
"Sebenarnya ada masalah apa Faira hingga kau mau bercerai dengan suamimu," tanya Ayah Faira ketika sedang berbicara dengan anaknya di istana Tulip.
"Kami sudah tidak cocok!" jawab Faira menusukkan garpu ke daging dengan asal. Kepalanya dia sangga dengan satu kirinya.
"Aku dengar dia menikah lagi," pancing ayahnya. Ardianto Permana.
Faira menegakkan kepala melihat ke arahnya untuk sejenak lalu menunduk kembali. Dia mendesah.
"Aku kira, sebaiknya dia menikah lagi sebelum aku mengajukan cerai agar ada yang mengurusinya."
"Kau yang menginginkan dia menikah lagi?" tanya Ardianto.
"Iya, kami bercerai karena Pernikahan itu tanpa cinta hanya karena sebuah kesalahan besar semata. Lalu aku memutuskan untuk melanjutkan hidup tanpa harus bersamanya."
"Apa yang membuatmu tidak bahagia hidup bersamanya?" tanya Ardianto menatap anaknya.
Faira meletakkan sendok itu di meja dan mendesah. Matanya terlihat memerah.
"Aku baru sadar jika Ditya bukan orang yang aku cintai. Selama ini aku berpikir hanya dia pria paling sempurna nyatanya aku mencintai pria lain," kata Faira jujur tidak ingin ayahnya menyulitkan hidup Ditya ke depannya.
"Kau jatuh cinta pada pria lain?"
"Ya, Ayah namun aku pendam perasaan itu hingga saat ini. Bagaimana pun aku tetap menghormati Ditya sebagai suamiku," ujar Faira.
"Faira kau salah!" seru lirih Ardianto.
"Aku tahu aku salah," ujar Faira menunduk.
"Kau seharusnya belajar mencintai suamimu bukannya mencintai pria lain!"
"Maaf Ayah," ucap Faira.
"Bukan ayah tapi Ditya! Ayah malu, ayah kira Ditya yang berbuat semena-mena padamu nyatanya kau dulu yang memulai masalah ini," kata Ardianto lalu berdiri. Dia tidak suka dengan kelakuan Faira yang mempermainkan sebuah pernikahan.
Faira memejamkan matanya lalu mengusap air mata yang sempat menetes.
Faira lalu berjalan menuju ke kamarnya. Baru tadi pagi dia pulang kembali ke istana Tulip nama yang ibunya berikan untuk mansion megah mereka. Ibunya sangat menyukai bunga tulip hingga dulu menanam pohon tulip dengan perawat khusus setelah ibunya meninggal semua pohon itu ikut mati namun nama ini tetap tidak terganti.
"Faira," panggil Renata ibu tiri Faira.
Faira menatap malas pada wanita matang itu. Dia berusia 38 tahun, lebih muda dua puluh tahun dari ayahnya. Faira tahu jika Renata itu hanya menyukai yang ayahnya. Tanpa ayahnya, hobi melancong dan belanja tidak akan bisa dilakukannya.
Renata lalu duduk di sebelah Faira.
"Aku dengar kau akan bercerai dengan Ditya?" tanya Renata mengambil satu buah apel dan menggigitnya.
"Bukan urusanmu," jawab Faira ketus. Dia hendak berdiri namun Renata mengajukan pertanyaan yang menusuk hatinya.
"Apa kau tidak bisa membahagiakannya hingga suamimu harus menikah dengan wanita lain!"
"Apa maksudmu, 'Tante'?" tanya Faira sinis.
"Kau tahu maksudku Faira, suami akan mencari kebahagiaan hidup dengan wanita lain jika mereka merasa 'Tidak Puas'," ucap Renata menekankan kata akhirnya lalu tersenyum senang karena bisa menikam Faira saingan beratnya untuk memperoleh harta Ardianto.
"Apa aku harus melakukan operasi payudara dan tubuh bagian belakang ku agar Ditya tertarik, Tante?"
Wajah Renata memerah mendengar sindiran Faira.
"Jika ayahku puas dan bahagia denganmu dia akan menikahimu secara sah bukan menjadikanmu simpanan saja," ujar Faira berdiri dan melangkah pergi tetapi sebelum dia mencapai pintu ruang makan dia berbalik.
"Tante Renata sepertinya kau perlu melakukan operasi hidung lagi, karena hidungmu terlihat tidak simetris membuat kau terlihat seperti penyihir jahat," ejek Faira sebelum naik ke atas kamarnya.
"Kurang ajar sekali anak itu," ujar Renata kesal. Jika dia bukan anak kesayangan Ardianto dia sudah lama menyetrika mulut anak itu.
Renata lalu mengambil kaca dalam tasnya dan melihat hidung hasil operasi yang dia lakukan di Texas sebulan yang lalu.
"Bagus tidak ada yang kurang," ujar Renata