
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Intan kikuk ketika mereka mulai makan. Intan tadi mengambil selimut dan menutupi bagian tubuh bawahnya dengan itu.
"Aku hanya merasa gerah melihatmu mengenakan pakaian itu," jawab Raka jujur apa adanya sembari memasukkan makanan dalam mulutnya.
"Gerah? Udara di kamar ini sudah dingin, bahkan terlalu dingin untukku," timpal Intan santai, padahal dalam hatinya dia tahu apa maksud 'gerah'.
"Kalau dingin kita main yang panas-panas yuk," ajak Raka.
"Kau jangan memancingku, aku tidak akan tertarik padamu. Kau bukan tipeku," kata Intan.
"Bukan tipe tetapi mencium terlebih dahulu." Perkataan Raka membuat Intan terdiam lalu melengos ke samping dan makan.
"Kita akan berapa hari di sini?" tanya Intan.
"Hanya sampai besok pagi setelah itu kita kembali ke Indonesia. Jika ayah pulang setelah acara selesai dia ada rapat dengan Anggita dewan yang lain."
"Kenapa tidak sekalian berjalan-jalan dulu di sini. Sayangkan, sudah datang jauh kemari cuma hanya menghadiri satu acara saja."
Raka terdiam lalu melihat ke arah Intan dan mencondongkan tubuhnya. "Aku akan membawamu jalan-jalan ketika kita honeymoon nanti, kau bisa memilih kemana kau akan pergi," goda Raka.
Intan menatap tajam pria itu. "Apa pikiranmu tidak bisa beralih dari soal ************ saja?"
"Tidak jika ada barang indah didepan mata," jujur Raka.
"Pergi saja keluar cari keindahan yang lainnya saja. Aku bukan untukmu, dunia kita berbeda," jawab Intan meletakkan piring yang telah bersih ke atas troli lalu beranjak pergi dari sana menuju ke tempat tidur. Namun, Raka menginjak ujung selimut Intan sehingga selimut itu jatuh ke tanah.
Wajah Intan memerah seketika dia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan Raka dengan berani, berhenti di depannya.
"Sebegitu, inginkah kau menyentuh diriku hingga merencanakan ini semua?"
Raka lalu menarik tangan Intan sehingga jatuh di pangkuannya. Meletakkan tangannya di pipi lembut Intan.
"Hanya jika kau menginginkannya pula," kata Raka. Intan tersenyum manis tetapi tiba-tiba langsung berubah dia mendorong keras tubuh Raka ke belakang dan bangkit pergi seraya mengambil selimutnya lalu kembali ke tempat tidur.
"Aku tidak akan pernah menginginkan pria sepertimu," tegasnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut itu hingga menutupi wajah.
Raka menggelengkan kepalanya. Wanita aneh, batinnya. Dia tidak tersinggung ditolak oleh wanita itu malah bersyukur. Setidaknya mereka tidak perlu melakukan kesalahan yang akan mereka sesali nantinya.
***
Seperti biasanya awal pagi bersama Intan dibarengi oleh teriakan dan kehebohan. Mereka sama-sama terbangun kesiangan padahal rencananya Raka harus tiba di rumah Faira pagi sebelum jam delapan.
Ardianto membangunkan mereka dari tidurnya. Dia saja heran bagaimana bisa Raka yang selalu tepat waktu, kini bisa sering kali bangun kesiangan. Apakah mereka sering kali melakukan itu hingga lupa waktu sehingga kelelahan di pagi harinya?
"Ayo, cepat bangun, kita harus ke apartemen Faira sekarang!" perintah Ardianto membangunkan anak dan menantunya yang sedang tidur sambil berpelukan. Lebih tepatnya Raka memeluk tubuh Intan dari belakang.
Intan dan Raka lalu membuka matanya dan melihat Ardianto berada di depan mereka.
"Ayah!" teriak keduanya bersamaan. Ardianto memperlihatkan jam ditangannya yang menunjukkan jarum pendek di angka 6 dan jarum panjang diangka delapan.
