Affair (Faira)

Affair (Faira)
Ajakan Menikah



Intan duduk di sofa ruang tengah sembari meminum segelas jus jeruk yang dihidangkan oleh Tuan Rumah. Ardianto mengajak bicara Intan sebentar kemudian menyuruh Intan menunggu sebentar. Intan yang tidak enak diperlakukan dengan sopan lalu menuruti perkataan pria itu. Di depannya ada layar televisi yang menayangkan berita tentang video por-no Raka dengan Cindy.


Intan lalu menyenderkan tubuhnya pada sofa itu sembari menunggu ayah Raka keluar. Bertemu dengan pembesar negeri ini dan duduk di rumahnya seperti sebuah mimpi baginya. Dia mulai menikmati suasana ruangan ini lama-lama dia memejamkan matanya dan terlelap.


Sedangkan Ardianto berbicara dengan Raka dan beberapa petinggi partai. Raka ditanyai oleh berbagai macam pertanyaan mengenai Cindy dan keterlibatannya.


"Aku memang salah dan aku sudah menjelaskan semuanya pada kalian duduk permasalahannya. Aku tidak menyangka jika dia berani berbuat itu."


"Sekarang bagaimana cara kita keluar dari masalah ini yang jadi pertanyaannya," ujar penasehat partai. Bagaimanapun Raka adalah sosok anak muda yang berhasil dan jadi ikon partai. Namanya tidak boleh tercemar oleh hal seperti ini jika tidak maka berimbas pada nama baik partai juga pada perusahaannya.


"Kita bisa mengalihkan perhatian publik jika kau menikah atau punya istri secepatnya. Kau bisa mengatakan jika video itu kau lakukan bersama dengan istri dirimu. Kini kau sedang mendaftarkan pernikahanmu ke penghulu," ujar lainnya.


"Menikah?" Raka tertawa. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menikah dengan wanita manapun.


"Ya!" kata semua orang dalam ruangan itu menatap Raka lekat. Raka terdiam dan duduk lemas bersandar di kursinya.


"Aku tidak punya calon istri," kata Raka.


"Bagaimana kalau menikah dengan anak bungsuku," ucap Pak Setiawan salah satu petinggi partai.


"Dengan putriku pun boleh, aku dengan senang hati akan menerima Pak Ardianto menjadi besan," Pak Rudi bendahara Partai pun mengajukan putrinya.


"Sudah, sudah, biar Raka sendiri yang menentukan calon istrinya."


Raka menghela nafas lega. "Namun aku memberimu waktu hingga nanti malam untuk menentukan calon istri yang akan kau ajukan pada kami untuk kau nikahi."


"Yah, aku mau menikah, bukan mau beli bakso atau baju," ujar Raka.


"Maaf Tuan-tuan saya dapat berita terbaru tentang Raka," kata seseorang yang masuk ke dalam ruang rapat itu.


Dia lalu menyalakan layar besar dan menghubungkannya ke komputer. Di sana terlihat berita online terkini dari akun Bibir Dower Klewer.


Tersebar foto Raka yang keluar tadi bersama intan dari rumahnya, lalu foto kedua saat Intan memeluk Raka di jalan dan yang ketiga foto Raka dan Intan yang masuk ke dalam rumah Ardianto.


"Wow, cepat sekali mereka tahu," ujar Raka terkejut.


"Kau lihat judulnya, 'Wanita dibalik video Raka Permana'," ujar orang itu.


"Kau telah menyeret wanita tidak bersalah dalam pusaran masalahmu," kata Ardianto.


"Mau tidak mau kau harus nikahi dia, jika ingin nama baik kita pulih seperti semula dan masa depan wanita itu tidak hancur," imbuh Pak Rudi.


Raka memejamkan matanya sesaat. Dia lalu bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Berikan aku waktu untuk berbicara dengannya," katanya sebelum membuka pintu dan menutupnya kemudian.


Raka lalu berjalan mencari keberadaan Intan. Dia menemukan wanita itu sedang tidur bersandar di sofa sembari membuka mulutnya keatas.


Raka lalu duduk di sebelah Intan, memandanginya dan mulai berpikir.


