
Faira langsung menutup mulut Ello dia takut mulut kecil itu mengatakan semuanya. Semua yang hanya Ditya dan Faira ketahui.
Evan melihat ke arah Faira, menautkan kedua alisnya. Mencoba meraba apa yang Faira sembunyikan.
"Sebaiknya kita pergi sekarang jika tidak kita tidak punya waktu untuk berjalan-jalan karena ini sudah jam dua siang dan kita telah melewati makan siang," ujar Faira mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Evan lalu melihat jam tangannya dan membenarkan ucapan Faira.
"Kau benar," kata Evan. Faira bisa bernafas lega dia mengusap keringat di dahi setelah Evan masuk ke dalam ruang kemudi.
"Kita tidak usah ke tempat apa itu tadi, kita jalan-jalan saja mengelilingi kota Kansas kota pusat perjudian," ajak Faira. Ketika mereka sudah berada di dalam
"Baiklah tetapi sebaiknya kita mencari tempat makan terlebih dahulu."
"Drive thru saja, Om, aku ingin ayam goreng dengan kentang gorengnya yang crispy," Ello lalu menjilat lidahnya sendiri.
"Baiklah kita ke restoran cepat saji."
Mobil lalu melaju pelan mencari sebuah restoran cepat saji. Akhirnya mereka menemukan sebuah restoran dengan logo kakek tua berwarna merah. Evan memarkirkan mobilnya mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Suasana dalam restoran itu terlihat lenggang karena ini telah melewati waktu makan siang. Mereka lalu memilih satu tempat duduk di pinggir tembok yang terbuat dari kaca tebal.
Faira duduk bersama Ello dan Evan duduk dihadapan mereka. Ibu dan anak itu terlihat bercanda dan tertawa bersama. Rasa hangat mulai melingkupi hari Evan. Jika ini adalah keluarga maka akan sangat membahagiakan untuknya.
Seorang pramusaji datang dengan memakai pakaian berwarna putih dengan celemek yang menutupi tubuh bagian depan.
"Selamat siang, kalian ingin pesan makanan apa?" tanya Pramusaji itu.
"Aku mau ayam goreng dengan kentang ekstra banyak," jawab Ello cepat.
Pelayan itu mulai mencatat makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah itu pergi untuk mengambil pesanan mereka.
Ello terlihat antusias dia berbicara terus dari tadi. Evan menanggapi pertanyaan Ello namun lebih banyak terdiam selebihnya Faira yang menjawabnya jika Evan tidak tahu harus menjawab apa. Sebuah panggilan telephon mengusik kebersamaan mereka. Rupanya dari Kendrick. Evan lalu meminta ijin pada semua orang pergi.
Entah apa yang dibicarakan oleh pria itu namun pembicaraan itu terlihat serius, Evan beberapa kali menatap ke arah Faira dan Ello. Selesai menelfon, Evan melihat mereka lama sembari menyunggingkan sebuah senyuman. Wajahnya terlihat lega. Faira mulai berpikir keras. Apa yang Evan pikirkan? Batin Faira.
Pria itu lalu berjalan kembali ke meja dan di saat itu makanan datang. Mereka mulai mengambil pesanan. Mereka mulai makan. Faira membantu Ello untuk makan terlebih dahulu. Namun, Ello menolak karena dia merasa sudah besar.
"Aku bisa makan sendiri, Mom," ujar Ello.
"Biarkan saja Fay, dia ingin belajar mandiri," kata Evan.
"Namun akan berantakan," sanggah Faira.
"Fay, kau harus membebaskan anakmu agar dia bisa berkembang dengan baik," ujar Evan.
"Namun dia belum bisa melakukannya dengan benar."
"Fay, jika kau terlalu mengendalikannya kapan dia akan mandiri."
Faira meletakkan sendoknya. Dia menatap Evan tajam. "Tahu apa kau tentang anak, aku yang mengandung dan membesarkannya!"
Evan menarik nafas dalam sembari memejamkan matanya. Kata-kata Faira terasa menusuk untuknya.
"Aku tidak tahu itu, maaf!" ucapnya dengan suara tercekat.
