Affair (Faira)

Affair (Faira)
Partner Ranjang



"Intan sudah tidur jangan ganggu dia," ucap Raka.


"Kau siapa Intan?" tanya Robin dari balik telepon.


"Aku suaminya! Raka Permana," ujar Raka memutuskan panggilan itu.


Dia lalu melepaskan semua baju yang melekat pada tubuhnya hanya menyisakan celana boxer saja. Lalu pergi membersihkan diri ke kamar mandi.


Setelah itu dia kembali ke tempat tidur dan mulai mengambil piyama setelah itu dia mengambil pekerjaannya laptop dan mulai kembali bekerja.


Di tengah malam Intan terbangun karena haus. Dia mulai membuka matanya dan melihat Raka masih bekerja dengan serius. Sejenak dia memandangi pria itu.


Pria itu tampan, hanya saja berbahaya. Dia harus memberi jarak lebih dengannya agar tidak ada celah yang bisa menyakitinya ke depan dikarenakan kedekatan mereka yang akan berujung pada perpisahan.


Dia ingin menikah satu kali seumur hidup seperti kedua orangtuanya namun kini harapan itu telah habis. Raka membuat mimpinya hilang tanpa bekas. Dia memberinya pilihan konyol yang tidak bisa dia tolak. Nama baik keluarganya hancur atau menikah dengannya.


Dia marah, kesal, benci pada pria itu namun tidak bisa karena bagaimana pun dia tetap suaminya. Suami yang hanya tinggal menghitung hari saja. Karena mungkin saja pernikahannya hanya sebulan saja atau dua bulan atau bahkan lebih pendek.


Bayangan menjadi janda di umurnya yang masih muda menjadi momok menakutkan untuknya tetapi itu jelas akan terjadi. Walaupun dia berusaha pada akhirnya mereka akan berakhir. Dia tahu mengapa itu akan berakhir karena Raka tidak bisa mencintai wanita manapun dan dia sudah tahu itu sejak lama.


Jikapun dia terlibat hubungan secara emosional bersama Raka yang ada hatinya akan terluka kemudian. Dia tidak ingin jatuh ditempat yang sama untuk kedua kalinya. Cukup hanya Bram saja yang melakukan hal itu padanya tidak Raka.


"Kau sudah bangun?" tanya Raka menoleh pada Intan.


"Aku haus," jawab Intan mengalihkan pandangannya lalu bangkit dan berjalan mengambil air mineral. Setelah mengambil dan meminum air itu dia membuka koper dan mengambil baju tidur, lebih tepatnya lingerie dengan model sama dari kemarin, hanya berbeda warna saja. Warna merah hati.


Dia sedang tidak ingin mengatakan apapun mengenai ini, dia hanya pergi ke kamar mandi memakainya, menyikat gigi dan mencuci muka lalu kembali lagi tempat tidur.


Raka melirik menatapnya tetapi kembali lagi dia memfokuskan diri pada layar laptop.


Intan kembali ke tempat tidurnya, duduk bersandar lalu menyelimuti bagian bawah tubuhnya dengan selimut.


"Berhentilah bekerja, besok masih ada waktu lagi," kata Intan yang miris melihat hidup Raka yang hanya dipenuhi oleh pekerjaan saja. Dia pikir menjadi seorang atasan itu enak tinggal memerintah saja ternyata setelah bersama pria itu kini dia sadar bahwa perkerjaannya tidak semudah itu. Raka bahkan harus lembur setiap malam untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Melihat Raka tidak menggubris perkataannya Intan maju. Merenggangkan satu tangannya di layar laptop. Raka melihat ke arahnya.


"Tubuhmu juga punya hak untuk istirahat," ucap Intan pelan.


"Intan pekerjaanku menumpuk karena ... ," perkataan Raka terputus ketika jari telunjuk Intan ada di bibirnya.


"Besok akan kubantu sekarang tidurlah. Aku yang melihatmu saja sudah lelah apalagi kau yang mengerjakannya," katanya.


"Sebentar lima menit lagi," ucap Raka. Lima menit untuk menyelesaikan sebagian pekerjaannya dan menutup laptop. Dia lalu meletakkan laptop itu ke meja dan kembali ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Intan.


