
Intan merapikan dasi di leher Raka. Pria itu lalu mencium leher istrinya. Menyesapnya dan menjilati kulitnya yang halus dan putih. Kedua tangannya berada menekan pinggul istrinya
"Geli, Raka," kata Intan. Menarik kepala Raka agar menjauh.
"Jika kau terus seperti ini kau tidak jadi mengikuti pertemuan dengan para direksi," ucap Intan melepaskan pelukan suaminya dan mengambil jas hitam lalu mengenakan jas itu ke tubuh Raka.
"Sebetulnya aku malas berangkat kerja, kau seperti membuat candu untukku," kata Raka.
"Semoga selalu terus seperti itu," jawab Intan dengan rasa getir.
"Apa kau belum percaya padaku?" tanya Raka.
"Semua butuh proses dan waktu tidak semudah itu hatiku percaya dengan mantan Don Juan sepertimu. Sungguh bukan aku mengecilkan hatimu, tetapi aku sudah berusaha keras agar aku tidak jatuh hati padamu," ujar Intan menyerahkan tas kerja Raka.
"Karena itu kau selalu marah dan ketus padaku," ujar Raka.
"Itu sebagai bentuk pertahanan diri," bela Intan sembari merapikan tempat tidur mereka yang berantakan.
"Lalu sekarang kau menyerah pada diriku dan pesonaku?" tanya Raka memegang tangan Intan.
"Aku bukan menyerah pada cintamu tetapi aku menyerah pada nafsuku sendiri. Kita berdua sama-sama sudah dewasa dan tidur dalam satu ranjang secara terus menerus tanpa ada rasa cintapun bisa melakukannya."
"Berarti kau tidak jatuh cinta padaku?"
"Lalu aku membalikkan pertanyaan sama padamu, apakah kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Intan menatap mata Raka. "Jujurlah pada hatimu tidak perlu kita berpura-pura cinta tetapi pada akhirnya saling menyakiti."
"Aku tidak tahu namun aku hanya ingin kau menjadi milikku," jawab Raka jujur.
"Jadi aku seperti barang yang ingin kau miliki? Egois."
"Aku ... ."
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Maaf Tuan, hari sudah siang kita harus pergi sekarang juga," seru Kenan.
"Kita akan membicarakan ini nanti malam," kata Raka mencium pipi Intan.
"Aku akan ke tempat temanku," kata Intan pada Raka.
"Untuk apa?" tanya Raka. "Untuk mencari perkerjaan? Kau tidak akan pernah mendapatkannya," ucap Raka. Meninggalkan Intan.
"Apa maksudmu?" tanya Intan berlari mengikuti Raka.
"Aku hanya ingin istriku di rumah menungguku pulang bukan pergi bekerja bersama pria lain." Raka terus berjalan keluar dari rumah.
"Apakah kau yang membuat mereka menolak lamaranku," seru Intan. Raka lalu mengecup pipi Intan sebelum masuk ke dalam lift.
"Pikirkan sendiri," jawab Raka lalu masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup. "Tunggu aku nanti malam."
Intan lalu melihat ke arah pria berpakaian sekuriti di depan lift.
"Apa kau juga anak buah Raka untuk menjaga tempat ini?"
Pria itu menganggukan kepalanya.
"Berapa unit apartemen di lantai ini yang dihuni oleh pemiliknya?" pria itu mengangkat bahunya ke atas.
"Oh, sial. Ternyata selama ini kami hidup seperti di rumah besar itu dengan penjagaan dan pengawasan penuh," rutuk Intan dalam hati. Mengapa dia tidak menyadarinya sedari kemarin akan hal ini?
***
Sedangkan di tempat lain Evan sedang menemani istrinya dan anak mereka ke tempat kuliner. Pagi-pagi sekali Faira bangun dan meminta nasi lontong sayur. Makanan apa itu Evan saja tidak tahu. Dia lalu mencarinya di halaman pencarian internet tentang makanan itu.