"Pernikahanku akan diadakan tiga bulan lagi dan harus dibatalkan. Haruskah aku menyerah, jika itu kulakukan maka ibuku akan menderita serangan jantung karena terkejut."


Perkataan Intan yang sedang mabuk terngiang di kepala Raka. Haruskah dia menikahinya?


Jika iya, alasan apa yang akan dia gunakan untuk melakukannya. Intan bukan wanita yang mudah untuk dia taklukkan. Dia bahkan tidak melirik pada ketampanan atau kekayaan nya. Dia seperti anti pati padanya.


Intan membuka matanya tatkala merasakan sentuhan di pipinya. Dia langsung melonjak kaget ketika tahu jika Raka ada di dekatnya.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Intan mengusap matanya. Raka tersenyum. Intan lalu melihat sekitarnya dan sadar jika dia berada di rumah ayah Raka. Bapak Ardianto terhormat yang sering dia lihat ada di layar televisi.


Intan kembali lagi meletakkannya kepalanya di sandaran kursi. "Apakah aku sudah boleh pulang?"


"Boleh, hanya saja kau bukan seperti Intan yang dahulu," kata Raka.


"Maksudnya?" Intan lalu duduk dengan tegap.


Raka membuka gambar foto dirinya dengan Intan yang tersebar di media online pada wanita itu. Dia juga membuka video antara dirinya dengan seorang wanita, hanya saja wajah dan tubuh wanita itu tidak terlihat jelas, hanya tubuh Raka dari belakang saja yang terlihat.


Intan lalu menutup mulutnya tidak percaya dengan berita yang beredar.


"Sudah kukatakan kau itu musibah dan kutukan. Aku selalu saja menemui sial jika berjumpa denganmu. Bagaimana ini? Hidupku hancur karenamu. Mereka mengira jika itu aku," isak Intan bingung.


"Bagaimana nasib orang tuaku dikampung, mereka pasti malu karena punya anak aku. Lalu bagaimana aku akan berdiri tegap di depan semua orang, mereka pasti mengira aku adalah wanita murahan. Padahal aku tidak pernah bermain api dengan pria hanya... ," Intan menangis keras. Raka memberikan kotak tisu padanya.


"Semua masalah ini akan selesai jika kau mau menikah denganku. Aku janji nama baikmu akan pulih seperti semula jadi kau tidak perlu menundukkan wajahmu pada semua orang. Orang tuamu juga akan bangga karena punya menantu sepertiku," ujar Raka tapi mendapat lemparan bantal dari Intan.


"Tidak ada orang tua yang bangga menikahkan anaknya dengan pria tukang kawin sepertimu," kata Intan.


"Apa aku sebegitu buruk bagimu?" tanya Raka.


"Entahlah, tapi terus terang aku tidak suka dekat denganmu," jawab Intan jujur. "Aku bahkan geli bila melihat wajahmu." Intan mengatakannya dengan ekspresi jijik.


Wajah Raka menjadi pias. Wajah tampannya terlihat menjijikkan bagi wanita di depannya? Raka menghembuskan nafas keras.


"Intan bagaimana jika kau sedang hamil anakku?" tanya Raka memulai sandiwara.


"Memang kita benar-benar melakukanya," tanya Intan.


"Apa kau lupa? Aku bahkan mengingat caramu menciumku lalu kita mandi bersama di kamar mandi...." Tangan Intan membekap mulut Raka.


"Sudah jangan cerita lagi, membuatku illfeel saja," ujarnya menekuk wajah. Memalingkan wajah ke arah samping.


"Padahal semua wanita akan merasa bangga bila bisa bersamaku."


"Aku ingin bertanggung jawab dengan menikahimu?" kata Raka membuat Intan terkejut, lalu dia jatuh tidak sadarkan diri seketika.


"Intan, Intan," panggil Raka. Ardianto yang mendengar teriakannya langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Kau apakan calon menantuku?''


"Aku tidak melakukan apapun hanya mengajaknya menikah saja," kata Raka bingung.


***


Mampir ke Gadis Untuk Presiden Ya, cerita keluarga yang easy dan manis-manis lucu dan favoritkan.


Like, vote dan komennya