"Kita harus cepat datang ke rumah kakek Evan untuk menjadi saksi pernikahan Faira," kata Ardianto.
Raka langsung bangkit, sedangkan Intan tetap duduk memegang selimutnya. Dia malu terlihat masih kacau di depan bapak mertuanya.
Raka lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Intan tetap duduk di sana menunggu sang suami keluar dari kamar mandi sembari membereskan tempat tidurnya. Tetapi dia mengikat asal rambutnya ke atas.
Tidak lama kemudian Raka keluar dari kamar mandi, melihat Intan dan tampilannya yang menggoda hati.
Setengah mati dia menahan diri semalam untuk tidak melakukan hal lebih padanya. Namun, kini dia ingin melakukan sesuatu sebagai bayaran atas kesabarannya semalam.
Raka berjalan pelan mendekati wanita itu lalu mulai menyergapnya dari belakang. Dia membiarkan kulitnya yang basah menyentuh kulit Intan yang hangat.
Intan terkejut dan meronta. "Aku tidak ingin melakukan lebih hanya ingin memelukmu sebentar." Bisik Raka di belakang Intan.
Intan terdiam. Sedangkan Raka memeluk tubuh itu erat dan mencium tengkuknya, membuat tubuh wanita itu menggeliat.
"Raka, jika kau melakukan lebih, kau hanya akan menambah lukaku," kata Intan setengah mendesis ketika pria itu menghisap kulitnya.
"Kita tahu bahwa kau sendiri tidak bisa berkomitmen pada satu wanita, maka lepaskan aku! Biarkan aku tetap di jalanku."
Dengan berat hati Raka melepaskannya tetapi sebelum itu dia membalikkan tubuh Intan. Menyentuh bibirnya.
"Satu kecupan saja dan perlu kau ketahui aku bukan pengidap HIV," ucap Raka dibibir Intan.
"Hari ini satu kecupan lain kali kau akan meminta lebih. Sedangkan aku bukan wanita yang sekuat itu untuk menahan keinginanmu," ujar Intan.
Raka hanya mengecup Intan cepat lalu tersenyum dan melepaskannya.
"Aku sudah memikirkan tentang semua yang kau katakan. Karena itu hingga sekarang aku masih menahan diri. Tetapi aku janji tidak tahu sampai kapan aku bisa melakukannya, mungkin suatu saat batas kewarasanku akan hilang dan langsung menubruk mu," ucap Raka mengambil pakaiannya di koper. Intan hanya terpaku menatapnya saja.
"Sebaiknya aku pergi terlebih dahulu. Nanti pukul 11, aku akan menjemputmu ke tempat adikku," kata Raka.
"Jangan kau berpikir aneh. Aku hanya ingin melihatmu tampil apik nanti. Jika terburu-buru kau tidak akan bisa berdandan dengan sempurna."
"Gombal!" ucap Intan berlalu pergi ke kamar mandi dan tersenyum.
"Aku tidak menggombal hanya saja aku suka pada wanita cantik dan rapi. Jika kau ingin membuatku jatuh cinta maka berhiaslah secantik mungkin setiap saat.''
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan tawaranmu karena aku tahu membuat jatuh cinta seorang Raka itu mustahil dilakukan. Lebih baik aku mencari pria lain yang akan mengejarku mati-matian, dari pada aku mengejar dirimu yang tidak pasti." Intan lalu menutup pintu kamar mandi.
"Wanita yang realistis dan pandai. Dia benar untuk apa mengejarku yang tidak bisa mencintainya namun harus kuakui dia sangat cantik dan cantiknya natural tidak dibuat-buat."
"Akh!" teriak Intan dari kamar mandi.
Raka lalu berlari ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Ada apa Intan?" tanya Raka cemas. Tidak lama kemudian Intan membuka pintu.
"Kau berbohong padaku!" ucap Intan wajahnya terlihat sangat marah. Raka sendiri tidak tahu apa maksud ucapan wanita itu.
"Bohong apa?"
"Aku datang bulan dan ini membuktikan jika aku masih gadis belum tersentuh sama sekali, benarkan?"