Faira memaksa sehingga mereka keluar tanpa mengganti pakaian, masih mengenakan baju tidur. Sedangkan Ello digendong oleh Evan pergi ke mobil.
"Rasanya akan berbeda jika kita makan ditempatnya langsung."
"Apakah kita akan makan di sebuah restoran?"
"Tidak ada restoran yang menjual makana itu sepagi ini," ujar Faira berjalan di depan. Dia hendak duduk di kursi pengemudi tetapi Evan mencegahnya.
"Biar aku saja yang menyetir kau hanya perlu menunjukkan jalannya."
Ello sendiri masih tertidur di kursi penumpang bagian belakang sedangkan Faira melihat pinggiran jalanan yang masih lenggang karena ini baru jam lima pagi.
"Yang benar saja Faira nama ada pedagang yang jual makanan jam segini?" tanya Evan.
"Ada, kau saja yang tidak pernah bangun pagi dan mencari makanan," ujar Faira tetap fokus pada jalan di depannya.
"Evan lihat itu ada deretan penjual makanan pagi," teriak Faira senang. Evan lalu memelankan laju mobilnya di saat itu sebuah truk datang ke arah mereka.
"Awas!" teriak Faira menutup wajahnya.
Evan membanting stir ke kiri sehingga naik ke trotoar dan hampir saja menabrak pedagang yang ada di pinggir jalan.
Bruk! Prang!
Truk itu lalu melarikan diri. Sedangkan kepala Evan terantuk stir mobil dan Faira pun hampir terantuk dashboard hanya saja balon penyelamat keluar di saat yang tepat.
Ello menangis karena terjatuh dari kursi penumpang.
Beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu langsung menyelamatkan mereka. Ello menangis keras di gendong oleh seorang pria sedangkan Evan yang langsung keluar lalu membantu Faira yang sedang shock.
"Kau baik-baik saja?" tanya Evan. Faira menganggukan kepalanya menatap Evan. Evan lalu membantu Faira keluar dari mobil. Lalu memeluknya.
"Ello," panggil Evan khawatir. Anak itu lalu diserahkan kepada Evan.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Evan sembari memeriksa tubuh Ello dengan teliti lalu mendekapnya setelah tahu keadaan anak itu baik-baik saja.
"Sepertinya pengemudinya ngantuk dan oleng, Pak," seru seseorang.
"Tapi truk itu berhasil kabur," timpal yang lain.
Faira mengeratkan pelukannya pada Evan.
Evan hanya terdiam memikirkan semuanya. Ketiga orang itu lalu di arahkan ke sebuah bangku dan duduk di sana, di beri segelas air putih untuk menenangkan diri.
Evan lalu melihat gerobak yang ditabraknya itu penyok dan terjungkal di tanah. Itu adalah gerobak penjual opor ayam sehingga kuah makanan itu tumpah kemana-mana.
"Biar nanti saya yang mengganti kerugian Bapak," kata Evan pada penjual yang dia tabrak gerobaknya.
"Kita pikirkan nanti, Pak, yang penting Bapak dan Ibu menenangkan diri dulu. Istri dan anak Anda terlihat shock," kata pedagang itu. Evan menatap Faira dan mengusap kepala istrinya itu dan menciumnya.
"Aku takut," lirih Faira.
"Semua akan baik-baik saja." Evan mengusap punggung Faira dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya mendekap Ello dan mencium pucuk kepalanya.
Dia mulai berpikir apakah kecelakaan itu ada unsur kesengajaan atau tidak? Jika ada siapa yang melakukannya?
Ayahnya dan Robin masih di Amerika. Apakah mereka juga tega akan membunuhnya dan seluruh keluarganya.
"Om, apa yang terjadi mengapa aku terjatuh dan mengapa gerobak itu serta mobilnya hancur?" tanya Ello yang melihat sekeliling.
"Tadi kamu hampir saja terkena kecelakaan untung saja Ayahmu masih bisa menghindar," terang orang di dekat mereka.
"Ayah? Dia adalah om Evan bukan ayahku," kata Ello.
"Kalian terlihat sangat mirip.