
Faira dan Evan datang ke rumah Raka namun tidak menemukan kakaknya. Dia lalu bertanya pada penjaga gerbang di sana kemana kakaknya berada.
"Oh, Bapak Raka ada di apartemen di daerah Kuningan bersama istrinya," ujar penjaga itu.
"Sejak kapan kakak punya istri mengapa tidak mengatakannya padaku?" kata Faira kesal. Evan menutup wajahnya kesamping. Akhirnya berita skandal percintaan Raka yang mereka simpan dari Faira selama ini terbongkar juga.
"Sudah dua bulan ini eh belum apa ya, pokoknya sejak lama, hanya saja baru terekspos dua bulan ini," terang penjaga itu.
"Baiklah aku akan ke rumah ayah saja kalau begitu," kata Faira lemas merasa kecewa karena tidak ada yang memberitahunya soal pernikahan itu. Dia merasa kakaknya begitu tega menyembunyikan ini darinya. Sopir yang menjemput mereka lalu memundurkan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Raka.
"Kakak menikah dan tidak ada yang memberitahuku, keterlaluan," umpat Faira geram.
"Kita dengar dulu alasan mereka," saran Evan.
"Apapun alasannya hanya aku saudaranya tetapi mereka tidak memberitahuku," kata Faira.
"Kita bisa tanyakan hal ini pada Ayah nanti, sekarang sebaiknya kita kembali saja ke rumah ayahmu," ajak Evan.
"Oh, aku malas sekali melihat Renata," kata Faira.
"Bagaimana pun dia adalah istri ayahmu dan kau harus menghormatinya."
"Istri ayah bukan ibuku," tegas Faira. Evan hanya mendengus saja. Mereka lalu terdiam. Faira dan Evan baru saja datang kembali ke negeri ini. Rencananya mereka akan melakukan resepsi pernikahan satu Minggu lagi.
Persiapan semua sudah diatur oleh WO, mereka hanya tinggal fitting baju serta gladi resik lalu datang ke tempat acara di hari H.
Ello tertidur di pangkuan Evan. Anak itu sekarang lebih dekat dan manja kepadanya dari pada dengan Faira.
"Aku penasaran dengan wanita yang menikah dengan kakak, siapa kira-kira ya?'' kata Faira.
"Dia pasti wanita cantik dan baik hingga membuat Kakak terpikat," lanjutnya lagi.
"Dia juga pasti cerdas sehingga membuat kakak menyetujui pernikahan ini. Seorang pengusaha kah? Atau seorang model cantik? Bukan pasti anak rekan ayah, atau mungkin mereka dijodohkan?" gumam Faira sendiri. Evan yang mendengar memijat kepalanya yang terasa pusing akibat perjalanan jauh ditambah dengan pikiran Faira yang mengira jika wanita itu sangat istimewa. Kenyataannya Raka menikah karena skandal video syur dirinya dan wanita itu. Bagaimana jika Faira tahu akan hal ini?
Mereka sampai di rumah Ayah Ardianto. Di sana Renata yang menyambutnya di depan pintu.
"Oh, pengantin baru datang," kata Renata tersenyum dan ingin memeluk Faira. Faira terdiam kaku tidak membalas pelukan itu. Renata selalu menganggapnya musuh dari awal sehingga dirinya enggan untuk pura-pura manis padanya. Untung dia bukan Cinderella yang akan diam saja diperlakukan buruk oleh istri muda ayahnya.
"Kalian tega sekali tidak mengundangku ikut serta ke acara pernikahan kalian kemarin." basa basi Renata yang terdengar basi.
"Pesawat jetnya telah penuh," kilah Faira masuk ke dalam rumah.
"Oh kau bisa saja. Evan kita sudah bertemu sebelumnya di acara pesta ulang tahun perusahaanmu. Namun sebaiknya kita berkenalan karena belum pernah melakukannya. Kenalkan namaku Renata, ibu tiri Faira."
"Kau hanya istri ayah bukan ibuku, okey!" kata Faira membalikkan tubuhnya.
