
Beberapa hari bersama Evan membuat Faira lupa akan masalahnya bersama dengan Ditya. Evan benar-benar memperlakukannya seperti wanita istimewa dalam hidupnya.
Siang ini rencananya mereka akan pergi ke Bedugul untuk menghabiskan akhir pekan bersama.
Faira yang telah siap berdiri di depan kamar Evan namun pria itu belum juga membuka pintunya. Faira lalu memberanikan diri untuk menarik knop pintu itu. Ternyata tidak terkunci Dia lalu masuk ke dalam kamar Evan.
"Evan... Evan ... ," panggil Faira namun hanya bunyi gemericik air yang terdengar. Lalu suara keran air yang mulai tertutup. Faira hendak melangkah kembali ke luar kamar ketika mengetahui Evan baru saja selesai mandi. Namun, terlambat pria itu telah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di kecil yang menutup bagian terpenting dari tubuhnya.
Faira melebarkan matanya yang cantik. Dia lalu membalikkan tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu sendiri. Tubuh Evan sangat kekar dan bau harum sabun mandi itu serasa menggoda di indera penciumannya.
"Maaf, aku memanggilmu dari tadi namun tidak ada yang membuka dan aku tahu jika pintu itu tidak terkunci jadi aku masuk untuk mencarimu namun ternyata ... ," ucap Faira dengan hati yang berdebar. Kakinya terasa sangat lemas sepertinya dia tidak mampu untuk melangkah pergi.
"Aku ... ," kata Faira hendak melangkah pergi namun Evan memeluknya dari belakang.
"Evan?!" seru Faira lirih dengan dada yang naik turun.
"Biarkan tetap seperti ini sebentar saja," kata Evan.
"Faira, aku tidak akan lama berada di sini," ucap Evan. "Kau pun akan kembali kepada suamimu," lanjutnya mencium tengkuk Faira membuat tubuh Faira bergetar. Semua bulu romanya naik.
Faira bisa merasakan sesuatu yang keras mengenai belakang tubuhnya. Dia membayangkan tangan besar pria itu melepaskan satu persatu bajunya dan ... . Tubuhnya menggigil seketika.
'Tenang Faira kau tidak boleh terlibat asmara yang dalam dengan pria itu.'
Tangan Faira berusaha untuk melepaskan pelukan Evan. Evan yang merasakan penolakan Faira lalu melepaskan pelukannya.
"Evan aku tidak ingin hubungan kita terlalu dalam," kata Faira maju beberapa langkah lalu membalikkan tubuhnya.
"Aku akan melakukannya jika kau menginginkannya dan tidak akan memaksamu," tegas Evan sedikit kecewa tetapi dia paham jika Faira akan menolaknya.
"Terima kasih. Aku hanya ingin hubungan sementara saja selama kita masih berada di sini karena kita tidak saling mengenal," ucap Faira.
"Kau yang menutup dirimu dan tidak kau kita saling mengenal lebih jauh," ujar Evan.
"Akan berbeda jika kita bertemu ketika status kita sama-sama bebas. Sayangnya aku milik pria lain yang tidak mencintaiku," ujar Faira keceplosan. Dia lalu menutup mulutnya sendiri. "Bodoh.''
Evan menaikkan satu alisnya.
"Aku akan menunggumu di luar," kata Faira meninggalkan ruangan itu.
Dia memegang dadanya yang berdegub kencang. Evan selalu bisa membuatnya terpesona. Seharusnya dia marah karena sikap tidak sopan pria itu, tetapi dia malah menyukainya.
"Faira kau gila."
Sepuluh menit kemudian Evan keluar dengan memakai stelan baju casual. Bagi Faira Evan adalah pria paling menarik yang dilihatnya. Dengan tinggi hampir 180 cm, rambut ikal cokelat yang di tata dengan model rambut crew cut ala Amerika, rambut bagian samping dan belakang saja yang lebih tipis, sementara bagian atasnya tetap dibiarkan panjang hingga 2 sentimeter. Dan di sisir rapih membentuk jambul.