Setelah itu, Faira dan Evan terlihat banyak terdiam. Hingga sampai di perjalanan mereka tidak mengatakan apa-apa. Sedangkan, Ello asik memandangi jalanan kota itu. Mereka lalu berhenti di pusat kota dan mulai berjalan kaki.
Hingga Faira yang lelah meminta pulang ke rumah. Namun, Ello masih enggan dia suka menikmati harinya.
Akhirnya ketika gelap mereka sampai di hunian. Ello yang lelah tertidur di mobil. Evan langsung membawa Ello masuk ke hunian dengan menggendongnya. Sedangkan Faira berjalan di belakang Evan. Ketika masuk ke dalam rumah itu, dia melihat beberapa orang keluar masuk kamar yang berada di sebelah kamar Evan.
Salah seorang wanita dengan pakaian resmi mendatangi Evan mereka mulai berbicara sejenak. Evan menganggukkan kepalanya dan semua pekerja itu pergi meninggalkan apartemen.
Evan kembali melangkah masuk ke dalam kamar mereka. Kata mereka terasa menggelikan untuk Faira.
"Evan, mengapa mereka kemari?" tanya Faira.
"Untuk membuat kamar Ello," jawabnya sembari menyelimuti tubuh Ello.
"Aku kira kau bercanda sewaktu mengatakan akan membuatkan kamar untuknya. Namun, buat apa toh kami hanya sebentar saja di sini."
"Dia anakku berhak atas semua milikku," jawab Evan mengambil baju di lemari dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau tidak usah melakukannya!"
"Kenapa?" tanya Evan tetap berjalan tanpa melihat ke arah Faira. Faira tetap mengikuti langkah Evan karena penasaran sehingga dirinya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Karena Ello akan tergantung padamu nantinya," kata Faira.
"Aku Ayahnya dan dia bisa meminta apapun padaku, apa kau keberatan Fay?" Evan lalu menutup pintu kamar mandi setelah mereka di dalam. Membuat Faira terkejut dan dia baru sadar mereka berada di tempat yang tidak seharusnya.
Dia ingin berbalik tetapi tangan Evan bergerak di samping kanan kiri Faira, bertumpu pada pintu, mengungkungnya. Wajah Faira berubah pias seketika. Dadanya naik turun dengan cepat.
"Aku ingin keluar Evan!" seru Faira malu dan marah.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau keberatan?" kata Evan mencondongkan tubuhnya sehingga wajah mereka sangat dekat hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan.
Bibir Evan di depannya yang penuh menjadi fokus Faira. "Ayolah Faira kau tidak bisa tergoda akan pesonanya untuk kedua kali. Itu namanya bodoh," batin Faira.
"Bukan begitu aku hanya tidak nyaman berada di dekatmu," ucap Faira dengan suara bergetar. "Jika kau terus mendekati Ello membuatku terusik."
"Mengapa kau terusik, bukankah kau sudah mempunyai suami tidak seharusnya kau menyimpan perasaan untuk pria lain dan membuat kau tidak nyaman?" bisik Evan di telinga Faira.
Faira terdiam. Untuk kedua kalinya dia merasa bersalah karena mengkhianati Ditya.
Evan tiba-tiba menarik rambut Faira pelan membuat wanita itu menengadah menatap dirinya. Faira menelan Salivanya dalam-dalam.
"Katakan kau tidak merindukan aku!" tanya Evan. Manik biru mata Evan selalu saja bisa membius Faira. Setiap kata yang hampir terucap hilang seketika menguap bersama deru nafas mereka yang menjadi satu.
Pipi Evan lalu digesekkan ke pipi Faira.
"Untuk apa aku merindukanmu," ucap Faira namun matanya terpejam menikmati kesalahan ini.
"Katakan kau membenciku Faira karena aku meninggalkanmu," desah Evan sembari bibirnya menelusuri pipi Faira hingga berada di atas bibirnya.
Faira mengepalkan kedua tangannya erat. Matanya masih terpejam air mata mulai keluar membasahi pipinya yang seperti pualam.
"Aku begitu kecewa padamu dan aku sangat membencimu!"
Evan mengecup jejak air mata Faira.
"Kenapa kau membenciku? Apa karena kau sangat mencintaiku dan menaruh harapan besar yang tiba-tiba saja kupatahkan?"