"Maaf jika kau harus mendengar pertengkaran kami," kata Renata bersikap sopan dan elegan pada Evan.
Sepeninggal Evan, Renata mendapat telepon dari seseorang.
"Aku tidak bisa datang sekarang atau selama sebulan ini karena anak dari suamiku baru datang dari Amerika dan tinggal di tempat ini. Dia tidak boleh tahu jika aku suka keluar rumah tanpa sepengetahuan suamiku." Renata melihat sekitar ketika menjawab telepon itu. Dia lalu berjalan mencari tempat aman untuk menjawab panggilan. Tempat yang sepi dan tersembunyi.
"Kau harus sabar jika berhubungan denganku karena aku punya seorang suami berpengaruh."
"Okey, aku harap kau mengerti. Ya, Bye sayang," jawab Renata pada penelfon itu yang rupanya kekasih gelapnya.
Faira sendiri langsung berbaring di tempat tidurnya dia lalu mulai menghubungi ayahnya dan memberitahu jika dia sudah sampai di rumah. ayahnya berjanji akan pulang setelah kunjungan kerja ke tempat terpencil di wilayah Banten. Faira hanya menghela nafas.
Evan lalu duduk di sebelah Faira setelah membaringkan Ello di tempat tidur. "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku masih memikirkan kakak," ujar Faira dengan nada sedih.
"Dari pada memikirkan kakakmu yang belum tahu kabar beritanya lebih baik kita membicarakan tentang rencana resepsi pernikahan kita."
"Aku bukan orang yang ribet aku akan menyetujui rencana apapun yang telah dirancang oleh pihak WO," kata Faira.
"Apa kau tidak ingin sesuatu yang akan membuat spesial pernikahan ini?" tanya Evan.
"Aku ingin kue pengantin yang tinggi. Lebih tinggi dari pada tinggi tubuhku," ucap Faira.
"Hanya itu?" tanya Evan.
"Bunga Lili bertebaran di mana-mana," imbuh Faira.
"Kalau itu aku sudah pesan dari awal. Aku tahu jika kau sangat menyukai mawar dan Lily jadi aku memesankan banyak bunga itu untuk pernikahan kita berdua," terang Evan.
"Kau tahu segalanya tentang diriku dan aku belum tahu tentangmu," kata Faira menatap Evan.
"Aku begitu mencintaimu dan tergila-gila padamu hingga ingin tahu segalanya tentangmu sebelum masuk keduniamu. Agar aku tahu bagaimana caranya membuatmu bahagia karena aku sadar selama ini aku hanya membuatmu menderita," kata Evan sedih.
Satu jari Faira dia letakkan ke bibir Evan. Lalu tersenyum miring.
"Aku beruntung karena dicintai oleh pria sepertimu. Aku juga berterimakasih karena kau memilihku menjadi pendamping hidupmu serat aku ingin selalu mengatakan jika aku mencintaimu jadi jangan bahas tentang. masa lalu lagi. Kita nikmati saja apa yang ada dihadapan kita," ungkap Faira.
Evan menangkup pipi Faira lalu mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu, menyatukan dua bibir mereka sehingga terdengar bunyi decapan dari kegiatan yang mereka lakukan. Tubuh Faira selalu terbakar jika mendapat sentuhan dari Evan. Dia begitu terlena. Sedangkan Evan begitu semangat menggiring wanita itu dalam gairahnya yang mulai terbakar.
"Ibu, Om apa yang kalian lakukan?" tanya Ello yang terbangun dan melihat kegiatan panas itu di depan matanya.
Evan dan Faira langsung menghentikan gerakan mereka dan menoleh ke arah Ello. Mereka seperti maling yang sedang kepergok mencuri. Wajah mereka terlihat pucat dan panik.
"Kau sudah bangun?" tanya Evan pada Ello.
"Om, mengapa kau melakukan itu pada Ibu?" tanya Evan yang Posesif membuat Evan tidak tahu harus menjawab apa. Faira sendiri hanya bisa menghela nafas panjang dan menurunkan bahunya sedikit. Drama akan segera dimulai.