"Raka tolong naikkan suhu kamar ini, dingin" pinta Intan menghadap ke arahnya. Raka suka dengan Intan yang seperti ini, lemah lembut.


Bukannya menaikkan suhu AC Raka malah menarik tubuh Intan kepada tubuhnya sehingga kulit mereka saling bersentuhan langsung membuat wajah Intan seketika memerah.


"Apa yang kau lakukan!" seru Intan.


"Kau bilang dingin, maka kupeluk biar hangat."


"Kau modus," ujar Intan terus terang.


"Bisa dibilang begitu," ucap Raka.


"Jangan bergerak atau aku akan melakukan hal lebih," ancam Raka. Intan merasakan sesuatu bergerak di bagian belakang tubuhnya diantar mereka berdua.


"Raka... ," lirih Intan takut.


"Kau takut," bisik Raka yang mencium aroma Intan yang menggoda.


"Dia tidak akan melakukan hal lebih jika kau tidak menginginkannya," ucap Raka meletakkan dagunya di bahu Intan membuat wanita itu geli.


"Apakah kau selalu melakukan seperti ini pada semua wanita?"


"Tidak! Mereka yang akan bergerak terlebih dahulu memuaskan ku," ucap Raka terus terang. Intan mend-esah.


"Kenapa?" tanya Raka.


"Buruk sekali nasib wanita yang akan jadi istrimu karena tidak mungkin akan memilikimu sepenuhnya," kata Intan.


"Kau lupa jika kau itu istriku," kata Raka.


"Aku hanya istri palsumu," cetus Intan sakit.


"Kenapa tidak jadi istri yang sebenarnya?" tanya Raka.


"Hubungan itu dilandasi atas dasar kepercayaan dan cinta. Sedangkan kau tidak bisa menawarkan itu padaku. Jika hanya sebatas kesenangan saja maka suatu hari akan ada kebosanan yang berakhir pada rasa ingin saling menyakiti. Aku tidak inginkan itu."


Raka terdiam keinginannya yang kuat untuk menyentuh Intan lenyap seketika. Lesu di bawah sana.


"Apa yang kau katakan memang benar, aku tidak bisa menawarkan dua hal itu padamu," kata Raka. Intan membalikkan tubuh, menghadap ke arah Raka.


"Jika aku memang berasal dari sini." Intan menunjuk ke dada Raka. "Kita akan saling merasa nyaman yang berujung pada cinta. Tetapi jika tidak, walaupun kita selalu bersama tidak akan pernah ada rasa."


Raka tersenyum. Dia memang telah bersama banyak wanita tetapi mereka hanya menawarkan kesenangan walau mereka sendiri mengatakan itu adalah cinta. Namun, kali ini pikirannya menjadi berbeda. Intan mengatakan sesuatu yang dia ketahui itu, tetapi rasanya berbeda ketika mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan mantan kekasihmu, bukankah mencintainya?"


"Aku kira dulunya itu cinta namun setelah kupikirkan tidak, karena cintaku tidak bisa membuatnya nyaman dan tetap setia padaku. Aku sadar jika aku bukan bagian dari dirinya karena jika aku bagian darinya, dia akan merasakan sakitku walaupun aku tidak mengatakannya."


"Dan dia mengabaikanmu?"


"Yah, dia meninggalkan aku walau hubungan kami telah berlangsung selama tiga tahun. Lucunya kita tiga hari bersama lalu menikah."


"Berarti kita jodoh," ujar Raka.


Intan menatap pria itu.


"Kita lihat saja nanti tentang perasaan kita. Kau bebas bersama wanita lain dan aku akan menjalani hidupku lagi. Jika pada akhirnya ternyata kita saling jatuh cinta, kita akan memulai hubungan lebih namun jika tidak cukup jadi partner ranjang saja," cetus Intan.


"Partner ranjang, kau tahu apa artinya itu?''


"Teman satu ranjang, tetapi kita tidak akan melakukan hubungan lebih," kata Intan.


"Kau yakin?!" Mata Raka mulai menggelap. Intan lalu menutup tubuhnya dengan selimut.