoba belajar untuk mengerti dirimu walau itu masih terasa sulit."


"Apa yang Dokter katakan tentang penyakitmu. Aku mendengar tadi Kak Faira dan Kak Evan membicarakan hal itu denganmu," kata Intan.


"Faira itu adikmu kau harus memanggil namanya saja!" ujar Raka.


"Aku lupa maaf," ucap Intan. "Mereka jauh lebih tua dan lebih dewasa dibanding denganku. Lagi pula aku sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan kakak."


"Mulai sekarang jangan!"


"Baiklah," ujar Intan berat. "Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir," jawab Raka berbohong. Virus itu memang tidak akan membuatnya mati tetapi tetap menyerang entah seperti apa keadaannya nanti, semoga tidak buruk.


"Jika baik-baik saja kenapa kau sakit kepala."


"Aku hanya rindu dengan pijatanmu apalagi jika kau memijat seluruh tubuhku hingga yang terdalam." Intan mencubit pinggang Raka dengan keras.


"Kau itu selalu berpikir tentang hal itu."


"Aku sudah menunggumu empat tahun lebih jadi kau harus paham jika aku tidak bisa menahan diri jika berada di dekatmu," kata Raka.


"Apakah suatu hari kau akan bosan padaku?"


"Seharusnya itu yang kutanyakan padamu, rentang usia kita sangat panjang lebih dari sepuluh tahun hampir empat belas tahun. Ketika aku sudah paruh baya kau sedang cantik-cantiknya, apa kau masih akan tertarik padaku? Aku yakin nanti akan banyak pria yang mendekatimu di belakangku," kata Raka.


"Mereka tidak akan berani karena kau akan langsung menodongkan pistol ke kepala mereka."


"Kau benar aku akan membunuh pria yang berani mendekatimu," ucap Raka. Intan sangat menyukai sikap posesif Raka yang menandakan pria itu sangat mencintainya.


"Kalau begitu kau kurung saja aku dalam rumah agar tidak terlihat siapapun dan jika keluar kau pakaikan jubah dan cadar agar kau tidak khawatir istrimu akan dilihat pria lain."


"Rencana yang bagus," kata Raka. "Tetapi sekarang aku ingin mengurungmu di kamar ini."


Raka lalu menjatuhkan Intan ke tempat tidurnya dan mulai mengungkung wanita itu.


"Ini siang Raka," pekik Intan tertahan.


"Aku tidak peduli, obatku hanya berolah raga bersamamu, berbagi peluh denganmu dan meraih puncak kenikmatan denganmu. Kali ini kau yang harus bekerja mewujudkannya."


"Aku tidak pandai," ucap Intan.


"Aku yang akan mengajarkannya padamu."