Mata biru yang bersinar indah, bulu mata yang gelap serta tulang rahang yang tinggi dan berbentuk persegi. Dia memakai jaket bercorak army dipadukan dengan celana tiga perempat bercorak senada. Dalaman baju pria itu adalah kaos abu-abu tanpa lengan.
Faira menarik nafasnya, dia hanya perlu bersikap tenang dan sedikit dingin seolah dia adalah wanita yang tidak tertarik padanya.
Tatapan Faira bertemu dengan tatapan Evan matanya mengerjap berkaki-kali. Kemudian bibir pria itu mengembangkan senyuman yang begitu lebar sehingga membuat Faira lupa untuk bersikap tenang dan tidak peduli.
"Kau memandangiku terus ... .'' tanya lelaki itu.
"Aku saja yang menyetir, aku mengenal jalan ini dengan baik," kata Faira.
"Aku saja yang menyetir kau akan menjadi penunjuk jalanku."
Evan membukakan pintu mobil Jeep untuk Faira. Sebelum naik ke mobil Faira membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Evan jarak wajah mereka sangat dekat sehingga Surai rambut Faira yang tertiup angin mengenai wajah Evan.
"Evan apakah kita akan menginap di sana?" tanya Faira.
"Kita lihat saja nanti," jawab Evan, Faira menatapnya dengan wajah yang ditekuk membuat Evan gemas.
Wajah Evan mendekat, "Jangan menatapku terus, membuatku ingin mencicipi labium merahmu yang menggoda itu."
Faira mengatupkan bibirnya rapat. Satu kecupan singkat mendarat di pipinya membuat wajahnya memerah dan tubuhnya membeku seketika. Dia merasa melayang.
"Evan kau," ucap Faira namun pria itu telah duduk di kursi pengemudi.
"Ayo Faira kau menunggu apa?" teriak Evan.
Faira lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu naik ke mobil Jeep itu.
"Faira katamu mengenal daerah ini?" tanya Evan.
"Aku pernah hidup di sini selama tiga tahun bersama Kakak," kata Faira.
"Waktu yang cukup lama untuk menetap di Bali."
"Ibuku baru saja meninggal, untuk mengusir kesedihanku kakak mengajakku tinggal di Bali," cerita Faira. Kakaknya tidak pernah membiarkan dirinya terluka maka dari itu ketika Ditya tidak bisa membahagiakannya Raka membuat Raka berang hingga ingin membunuh pria itu. Namun, Faira yang terlihat sangat melindungi Ditya membuat Raka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kakakmu pasti sangat menyayangimu," cetus Evan.
"Sangat, dia sangat menyayangiku," jawab Faira.
Evan lalu terdiam. Evan telah meminta orang guna menyelediki siapa Faira. Tidak banyak yang bisa diberikan oleh informan itu karena data milik Faira dilindungi oleh seorang yang penting dalam pemerintahan. Sehingga dia tahu jika wanita ini bukanlah wanita sembarangan. Selama ini mungkin dia sangat dijaga ketat sehingga dia jarang bergaul dan tidak tahu bagaimana itu ciuman walau umurnya telah dewasa.
''Apa kau haus?" tanya Faira yang membuka sebotol minuman jus jeruk. Dia lalu meneguknya.
Evan yang merasa haus lalu mengambil botol Faira dan menghabiskannya. Faira sedikit terkejut namun dia tertawa kecil.
Semilir angin jalanan menerpa rambutnya yang panjang. Faira mulai membuka jaket yang dia gunakan dan duduk di atas sandaran kursi menikmati udara sejuk sepanjang jalan.
"Kau seperti telah mengenal daerah ini?" tanya Faira.
"Aku sering melakukan perjalanan ke Bali dan jika aku ingin berlibur aku pasti kemari."
"Apa pekerjaanmu," tanya Faira memiringkan tubuh melihat ke arah Evan.
"Kenapa? Apakah kau ingin melanggar kesepakatan kita untuk tidak bertanya tentang hal pribadi?"
Evan meminggirkan mobilnya dan menghentikan laju kendaraannya.
"Katakan 'ya' Faira maka aku akan melamarmu," tawar Evan membuat Faira terpaku.